Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2015

Sebuah Sikap Bijak dalam Kehidupan

Kondisi seseorang berubah-ubah, adakalanya dia memperoleh kenikmatan duniawi yang melimpah, namun terkadang diterpa kemiskinan dan kepapaan, didera sakit, didekati usia senja dan dibuat tak berdaya di masa tuanya. …

 
  62  0
flower spring wallpaper
Kondisi seseorang berubah-ubah, adakalanya dia memperoleh kenikmatan duniawi yang melimpah, namun terkadang diterpa kemiskinan dan kepapaan, didera sakit, didekati usia senja dan dibuat tak berdaya di masa tuanya.
Kondisi sakit dapat mengubah perangai seseorang dari sikap bijak menjadi tak sanggup menahan kesusahan. Demikian juga dengan usia senja, dapat melemahkan mentalnya sebagaimana fisiknya yang semakin melemah. Begitu pula dengan kenikmatan berupa kekuasaan, yang mengubahnya menjadi lebih sering mengabaikan sahabat-sahabatnya. Sama juga dengan popularitas, terkadang menjadikan manusia bersikap angkuh.
Oleh karena itu, alangkah baiknya jika seorang telah memiliki mentalitas dan kemuliaan yang tinggi, berusaha memantapkan hatinya untuk bersikap sederhana dalam keadaan senang maupun susah. Imam Ibnu Qutaibah rahimahullahmengatakan: “Disebutkan dalam kitab Kaliilah wa Dimnah: ‘Orang yang bijak tidak menjadi sombong karena kedudukan dan kebesaran, bagaikan gunung yang diterpa angin kencang yang dahsyat. Sedangkan orang yang dungu menjadi sombong karena kedudukan yang paling rendah sekalipun, bagaikan rumput yang bergoyang meski hanya dihempus angin sepoi-sepoi’.
Seorang teladan dari kalangan bangsawan yaitu Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Diceritakan bahwa ketika menjabat sebagai khalifah, suatu hari beliau pergi menuju masjid pada waktu sahur dengan ditemani pengawal. Beliau melintasi seorang laki-laki yang sedang tidur di jalanan. Tanpa sengaja kaki beliau menyandung tubuh laki-laki tersebut sehingga secara spontan dia berseru “Kamu ini gila ya?”. Lantas beliau menjawab “Tidak”. Melihat kejadian itu, pengawal beliau ingin sekali menghajar laki-laki itu, namun khalifah segera berseru “Bersabarlah! Orang itu hanya bertanya kepadaku ‘kamu ini gila ya?’ dan sudah aku jawab ‘tidak’”.
Beliau seorang bangsawan, seorang pemimpin yang layak mendapatkan penghormatan, sanjungan, dan kemuliaan. Sedangkan perkataan yang seperti itu adalah bentuk perendahan yang sungguh tidak layak. Namun dengan kedudukannya, beliau lantas tak menjadi angkuh. Perkataan yang demikian itu beliau jawab dengan respon tanpa berlebihan.
Teladan lain, apabila kita menginginkan contoh yang paling mengesankan tentang sikap kesederhanaan pada saat senang maupun susah, maka telusurilah perjalanan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tak pernah berpaling dari sikap zuhud terhadap dunia, walaupun seujung jari.
Begitu juga dengan kecekatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di jalan dakwah. Beliau terus menerus menyeru manusia ke jalan petunjuk dan agama yang benar sehingga mengalami berbagai gangguan dari kelompok yang berbuat aniaya, namun beliau tidak membalas dan malah memaafkannya.
Maka benarlah perkataan Ibnul Jauzi rahimahullah yang menyatakan, “Siapa saja yang memperhatikan lautan dunia dan mengetahui kiat menghadapi gelombangnya serta menyadari cara bersabar dalam mempertahankan hidup, niscaya dia tidak akan berkeluh kesah tatkala musibah menerpanya dan tidak pula terlalu gembira ketika nikmat menyapanya”.
Dari dua teladan tersebut, marilah kita memandang diri kita. Apa jabatan kita jika dibandingkan dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, dan apa kedudukan kita dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Pantaskah kita ketika dicela membalas dengan perkataan hina? Dan pantaskah kita ketika diperlakukan dengan kasar membalasnya dengan amarah? Tidak. Tidaklah pantas wahai saudariku.
Sikapilah segalanya dengan bijak. Sebagaimana sebuah hadits yang agung telah menyebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
Artinya, “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Segala keadaan yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila mengalami kebaikan dia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa keburukan maka dia bersabar, dan hal itu merupakan kebaikan bagi dirinya.” (HR.Muslim).
——
Dikutip dari Buku Mental Juara, 50 Faktor Pendukung Mentalitas Muslim Juara. (terjemah kitab Al Himmah Al ‘Aliyah) Karya Dr. Muhammad bin Ibrahim al Hamad. Penerbit Pustaka Imam Asy Syafii, Jakarta
Artikel www.muslimah.or.id
Sumber: http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/sebuah-sikap-bijak-dalam-kehidupan.html

