Tampilkan postingan dengan label Muamalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muamalah. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2019

Mengganti Perayaan Tahun Baru Dengan Yang Lebih Baik


Mengganti Perayaan Tahun Baru Dengan Yang Lebih Baik





Telah tersebar fatwa–fatwa ulama bahwa merayakan tahun baru masehi adalah haramdengan berbagai dalil misalnya tasyabbuh(menyerupai orang kafir), membuang-buang harta, membuat ‘ied (hari raya) baru dan lainnya. Akan tetapi bagi orang yang masih awam dan belum kokoh keimanannya tentu masih terasa berat meninggalkannya setelah sebelumnya mereka bergembira dan menjadi acara yang paling dinanti-nanti.
Salah satu hikmah dalam berdakwah adalah kita tidak hanya sekedar melarang sesuatu serampangan dan keras tanpa hikmah seperti berkata:
“ini haram pak, itu haram, hal ini bid’ah, apalagi itu syirik besar dan bisa kafir!!!”
Tetapi termasuk hikmah, melarang kemudian memberikan solusi dan pengganti dengan yang lebih baik.

Berusaha meninggalkan dan mencari pengganti
Psikologi manusia akan susah meninggalkan sesuatu yang dicintai dan digandrungi bertahun-tahun dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, perlu mencari dan membuat kegiatan mubah atau disyariatkan dalam Islam untuk mengganti kegiatan malam tahun baru. Dengan syarat kegiatan itu bukan untuk merayakan tahun baru dan jika keimanan sudah kokoh maka jalanilah malam tahun baru sebagaimana malam-malam yang lain. Inilah kaidah psikologis yang disampaikan oleh ulama Islam, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,
النفس لا تترك شيئا ألا بشيئ
“jiwa tidak akan bisa meninggalkan sesuatu kecuali jika ada sesuatu (yang menggantikannya)

Ia juga perlu meyakini bahwa jika kita meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.”[1]


Pengganti kegiatan yang lebih baik
Bagi yang sudah kokoh keimanannya mungkin dia tidak perlu mencari kegiatan pengganti. Hari tahun baru sebagaimana hari-hari yang lain. Bagi yang sudah berkeluarga bisa membuat kegiatan dan acara kumpul keluarga, tentu dengan kegiatan di rumah karena jika keluar jalan-jalan atau piknik maka jalanan bisa macet dan kita dapati banyak pelanggaran syariat Islam. Kegiatan tersebut misalnya:
– Acara masak bersama dengan keluarga
Sepertinya acara ini seru (apalagi pengantin baru dan belum punya anak), belanja bareng dulu kemudian membuat makanan dengan resep khusus dan istimewa, memasak bersama dan bersantap bersama
-makan dan santap malam bersama
Jika tidak ada dalam keluarga bakat memasak. Sekali-kali bisa memanjakan keluarga dengan makanan yang agak enak dan bernilai
-membuat keterampilan tangan bersama
-olahraga di rumah jika ada peralatan olahraga rumah

Dan perlu diperhatikan, tetap saja menganggap kegiatan ini tidak ada hubungannya dengan tahun baru dan berusaha menjalani seperti hari-hari biasa dan biarlah mereka yang merayakan tahun baru akan bertanggung jawab dengan perbuatan mereka terhadap Rabb mereka

Jangan kegiatan bid’ah sebagai pengganti
Sebagian orang memiliki niat yang baik dalam beragama akan tetapi caranya yang salah. Inilah yang dilakukan oleh mereka yang melakukan perbuatan bid’ah (sesuatu yang diada-adakan dalam agama dan tidak ada tuntunan dalam syariat). Mereka mengganti kegiatan malam tahun baru dengan kegiatan bid’ah. Misalnya:
-menggelar shalat malam, doa dan dzkir bersama ketika malam tahun baru
-menggelar acara Islami dengan versi Islami ketika malam tahun baru misalnya konser nasyid, ceramah dan penggalangan dana
Maka itu tidak dibenarkan dalam Islam. Karena bid’ah amalannya tertolak dan mendapat ancaman yang serius.

Dalil mereka:
“daripada kita merayakan tahun baru, tahun masehinya orang kafir, lebih baik kita buat acara yang Islami”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”[2]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”[3]

Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus. Amin

Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid
16 Shafar 1434 H
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com



[1] HR. Ahmad 5/363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih
[2] HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih.

Rabu, 24 Mei 2017

Tiga Patokan Akhlak Sebenarnya Seseorang

Terkadang kita melihat sekilas akhlak seseorang luar biasa sekali baiknya. Teman-temannya menilai akhlak dan muamalahnya baik. Ternyata itu belum tentu mencerminkan akhlak aslinya atau akhlak sebenarnya. Contohnya:

-Ramah, sering membantu dan terkadang mentraktir temannya, tetapi ternyata dengan istrinya ia dzalim, tidak memenuhi hak istri, sering bentak, tidak ramah di keluarga dan ada salah sedikit langsung marah dan emosi
-Ada juga yang baik, ramah, sebagai atasan ia baik dan memudahkan urusan bawahannya akan tetapi ternyata masalah muamalah harta ia khianat, bisnis sering menipu, harta umat dan orang ia korupsi dan sering menumpuk hutang
Wal’iyadzu billah
Tetapi ingat! Kita harus menilai seseorang secara dzahirnya, tidak boleh berburuk sangka
“Jangan-jangan sama istrinya dzalim” dan sebagainya
Syariat mengajarkan tiga patokan akhlak sebenarnya seseorang.
Ini digunakan untuk menilai akhlak seseorang dan sekaligus poin yang harus kita perhatikan bersama untuk muhasabah akhlak kita. Hendaknya kita punya waktu-waktu khusus untuk terus memperbaiki akhlak dengan cara berusaha mengevaluasinya secara rutin dan berkala.

Jangan kita mengaku beriman jika akhlak kita rusak dan tidak baik, karena akhlak adalah cermin keimanan seseorang sebagaimana dalam hadits.[1]
Tiga poin tersebut adalah:

1.Muamalah dengan Istrinya/ Bagaimana testimoni Istrinya
Karena yang paling baik baik akhlaknya adalah paling baik dengan Istrinya[2]
Karenanya testimoni Istri-Istri Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat baik yaitu akhlak beliau adalah Al-Quran
Bisa jadi ia baik dengan orang luar karena memang statusnya rendah di masyarakat misalnya (maaf) hanya jadi cleaning servise. Tentu akhlaknya akan baik (tidak berani macam-macam dan tidak “berulah”)
Tetapi dengan istrinya ia kasar, dzalim dan tidak menunaikan hak-hak Istri
Poinnya: akhlak seseorang bisa dilihat ketika kapan Ia berkuasa dan leluasa atau bisa saja berbuat dzalim tetapi ia mampu menahannya.

2.Muamalah ketika safar
Karena safar dahulu adalah saat-saat sulit dan sebagian dari adzab. Ketika  senang semua bisa jadi teman tetapi ketika susah belum tentu semua bisa jadi teman yang baik.
Inilah yang dijadikan patokan oleh Umar bin Khattab ketika ada orang yang merekomendasikan kebaikan seseorang.[3]
Poinnya: ketika masa-masa sulit kemudia anda punya teman, itulah teman sejati anda dan itulah akhlaknya yang sebenarnya.

3.Muamalahnya dengan urusan harta
Karena harta adalah salah satu fitnah/ujian terbesar  umat  Islam. [4]
Bisa jadi gelap mata karena harta. Karena warisan anak dan paman bisa saling bermusuhan bahkan saling bunuh. Bisa jadi tidak amanah ketika bisnis dan berdagang. Akhlak baik dan sering membantu ternyata korupsi harta umat.
Ini juga yang dijadikan patokan Umar bin Khattab ketika ada orang yang merekomendasikan kebaikan seseorang.[5]
Semoga Allah selalu memperbaiki  akhlak kita karena yang paling banyak memasukkan ke dalam surga adalah akhlak yang baik.[6]


Demikian semoga bermanfaat
@Markas YPIA, Yogyakarta tercinta
Penyusun:  Raehanul Bahraen

[1] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka,
 (HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284)
[2] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا
dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya (HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284)

[3] Umar bin Khattab berkata:
فَرَفِيقُكَ فِي السَّفَرِ الَّذِي يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلَى مَكَارِمِ الأَخْلاقِ
“Apakah dia pernah menemanimu dalam safar, yang safar merupakan indikasi mulianya akhlak seseorang?” (Ibnu Hajar berkata, Dishahihkan oleh bin Sakan, ini dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil 8/260 no 2637)
[4] Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujiannya) dan fitnah umatku adalah harta” (HR. Bukhari)

[5] Beliau berkata:
فَعَامِلُكَ بِالدِّرْهَمِ وَالدِّينَارِ ، اللَّذَيْنِ يُسْتَدَلُّ بِهِمَا عَلَى الْوَرَعِ
“Apakah dia pernah bermuamalah denganmu berkaitan dengan dirham dan dinar, yang keduanya merupakan indikasi sikap wara’ seseorang?” (Idem)
[6] sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Sumber:
https://muslimafiyah.com/tiga-patokan-akhlak-sebenarnya-seseorang.html

Jangan Ragu Donorkan darah Anda (Medis dan syariat)