Senin, 04 Maret 2013

Sebuah Untaian Nasehat dalam Muhasabah dan Motivasi Taqwa


Segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla yang telah mencukupkan orang yang bertawakkal kepada -Nya:

قال الله تعالى: {وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا} [الطلاق: 3]

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) -Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (QS. Al Thalaq: 3)

Dan barangsiapa yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla maka dia akan benar dan diberikan petunjuk:

قال الله تعالى: {وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ} [غافر: 44]

Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya". (QS. Gafir: 44)

Dan barangsiapa yang menjaga diri dengan perlindungan Allah maka Dia pasti menjaga dan melindunginya:

قال الله تعالى: {فَاللّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ} [يوسف: 64]

Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (QS. Yusuf: 64)

Dan barangsiapa yang berpegang teguh dengan kitab Allah Subhanahu wa ta’alla dan sunnah Rasul -Nya maka dia akan mendapat petunjuk dan menjadikannya sebagai kekasih:

قال الله تعالى: {أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاء الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ} [النمل: 62]

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya). (QS. Al Naml: 62)

Aku memuji Allah Shubhanahu wa ta’alla , memohon ampunan dan bertaubat kepada -Nya, dan barangsiapa yang datang kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla untuk bertaubat kepada -Nya maka Dia akan menerima taubat hamba tersebut, dan barangsiapa yang mendatangi pintu-pintu Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan penuh penyesalan maka hendaklah dia mendekat kepada -Nya:

قال الله تعالى: {مَّا يَفْعَلُ اللّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ وَكَانَ اللّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا} [النساء: 147]

Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Nisa’: 147)

Maha Suci Allah Shubhanahu wa ta’alla yang selalu turun pada setiap malam ke langit dunia, Dia menyeru para hamba-Nya, bagi orang yang bertaubat maka Aku akan menganugerahkan taubat kepadanya, untuk orang yang memohon ampunan maka Aku akan mengampuni kesalahan-kesalahannya. Dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Subhanahu wa ta’alla , Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya, tiada yang berhak disembah selain Dia, dengan kesaksian yang aku simpan sampai diriku bertemu dengan -Nya:

قال الله تعالى: {مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ} [الأنعام: 160]

Barang siapa membawa amal kebaikan maka baginya (pahala)sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). (Al An’am: 160).

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shalallahu’alihi wa sallam adalah hamba dan utusan -Nya, yang telah dipilih dan diistimewakan-Nya, maka beliau adalah orang yang paling baik dalam menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla dan paling mengetahui jalan yang lurus. Beliau tidak pernah sekali-kali menyembah tuhan selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepadanya, kepada para keluarga dan para shahabat beliau, yaitu shalawat yang memenuhi seisi langit dan bumi.