Pernahkah anda melihat bagaimana panik dan dan khawatirnya keluarga pasien. Tatkala dokter menyatakan bahwa sang pasien membutuhkan sekian kantung darah, jika tidak mungkin nyawanya tidak tertolong lagi. Pergilah ia ke PMI atau bank darah, ternyata darah golongan tersebut sedang habis (apalagi bulan Ramadhan, seringkali stok darah menipis). Atau pernahkan anda melihat seorang ibu bertanya kepada setiap orang yang ditemui, kemudian bertanya golongan darah serta memohon dengan sangat agar mau mendonorkan darahnya. Karena anaknya butuh beberapa kantung “fresh blood” (darah yang langsung diperoleh dari donor, tanpa disimpan dalam waktu yang lama). Suasana kepanikan dan rasa iba beberapa dari kami yang melihatnya. Kalau saja tidak ada batsa waktu tiga bulan lagi baru bisa donor, maka kami akan donorkan darah kami.
Akhirnya kondisi ini yang dimanfaatkan oleh beberapa pihak agar untuk menjual darah mereka. Kami mendapat beberapa info bahwa ada orang yang seperti ini, misalnya tukang becak dan  tukang parkir di sekitar rumah sakit yang mereka rutin menjadi donor bayaran. Jika ada yang panik seperti ini, mereka akan menjual darahnya.
Pada kesempatan kali ini, kami mengajak dan menghimbau agar anda bisa menjadi donor tetap darah anda karena ini sangat bermanfaat untuk dunia anda lebih-lebih untuk akhirat dengan niat yang benar.

Donor darah adalah amalan yang mulia
Donor darah termasuk amalan yang mulia, Yaitu termasuk memelihara kehidupan manusia bahkan seolah-olah seluruhnya.
Mengenai ayat,
وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya” [QS al Maidah:32]
Ketik syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah ditanya apakah donor darah termasuk dalam ayat diatas, beliau menjawab:
ولعله يدخل في الآية الكريمة، إذا كان الشفاء يتوقف على هذا التبرع بإذن الله تعالى
“Boleh jadi donor darah termasuk dalam ayat yang mulia tersebut. Jika kesembuhan tergantung/terwujud dengan donor darah tersebut-jika Allah mengizinkannya-.”[1]
Semoga dengan membantu sesama saudara kita, maka Allah akan senantiasa membantu kita di saat-saat sulit baik dunia maupun akhirat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
والله في عون العبد، ما كان العبد في عون أخيه.حديث صحيح رواه مسلم
Allah itu akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.”[2]
Dan beliau bersabda,
من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب الآخرة

”Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang mukmin dari kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan melapangkan kesulitannya dari kesulitan-kesulitan akhirat.” [3]

Jika masih ada yang meragukan hukum terkait donor darah. Maka berikut ketetapan dari Hai’ah kibar ulama (Terdiri dari kumpulan ulama senior yang mumpuni) mengenai hal ini:
وبعد دراسة الموضوع ومناقشته وتداول الرأي فيه، قرر المجلس بالأكثرية ما يلي: أولا: يجوز أن يتبرع الإنسان من دمه بما لا يضره عند الحاجة إلى ذلك؛ لإسعاف من يحتاجه من المرضى. ثانيا: يجوز إنشاء بنك إسلامي لقبول ما يتبرع به الناس من دمائهم وحفظ ذلك لإسعاف من يحتاج إليه من المسلمين، على أن لا يأخذ البنك مقابلا ماليا عن المرضى أو أولياء أمورهم عوضا عما يسعفهم به من الدماء، وألا يتخذ ذلك وسيلة تجارية للكسب؛ لما في ذلك من المصلحة العامة للمسلمين.
Setelah mempelajari masalah ini dengan berdiskusi dan bertukar pikiran (dengan ahlinya). Mayoritas majelis menetapkan:
1.Manusia boleh mendonorkan darahnya selama tidak membahayakan dan ada kebutuhan untuk menyelamatkan orang sakit yang membutuhkan.
2. Boleh mendirikan bank darah, menerima donor darah dari manusia untuk diberikan kepada kaum muslimin yang membutuhkan. Bank Darah tidak boleh mengambil kompensasi berupa uang (menjual darah) kepada orang sakit atau wali mereka untuk mendapat keuntungan. Karena hal ini untuk kemashalahatan kaum muslimin secara umum.[4]

Manfaat secara medis
Manfaat secara medis sangat banyak dan hampir tidak ada yang menyangkalnya. Terutama jika dilakukan secara rutin, manfaatnya misalnya:
– Menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah, serta me-refresh darah lama dengan darah yang baru. Zat besi yang terlalu banyak bisa memicu oksidasi kolesterol yang ini merupakan potensiterjadinya stroke dan serangan jantung
-sebagai diet menurunkan berat badan secara alami. Diberitakan sekitar 7 %, karena terjadi pembakaran kalori saat donor darah.
Adapun manfaat lainnya cukup banyak, misalnya
-Membantu membakar kalori
-Deteksi dini resiko kesehatan
-Meningkatkan kapasitas paru-paru dan ginjal
-Meningkatkan kesehatan psikologis
-Membantu sirkulasi darah
-Memaksimalkan darah dalam paru-paru
-Menurunkan zat seng dalam darah
– Memperbaharui sel darah baru
– Mencegah resiko kesehatan
-Mencegah penyakit langka
– Menghilangkan kaku di pundak
– Mengetahui lebih lanjut tentang tipe darah individu karena sebelum donor, darah anda akan diperiksa terlebih dahulu.

@Pogung Dalangan,  Yogyakarta Tercinta





[1] Sumber: ibn-jebreen.com/?t=books&cat=6&book=50&toc=2313&page=2145&subid=
[2] HR. Muslim
[3] HR. Muslim
[4] Ketetapan Hai’ah kibar ulama  no. 65, 7/2/1399 H

Sumber: https://muslimafiyah.com/jangan-ragu-donorkan-darah-anda-medis-dan-syariat.html

Rezeki Lancar Karena Membiayai Penuntut Ilmu Agama

Tidak semua dari kita jalan jihad dan memperjuangkan agama Islam dengan menjadi ustadz/ulama yang mendalami agama. Karena bisa jadi kita tidak dikarunia oleh Allah kelebihan dalam berfikir, mendalami dan menghapal berbagai ilmu agama. Sebaliknya ada yang dikaruniai oleh Allah kemampaun mencari rezeki, berbisnis dan mengelola keuangan. Sebagaimana para sahabat tidak semua menjadi ulama, akan tetapi ada yang memperjuangkan Islam dan dakwah dengan menjaga perbatasan (ribath) seperti Bilal bin Rabah, ada yang menjadi saudagar kaya yang sangat darmawan seperti Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf dan ada juga yang menjadi ulama seperti Ibnu Abbas, Ibnu umar dan Ibnu Mas’ud rahimahumullah.

Bagi yang memiliki kemampuan berbisnis maka ia bisa ikut memperjuangkan Islam dan dakwah dengan kelebihan harta mereka, salah satunya dengan memberikan beasiswa dan membiayai penuntut ilmu agama yang benar-benar punya semangat mempelajari ilmu agama akan tetapi mereka mendapati kesulitan biaya. Hal ini mempunyai beberapa keutamaan:

1.Mendapatkan juga pahala yang terus mengalir sampai hari kiamat (MLM pahala)
Karena yang membiayai penuntut ilmu belajar agama juga mempunyai peran. Ketika penuntut ilmu yang dibiayai mengajarkan ilmu kepada orang lain atau memberikan hidayah ilmu kepada orang lain, maka pahala mengalir juga kepada yang mengajarkan/ yang menunjukkan ketikayang diajarkan/ditunjukkan mempraktekan ilmu atau mengajarkan kepada yang lainnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya.”[1]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berasabda,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang menyeru kepada sebuah petunjuk maka baginya pahala seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi akan pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang menyeru kepada sebuah kesesatan maka atasnya dosa  seperti dosa-dosa yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun.”[2]

2.Rezeki Bisa menjadi lebih lancar
Inilah yang menjadi pembahasan kita, rezeki bisa lancar dengan membiayai seorang penuntut ilmu agama.
Dalam Sunan At-Tirmidzi dikisahkan,
كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِى النَّبِيَّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ، فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلىَ النَّبِيِّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ
“Ada dua orang bersaudara di zaman Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallamyang satu datang kepada Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam (untuk belajar), sedangkan yang satunya lagi bekerja (menanggung nafkah saudaranya, pent). Maka orang yang bekerja ini mengeluhkan kepada Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam tentang saudaranya. Beliau pun bersabda, “Bisa jadi kamu diberi rezeki karenanya (ia menuntut ilmu agama).[3]
Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan hadits,
لعلك ترزق به) بصيغة المجهول أي أرجو وأخاف أنك مرزوق ببركته لأنه مرزوق بحرفتك فلا تمنن عليه بصنعتك
“Sabda Beliau (لعلكترزقبه) dalam bentuk mahjul, artinya saya berharap atau saya takut bahwa engkau diberi rezeki karena barakahnya (saudaramu yang menuntut ilmu). Karena ia dapat rezeki dari usahamu, maka janganlah engkau mengungkit-ungkit apa yang engkau berikan kepadanya.”[4]
Berkata At-Thaibi,
ومعنى لعل في قوله لعلك يجوز أن يرجع إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فيفيد القطع والتوبيخ
“Makna kata “bisa jadi” (لعل) bisa kembalikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka memberikan makna “penegasan/kepastian”  (pasti  rezekimu lancar karena saudaranya menuntut ilmu, pent) dan teguran (teguran karena mengadukan saudaranya yang menuntut ilmu, pent).”[5]
Dan jika kita membiayai penuntut ilmu yang memiliki semangat, akan tetapi ia miskin dan lemah,  tidak ada biaya untuk menuntut ilmu maka ini juga bisa menjadi sebab rezeki kita lancar.
Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ
Bukankah kamu ditolong dan diberi rezeki karena (berbuat ihsan) kepada kaum dhu’afa  (orang-orang lemah) di antara kamu.”[6]

Allah Akan mengganti dengan rezeki yang lebih baik
Jika kita membiayai penuntut ilmu agama, maka ini temasuk infak yang Allah akan ganti jika kita ikhlas.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَآأَنفَقْتُم مِّن شَىْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Saba’: 39)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ ، فَيَقُوْلُ أَحَدَهُمَا : اللَّهُمَّ أَعطِ مُنْفِقاً خَلَفاً، وَيَقُولُ الآخَرُ : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكاً تَلَفاً
Tidak ada satu hari pun, di mana seorang hamba melalui pagi harinya kecuali dua malaikat turun, yang satu berkata, “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak”, sedangkan malaikat yang satu lagi berkata, “Ya Allah, timpakanlah kerugian kepada orang yang bakhil.[7]
Dan Beliau juga bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
Sedekah tidaklah mengurangi harta, dan Allah tidaklah menambahkan hamba-Nya yang sering memaafkan kecuali kemuliaan. Demikian juga tidaklah seseorang bertawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan meninggikannya.”[8]