Amma Ba’du: Wahai sekalian manusia, aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri untuk selalu bertaqwa kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla , itulah wasiat yang paling agung, dan berpegang teguhlah dengan kitab Allah Shubhanahu wa ta’alla , Tuhan kalian dan sunnah Nabi kalian, sebab berpegang teguh pada keduanya adalah ikatan yang paling kuat:قال الله تعالى: {لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ} [البقرة: 256]Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.. (Qs. Al Baqarah: 256)

قال الله تعالى: {وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ} [آل عمران: 103]

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. (QS. Ali Imron: 103)

قال الله تعالى: {وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ} [الأنفال: 46]

“dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal: 46)

Dan waspadalah terhadap perbuatan dosa, dan sungguh merugi orang yang berbuat kezaliman, dan janganlah dirimu terlalu berani terhadap Allah Shubhanahu wa ta’alla Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dengan meninggalkan segala perintah -Nya dan melanggar apa-apa yang dilarangnya baik dalam keadaan lupa atau sengaja, sehingga mengakibatkan diri kalian dilupakan oleh Zat Penolong kalian, sebab Dia telah mendatangkan ayat-ayat -Nya kepada kalian sehingga kalian berhak dilupakan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dan kalian termasuk ke dalam golongan orang-orang yang disebutkan di dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: {قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى} [طه: 125- 127]

Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan". Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal". (QS. Thaha: 125-127)

Wahai sekalian kaum muslimin. Hendaklah kalian menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar karena kalian hidup di zaman orang-orang yang menangguhkan dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Dan jika kalian tidak melakukannya yaitu tidak menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar maka akan mengakibatkan kehancuran sebuah negeri yang sebelumnya makmur dan hal tersebut telah kalian ketahui, banyak kaum yang telah disiksa oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla karena kezaliman dan jauhnya mereka dari -Nya:

قال الله تعالى: {وَمَا ظَلَمَهُمُ اللّهُ وَلـكِن كَانُواْ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ} [النحل: 33]Dan Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri. (QS. Al-Nahl: 33)

قال الله تعالى: {وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ} [القصص: 59]

Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. (QS. Al-Qososh: 59).

قال الله تعالى: {وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِن بَعْدِ نُوحٍ وَكَفَى بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًَا بَصِيرًا} [الإسراء: 16، 17]

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba -Nya. (QS. Al-Isro’: 16-17).

Di antara dosa besar adalah meremehkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan Nabi Muhammad shallallau alaihi wa sallam bersabda, "Sungguh hendaklah kalian menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar atau Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menguasakan kepada kalian penguasa yang zalim, tidak menghormati yang besar dan tidak menyayangi yang kecil, lalu orang terbaik di antara kalian berdo’a kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla namun do’anya tidak diperkenankan, lalu kalian meminta pertolongan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla namun kalian tidak diberikan pertolongan -Nya”.

Bagaimana Allah Subhanahu wa ta’alla akan menolong mereka dan memperkenankan do’a mereka sebab Dia telah menegaskan makna ini di dalam kitab -Nya:

قال الله تعالى: {وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [الأنفال: 25]

Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. Al-Anfal: 25).

Di dalam sebuah hadits di dalam riwayat Abu Dawud bahwa Nabi Muhammad shallallau alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya jika suatu masyarakat telah melihat orang yang berlaku zalim tapi mereka tidak mencegahnya maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menimpakan kepada mereka siksa kepada mereka semua”.

Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahwa perkara ini sangat berbahaya sedangkan umur manusia itu singkat, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha Melihat, serta Maha mengetahui perkara yang terang dan yang tersembunyi, maka barangsiapa yang menghendaki keselamatan pada hari pembalasan maka hendaklah dia menyimpan taubat yang sebenarnya, dan barangsiapa yang menghendaki keteguhan saat menghadapi kematian dan keselamatan setelah kematian maka hendaklah dia berbuat untuk kepentingan hari akheratnya. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ} [القصص: 83]

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.(QS. Al-Qososh: 83).

Barangsiapa yang selalu bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta’alla maka sungguh dia telah berpegang teguh dengan salah satu faktor yang menyebabkan kemaslahatan, dan barangsiapa yang dilalaikan oleh kepentingan dunia dari taat kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla maka dia telah menghina agamanya, dan barangsiapa yang merasa aman dari siksa Allah Shubhanahu wa ta’alla maka dia telah merugi dengan kerugian yang nyata. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٩٦ أَفَأَمِنَ أَهۡلُ ٱلۡقُرَىٰٓ أَن يَأۡتِيَهُم بَأۡسُنَا بَيَٰتٗا وَهُمۡ نَآئِمُونَ ٩٧ أَوَ أَمِنَ أَهۡلُ ٱلۡقُرَىٰٓ أَن يَأۡتِيَهُم بَأۡسُنَا ضُحٗى وَهُمۡ يَلۡعَبُونَ ٩٨ أَفَأَمِنُواْ مَكۡرَ ٱللَّهِۚ فَلَا يَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ} [الأعراف: 96- 99]

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu mata hari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah Subhanahu wa ta’alla (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’rof: 96-99).

Wahai sekalian hamba Allah Subhanahu wa ta’alla , takutlah kepada -Nya, dan perhatikanlah perintah dan larangan Allah Shubhanahu wa ta’alla , serta ambillah pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu dan ambillah ibrah dari perjalanan hidup mereka:

قال الله تعالى: {وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ} [آل عمران: 132]
“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.”. (QS. Ali Imron: 132).

قال الله تعالى : {فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ} [لقمان: 33]

Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah Subhanahu wa ta’alla (QS. Luqman: 33).

Sehingga kalian tidak termasuk golongan orang-orang yang telah difirmankan oleh Allah:

قال الله تعالى: {أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا} [الفرقان: 44]

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS. Al-Furqon: 44).

Atau termasuk ke dalam golongan orang-orang yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa ta’alla di dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: {۞إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ٱلصُّمُّ ٱلۡبُكۡمُ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡقِلُونَ ٢٢ وَلَوۡ عَلِمَ ٱللَّهُ فِيهِمۡ خَيۡرٗا لَّأَسۡمَعَهُمۡۖ وَلَوۡ أَسۡمَعَهُمۡ لَتَوَلَّواْ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ} [الأنفال: 22، 23]

Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah Subhanahu wa ta’alla ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun. Kalau kiranya Allah Subhanahu wa ta’alla mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah Subhanahu wa ta’alla menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jika Allah Subhanahu wa ta’alla menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). (QS. Al Anfal: 22-23).

Semoga Allah Subhanahu wa ta’alla memberikan keberkahannya bagiku dan bagi kalian semua di dalam Al-Qur’an yang mulia, dan Allah Subhanahu wa ta’alla memberikan manfaat bagiku dan bagi kalian dengan ayat-ayat –Nya Yang Maha Bijaksana yang tertera di dalamnya. Hanya inilah yang bisa saya sampaikan dan aku memohon ampunan bagi diriku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin kepada Allah Subhanahu wa ta’alla yang Maha Mulia dari segala dosa. Mohonlah ampun kepada -Nya dan bertaubatlah kepada Allah Subhanahu wa ta’alla, sebab Dia adalah Zat Yang Pengampun lagi Maha Penyayang.

Khutbah Kedua

قال الله تعالى: {الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ} [سبأ: 1]

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa ta’alla yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi -Nya (pula) segala puji di akhirat.. Dan Dia -lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Saba’: 1)

Yang Mengampuni dosa dan Menerima tobat lagi keras hukuman-Nya; (QS. Gafir: 3)

Aku memuji Allah Subhanahu wa ta’alla Yang Maha Tinggi, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Subhanahu wa ta’alla, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan -Nya, semoga Allah Subhanahu wa ta’alla mencurahkan shalawat dan salam serta keberkahan kepada beliau, kepada para keluarga, kepada para pengikut beliau hingga hari kiamat.Amma Ba’du: Takutlah kepada Allah Subhanahu wa ta’alla dan ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan kita di dunia ini, dan memberikan nikmat kepada kita dalam kehidupan ini dengan nikmat yang besar, menurunkan bagi kita sebuah kitab yang agung yang penuh dengan berbagai perintah dan larangan, dan Dia memerintahkan kepada kita untuk beramal dengannya selama hidup di dunia ini, dan memberitahukan kepada kita bahwa seluruh makhluk ini akan berpindah menuju alam pembalasan:

قال الله تعالى: {كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ} [آل عمران: 185]

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. (QS. Ali Imron: 185).