Oleh karena itu, bagi mereka yang bergelut dalam usaha dan bisnis hendaknya ikut serta dalam dakwah dan salah satunya adalah membiayai para penuntut ilmu yang bersemangat akan tetapi tidak mampu dalam pembiayaan. Bisa datang ke pondok pesantren dan mahad, kemudian menanyakan siapa-siapa saja mereka yang berhak mendapatkan pembiayaan. Semoga dengan hal ini usaha dan bisnis mereka semakin lancar dan penuh berkah. Amin
Semoga bermanfaat.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

@ Lab. Patologi Klinik RS Sardjito
9 Rabi’ul Awwal 1434 H
Penyusun: Raehanul Bahraen





[1] HR. Muslim
[2] HR. Muslim
[3] HR. At-Tirmidzi no. 2345, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani
[4] Tauhfatul Ahwadzi 7/8, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, syamilah
[5] Idem
[6] HR. Bukhari
[7] HR. Bukhari dan Muslim
[8] HR. Muslim

Sumber: https://muslimafiyah.com/rezeki-lancar-karena-membiayai-penuntut-ilmu-agama.html

Berkorban Bangkrut Tidak Punya Harta Lagi Karena Menuntut Ilmu

Luar biasa pengorbanan para ulama untuk menuntut ilmu, sampai-sampai mereka mengorbankan semua harta untuk biaya menuntut ilmu. Padahal kita tahu harta adalah salah satu ujian dunia yang sangat disenangi oleh manusia. Dan manusia pelit terhadap hartanya. Mungkin ini bisa menjadi pelajaran bagi kita bersama agar kita tidak pelit dengan harta kita untuk kebaikan kita dalam hal agama maupun untuk kebaikan orang lain. dan JANGAN kita salah beranggapan, bahwa kita harus bangkrut dulu agar menjadi ulama  atau harus bangkrut dulu baru berilmu, karena keimanan kita berbeda dengan para ulama tersebut, mereka berkeyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bertakwa.

Harta adalah ujian umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَإِنَّ فِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya masing-masing umat itu ada fitnahnya dan fitnah bagi umatku adalah harta.”[1]
Allah Ta’ala berfirman,
وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
“Dan Kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”. ( Al Fajr: 20).
Kodrat manusia sangat mencintai harta, sampai-sampai lebih berbahaya dari dua serigala terhadap kambing jika mereka tidak bertakwa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«مَا ذئبان جَائِعَانِ أُرسِلاَ في غَنَمٍ بأفسَدَ لها مِنْ حِرصِ المرء على المال والشَّرَف لدينهِ »
Tidaklah dua serigala lapar yang menghampiri seekor kambing lebih berbahaya baginya dari ambisi seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya[2]
Beliau juga bersabda,
لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ ؛ لاَبْتَغَى ثَالِثاً , وَلاَ يَمَلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ , وَيَتُوْبُ الله عَلَى مَنْ تَابَ
Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta; pasti ia menginginkan yang ketiga, sedangkan perut anak Adam tidaklah dipenuhi kecuali dengan tanah, dan Allah memberi taubat-Nya kepada yang bertaubat.[3]

Kisah para ulama yang bangkrut karena menuntut ilmu
Para ulama mencurahkan segalanya begitu juga harta mereka, sampai-sampai ada ungkapan dari  beberapa orang ulama salah satunya yaitu Syu’bah, beliau berkata,
مَنْ طَلَبَ الْحَدِيثَ أَفْلَسَ
“Barangsiapa yang menuntut ilmu hadist/belajar agama maka akan bangkrut[4]

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,
لَا يَصْلُحُ طَلَبُ الْعِلْمِ إِلَا لِمُفْلِس
“Tidak layak bagi orang yang menuntut ilmu kecuali orang yang siap miskin/bangkrut[5]

Ibnu Sa’ad berkata, aku mendengar Musa bin Dawud berkata,
أفلس الهيثم بن جميل في طلب الحديث مرتين
“Al-Haitsam bin Jamil bangkrut dua kali Ketika mencari hadits.”[6]

Ibnu ‘Adi berkata mengisahkan tentang Yahya Ibnu Ma’in,
كان معين على خراج الري، فمات، فخلف ليحيى ابنه ألف ألف درهم، فأنفقه كله على الحديث حتى لم يبق له نعل يلبسه.
“Ma’in [Ayah Yahya Ibnu Ma’in] terkena radang tenggorokan, kemudian meninggal, ia mewariskan untuk Yahya Ibnu Ma’in sebanyak 1.000.000 dirham, maka ia habiskan seluruhnya untuk mencari hadits sampai-sampai tidak ada yang tersisa kecuali sandal yang ia pakai.”[7]