Bahkan Allah Ta’ala telah memberitahukan bahwa Dia menciptakan hidup dan mati untuk menguji hamba –Nya, siapakah di antara mereka yang baik amalnya.

قال الله تعالى: {تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ١ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ} [الملك: 1، 2]

Maha Suci Allah Subhanahu wa ta’alla Yang di tangan -Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk: 1-2).

Wahai sekalian hamba Allah Subhanahu wa ta’alla . Di dalam Al-Qur’an banyak sekali terdapat larangan dan perintah -Nya yang mengetuk pintu-pintu telinga manusia, dan seandainya larangan dan perintah tersebut diturunkan kepada gunung-gunung maka kalian akan melihat gunung tersebut tunduk dan luluh karena takut kepada Allah Subhanahu wa ta’alla, padahal gunung tersbut kokoh, kuat dan perkasa. Al-Qur’an menceritakan tentang kedahsyatan hari akherat yang penuh dengan berbagai siksa yang pedih sehingga menyebabkan anak kecil beruban:

قال الله تعالى: {وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُم بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ} [الحج: 2]

“…dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras”. (QS. Al-Haj: 2).

Telah datang kepada kita peringatan yang memperingatkan kita akan berlalunya hari-hari dan semakin berkurangnya umur, orang yang tertimpa kematian datang silih berganti siang dan malam.

Wahai sekalian hamba Allah Subhanahu wa ta’alla , sudah pantas bagi orang yang berakal, yang menyadari dirinya diciptakan untuk sebuah hikmah yang tinggi, dan menyadari bahwa dirinya akan mati setelah kehidupan ini, dan dirinya tidak mengetahui di bumi manakah dia akan mati, saat kapankah dirinya mati, manusia juga menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang akan menemaninya dan tidak ada yang memberikan manfaat apapun baginya saat dirinya telah berpindah dari alam yang fana ini menuju alam yang abadi kecuali apa yang telah dipersembahkannya selama hidup di dunia berupa kebaikan dan petunjuk.

Bertaqwalah kepada Allah Subhanahu wa ta’alla dan taatilah Dia dalam apa yang diperintahkannya untuk bertaqwa kepada-Nya, taatilah Allah Subhanahu wa ta’alla saat Dia memerintahkan kepada kalian untuk berlomba-lomba dalam menunaikan amal sholeh, arahkanlah diri kalian, konsistenlah dalam beramal shaleh, peringatkanlah pribadi-pribadi kalian dengan manfaat dan pengaruh positif amal shaleh. Peringatkanlah bahwa kematian itu akan diundur karena kalian berniat melakukan amal shaleh, sebab bisa jadi saat berfikir bahwa kematian itu lebih dekat dari tali sandal atau urat lehernya.

Hanya ini yang bisa saya sampaikan, ucapkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.



Penulisnya adalah Muhammad bin Abdullah bin Mu’aidzir

Sabtu, 02 Maret 2013

Mengusir Penyakit Malas

Iman seseorang pastilah mengalami pasangsurut, naik dan turun sesuai dengan kadar ketaatan. Semakin kuat dan semangat dalam ketaatan, maka hal itu sebagai indikasi imannya sedang naik. Sebaliknya, iman akan berkurang dengan kemaksiatan. Jiwa manusia sifatnya bagaikan anak kecil, harus terus dilatih agar ter­biasa dengan ketaatan. Nah, ketika rasa malas menghampiri dalam jiwa, harus ada usaha menepisnya, agar tidak terus-­menerus terkurung dalam rasa malas yang tiada henti.

Bagaimanakah cara jitu untuk menepis rasa malas yang meng­hampiri?

Macam-macam malas

Sifat malas ada dua macam:
Pertama: Malasnya akal, tidak memakainya un­tuk berpikir dan merenungi ciptaan Allah atau bisa juga tidak menggunakan akal untuk sesuatu yang memperbaiki dirinya, berupa dunia dan ke­ hidupannya. Tidaklah kemunduran sebuah kaum kecuali karena sebab malasnya orang­orang yang berakal dan sedikitnya orang yang mau meman­faatkan kekuatan pikiran pemberian Allah ini.

Kedua: Malasnya badan. Yaitu mencakup seluruh anggota badan. Malas ini akan membawa kemun­duran individu. Berpengaruh pada keadaan suatu kaum dalam bidang pertanian, industri, dan se­lain keduanya.

Sebab-sebab malas

1. Tabiat manusia itu sendiri

2. Pendidikan di rumah

3. Lingkungan dan masyarakat

4. Sedikitnya pendidik dan teladan yang baik

5. istri dan anak

6. Banyak tidur

7. Panjang angan-angan dan sering menunda-nunda

Terapi bila sifat malas menghampiri

1. Menyadari pentingnya waktu

2. Bergaul dengan teman yang baik

3. Membaca kisah-kisah semangat para salaf

4. kontinu mengerjakan amal shalih

5. isi dengan kegiatan bermanfaat

6. Do’a.

Jika hari ini engkau bersedih ..

Jika hari ini engkau sedih, maka bersabarlah...jika besok masih sedih gimana ? Ya tetep aja sabar, emangnya engga sabar bisa menyelesaikan masalah? ya engga la yaw.. makanya mendingan sabar, karena sabar itu sifatnya para Nabi, dan siapa yang mampu bersabar maka dia akan mendapatkan pahala dan kemenangan...

Jika pilihannya :
Sabar >> Sedih
Tidak Sabar >> Sedih
Maka pilihlah sabar
kecuali jika tak sabar berubah maka wajar jika meninggalkan sabar

Akurrr ?

Apa ? Kamu malah mau bunuh diri ?????? Oh noooooo

kamu bodoh deh ah !!!
OOn Abiz dah !!!

Yang mau mati dirumah sakit saja pada berharap sembuh, tetangga saya 74 tahun sesak nafas saja masih berharap bisa sembuh, lah anda ??

Emang mati enak ya ?
Dikubur, ditanya dikubur, lalu dapat azab karena kebodohan bunuh diri, dihari akhirat malah lebih sengsara lagi karena dapet neraka, waduh rugi double gan, didunia anda sengsara, mati dalam keadaan tersiksa, dikubur disiksa, di akhirat mendapat neraka... lengkap sudah penderitaan .. wa'iyadzubillah

“Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya kelak pada hari kiamat Allah akan menyiksanya dengan cara seperti itu pula.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا , وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa’: 29-30)

Contohnya adalah orang yang mati bunuh diri karena mencekik lehernya sendiri atau mati karena menusuk dirinya dengan benda tajam. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الَّذِى يَخْنُقُ نَفْسَهُ يَخْنُقُهَا فِى النَّارِ ، وَالَّذِى يَطْعُنُهَا يَطْعُنُهَا فِى النَّارِ
“Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan mencekik lehernya, maka ia akan mencekik lehernya pula di neraka. Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara menusuk dirinya dengan benda tajam, maka di neraka dia akan menusuk dirinya pula dengan cara itu.” (HR. Bukhari no. 1365)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالَّذِى يَتَقَحَّمُ فِيهَا يَتَقَحَّمُ فِى النَّارِ
“Barangsiapa yang menceburkan dirinya ke dalam api, maka Allah akan menyiksanya di neraka dengan cara menyeburkan diri dalam api pula.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

So.. terserah anda kalau memang merasa neraka adalah pilihan utama, ya mangga saya ga bisa lagi apa-apa .. up to you dah..

Jangan Pernah Lari Dari Masalah

Jgn Pernah Lari Dari Masalah,
Meraka akan selalu mengikutimu hadapiLah..
seberat apapun masalah yang kau hadapi,selama kamu masih bernapas,
kamu masih mempunyai alasan untk tersenyum..
karena sesungguhnya...
masalah masalah itu akan membuatmu menjadi pribadi yg kuat..
maka
sabar & sholat sbg penolongmu..


Oleh Hariyati