Abdurrahman bin Abu Zur’ah berkata, saya mendengar ayahku berkata,
بقيت بالبصرة في سنة أربع عشرة ومائتين ثمانية أشهر وكان في نفسي أن أقيم سنة فانقطع نفقتي فجعلت أبيع ثياب بدني شيئا بعد شيء حتى بقيت بلا نفقة
“Aku menetap di Bashrah pada tahun 214 Hijriyah. Sebenarnya aku ingin menetap di sana selama setahun. Namun perbekalanku telah habis dan terpaksa aku menjual bajuku helai demi helai, sampai akhirnya aku tidak punya apa-apa lagi.”[8]

Demikian semoga bermanfaat
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

@Pogung Lor, Yogyakarta Tercinta




[1] HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibni Hibbân dalam shahihnya
[2](HR Tirmidzi no. 2376, ia berkata: hasan shahih, Ahmad: 3/656
[3] HR. Bukhari no.6436, Muslim no.1049
[4] Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi  I/410 no.597, Darul Ibnu Jauzi, cet.I, 1414 H, syamilah
[5] Al-Jami’ liakhlaqir rawi,  1/104 no.71, Maktabah Ma’arif, Riyadh, Syamilah
[6] Rihlah fi thalabil hadits hal. 205, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet.I, 1395 H, Syamilah
[7] Siyar A’lam An-Nubala 21/85, Muassasah Risalah, syamilah
[8] Tarikh Baghdad 2/74-75, Syamilah

Sumber: https://muslimafiyah.com/bangkruttidak-punya-harta-lagi-karena-menuntut-ilmu.html

Sudah berapa harta kita keluar untuk Ilmu Agama?

Untuk kursus bahasa Inggris, orang tua tidak sungkan merogoh kocek yang tidak sedikit. Bahkan jika perlu anak didorong untuk les privat berbagai pelajaran sulit dengan mendatangkan guru terbaik dengan bayaran yang “wah”. Untuk bisa masuk perguruan tinggi bonafit, berapapun akan keluar dana yang dimiliki, apalagi untuk jurusan yang sudah menjadi idaman orang tua, yang bisa membuat bangga dan merasa masa depan anak akan terjamin.
Akan tetapi, sangat jarang kita melihat orang yang mengeluarkan harta untuk mempelajari ilmu agama, mendatangakan guru privat agar anaknya bisa membaca Al-Quran dan memiliki hapalan yang banyak, memiliki suara yang bagus ketika melantunkan ayat suci Al-Quran. Atau mendatangkan guru agar anaknya bisa belajar bahasa Arab, bahasa Al-Quran dan agama Islam. Bahkan beberapa sarana ilmu seperti ini terkadang gratis tanpa biaya.
Yang herannya lagi, ketika ada pengajian atau daurah ilmu dimana beberapa orang diminta untuk membayar uang pendaftaran. Maka rasanya seperti keberatan, padahal terkadang uang itu untuk mereka juga, seperti makalah, snack, peminjaman tempat dan  lain-lain. Seharusnya kita berkorban sedikit harta dengan untuk mencari ilmu. Jika dibandingkan dengan para salaf maka kita sangat jauh. Mereka mengorbankan segalanya begitu juga harta, sampai-sampai ada ungkapan,
من طلب علم الحديث أفلس
“Barangsiapa yang menuntut ilmu hadist/belajar agama maka akan bangkrut/jatuh miskin”

Meskipun tidak sepenuhnya benar akan tetapi, demikianlah beberapa ulama dalam perjalanan mereka menuntut ilmu. Yang cukup terkenal adalah kisah ulama menuntut ilmu sampai-sampai harus menjual atap rumah mereka.
Ibnu Al-Qasim berkata,
قال ابن القاسم: أفضى بمالك طلب العلم إلى أن نقض سقف بيته فباع خشبه، ثم مالت عليه الدنيا
“Mencari ilmu juga menyebabkan Imam Malik membongkar atap rumahnya dan menjual kayunya. Kemudian setelah itu dunia berdatangan kepadanya.”[1]
Al-Khatib al-Baghdadi membawakan riwayat,
أنفق ابن عائشة على إخوانه أربع مائة ألف دينار في الله، حتى التجأ إلى أن باع سقف بيته
“Ibnu Aisyah membelanjakan harta untuk saudara-saudaranya sebanyak empat ratus dinar, hingga ia menjual atap rumahnya.”[2]

Ibnu ‘Adi berkata mengisahkan tentang Yahya Ibnu Ma’in,
كان معين على خراج الري، فمات، فخلف ليحيى ابنه ألف ألف درهم، فأنفقه كله على الحديث حتى لم يبق له نعل يلبسه.
“Ma’in [Ayah Yahya Ibnu Ma’in] terkena radang tenggorokan, kemudian meninggal, ia mewariskan untuk Yahya Ibnu Ma’in sebanyak 1.000.000 dirham, maka ia habiskan seluruhnya untuk mencari hadits sampai-sampai tidak ada yang tersisa kecuali sandal yang ia pakai.”[3]

Muhammad bin Salam berkata,
أنفقت في طلب العلم أربعين ألفا، وأنفقت في نشره أربعين ألفا، وليت ما أنفقت في طلبه كان في نشره
“Aku ketika menuntut ilmu menghabiskan 40.000 dan untuk menyebarkannya 40.000, sekiranya kuhabiskan ketika mencarinya, kuhabiskan ketika menyebarkannya.”[4]

Demikianlah seharusnya bagi seorang penuntut ilmu agama, hendaknya mau mengorbankan sedikit harta untuk memperoleh ilmu, lebih baik lagi jika mau menyumbangkan harta tanpa diminta.

Demikian semoga bermanfaat
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

@RS Mitra Sehat, Yogyakarta Tercinta
Penyusun:  Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslimafiyah.com/sudah-berapa-harta-kita-keluar-untuk-ilmu-agama.html

Pelajari Dahulu Adab Dan Akhlaknya Baru Ilmunya

Sebagian penuntut ilmu mungkin ada yang terlupakan ketika belajar agama dari seorang guru atau ustadz. Yaitu mencontoh juga akhlak dan penerapan ilmunya. Sebagian masih fokus terhadap ilmu yang dipelajari. Bahkan ada juga guru atau ustadz yang akhlaknya tidak bagus atau kurang baik, bersikap kasar dan tidak penuh hikmah. Sehingga inilah yang dicontoh oleh para murid-muridnya. Sehingga akhlaknya menjadi kasar, wajah seram dan tampang sangar.
hendaknya seseorang berusaha mencari guru dan ustadz yang menerapkan ilmunya terutama masalah akhlak. Karena akhlak yang baik sesama manusia, memudahkan manusia, membuat manusia gembira serta menjaga amanah. Maka, satu saja contoh yang baik dalam masyarakat bisa menggantikan 1000 kajian dan majelis ilmu tentang akhlak.
kita bisa melihat kisah mereka para ulama yang sukses menuntut ilmu dan menjadi bermanfaat bagi kaum muslimin. Mereka sangat memeprhatikan akhlak dan berusaha mencontoh akhlak para guru mereka.

Ibu Imam Malik rahimahullahu, sangat paham hal ini dalam mendidik anaknya, beliau memerhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Imam Malik rahimahullahu mengisahkan,
قال مالك: قلت لأمي: ” أذهب، فأكتب العلم؟ “، فقالت: ” تعال، فالبس ثياب العلم “، فألبستني مسمرة، ووضعت الطويلة على رأسي، وعممتني فوقها، ثم قالت: ” اذهب، فاكتب الآن “، وكانت تقول: ” اذهب إلى ربيعة، فتعلًّمْ من أدبه قبل علمه
“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.”(‘Audatul Hijaab 2/207, Muhammad Ahmad Al-Muqaddam, Dar Ibul Jauzi, Koiro, cet. Ke-1, 1426 H, Asy-Syamilah)

Berkata Adz-Dzahabi rahimahullahu,
كان يجتمع في مجلس أحمد زهاء خمسة آلاف – أو يزيدون نحو خمس مائة – يكتبون، والباقون يتعلمون منه حسن الأدب والسمت
“Yang menghadiri majelis Imam Ahmad ada sekitar 5000 orang atau lebih. 500 orang menulis [pelajaran] sedangkan sisanya hanya mengambil contoh keluhuran adab dan kepribadiannya.” [Siyaru A’lamin Nubala’ 21/373, Mu’assasah Risalah, Asy-syamilah]
Demikianlah karena akhlak yang baik adalah hal yang cukup sulit diterapkan dan manfaatnya sangat terasa bagi kaum muslimin, tidak heran jika ia adalah hal yang paling banyak menyebabkan sesorang masuk surga
Demikian pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia”(HR At-Thirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)


@Gedung Radiopoetro, FK UGM,  Yogyakarta Tercinta

Sumber: https://muslimafiyah.com/pelajari-dahulu-adab-dan-akhlaknya-baru-ilmunya.html

Bagaimana Ilmu Agama Mau Berkah, Cara Mendapatkannya Saja Kurang Beradab

Ada yang diberikan kemudahan menuntut ilmu agama dengan sarana dan fasilitas belajar yang dimudahkan, banyak majelis ilmu misalnya di pondok pesantren atau  di Universitas Madinah.  Atau ada juga yang diberikan karunia kemampuan menghapal dan menguasai ilmu akan tetapi ilmunya kurang berkah. Ilmu yang kurang berkah itu misalnya,  sulit untuk diamalkan atau tidak dirasakan menfaatnya bagi kaum muslimin atau ilmunya kurang menyebar. Adab juga sangat penting selain niat yang ikhlas.
Jika kita perhatikan, adab dan akhlak adalah sesuatu yang agak kurang diperhatikan dalam menuntut ilmu agama. Misalnya:

-Terlambat datang dan tidak minta izin dahulu, tetapi kalau gurunya terlambat langsung di telpon atau SMS: “ustadz kajiannya jadi tidak”?
-Kalau tidak datang, tidak izin dahulu (untuk kajian yang khusus) dan kajian datang semaunya
-Duduk selalu paling belakang dan sambil menyandar (tanpa udzur)
-ketika kajian terlalu banyak memainkan HP dan gadget tanpa ada keperluan
-Terlalu banyak bercanda atau ribut dalam majelis Ilmu
-terlalu Fokus ke Ilmu saja tanpa memperhatikan adab, niatnya hanya ingin memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat serta lupa memperhatikan dan mencontoh adab dan akhlak gurunya.
Sebaiknya kita memperhatikan adab dalam menuntut ilmu karena inilah yang dicontohkan oleh para ulama
1.Majelis ilmu ulama tenang dan tidak ada yang berani ribut
Ahmad bin Sinan menjelaskan mengenai majelis Abdurrahman bin Mahdi, guru Imam Ahmad, beliau berkata,
كان عبد الرحمن بن مهدي لا يتحدث في مجلسه، ولا يقوم أحد ولا يبرى فيه قلم، ولا يتبسم أحد

“Tidak ada seorangpun berbicara di majelis Abdurrahman bin Mahdi, tidak ada seorangpun yang berdiri, tidak ada seorangpun yang mengasah/meruncingkan pena, tidak ada yang tersenyum.”[1]

2.Berusaha mempelajari adab dahulu dari Ilmu
Ibu Imam Malik rahimahullahu, sangat paham hal ini dalam mendidik anaknya, beliau memerhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Imam Malik rahimahullahu mengisahkan,

قال مالك: قلت لأمي: ” أذهب، فأكتب العلم؟ “، فقالت: ” تعال، فالبس ثياب العلم “، فألبستني مسمرة، ووضعت الطويلة على رأسي، وعممتني فوقها، ثم قالت: ” اذهب، فاكتب الآن “، وكانت تقول: ” اذهب إلى ربيعة، فتعلًّمْ من أدبه قبل علمه
“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.”[2]

3.Berusaha mencontoh dan meneladani adab, akhlak serta semangat gurunya
Berkata Adz-Dzahabi rahimahullahu,
كان يجتمع في مجلس أحمد زهاء خمسة آلاف – أو يزيدون نحو خمس مائة – يكتبون، والباقون يتعلمون منه حسن الأدب والسمت
“Yang menghadiri majelis Imam Ahmad ada sekitar 5000 orang atau lebih. 500 orang menulis [pelajaran] sedangkan sisanya hanya mengambil contoh keluhuran adab dan kepribadiannya.”[3]
 Dan masih banyak adab dalam menuntut ilmu lainnya.
Semoga kita bisa selalu menjaga adab menuntut ilmu dan mendapatkan berkah dari ilmu tersebut.

@Gemawang, Yogyakarta tercinta

[1] Siyaru A’lamin Nubala’ 17/161, Mu’assasah Risalah, Asy-syamilah
[2] Audatul Hijaab 2/207, Muhammad Ahmad Al-Muqaddam, Dar Ibul Jauzi, Koiro, cet. Ke-1, 1426 H, Asy-Syamilah
[3] Siyaru A’lamin Nubala’ 21/373, Mu’assasah Risalah, Asy-syamilah

Sumber: https://muslimafiyah.com/bagaimana-ilmu-agama-mau-berkah-cara-mendapatkannya-saja-kurang-beradab.html

Hobi Koleksi Buku/Kitab Tetapi Tidak Dibaca

Seorang penuntut ilmu pasti akan berusaha mengumpulkan buku-buku dan kitab-kitab para ulama, mengoleksinya atau membuat semacam perpustakaan pribadi. Karena buku dan kitab para ulama adalah salah satu sumber ilmu setelah sumber utamanya yaitu di dada para ulama.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,
ينبغي لطال العلم أن يحرص على جمع الكتب، ولكن يبدأ بالأهم فالأهم، فإذا كان الإنسان قليل ذات اليد، فليس من الخير وليس من الحكمة أن يشتري كتبًا كثيرة يٌلزم نفسه بغرامة قيمتها، فإن هذا من سوء التصرف، وإذا لم يمكنك أن تشتري من مالك فيمكنك أن تستعير من أي مكتبة ‏.‏
Selayaknya bagi penuntut ilmu memiliki semangat untuk mengumpulkan kitab-kitab, akan tetapi hendaklah ia memulai dengan kitab yang paling penting (kitab-kitab dasar) kemudian kitab yang penting, jika ia tidak mempunyai banyak harta, maka bukanlah merupakan kebaikan dan bukanlah hal yang bijaksana jika ia membeli kitab-kitab yang banyak dan memaksakan dirinya dengan harga yang tinggi, karena ini merupakan tindakan yang jelek. Jika tidak memungkinkan engkau untuk membelinya dari hartamu maka engkau bisa meminjamnya dari perpustakaan manapun.”[1]

Mengumpulkan buku dan kitab untuk “keren-kerenan”
Niat ini yang harus dijauhi oleh penuntut ilmu terutama penuntut ilmu pemula. Berharap pujian manusia dan mengharap teman-temannya mengira dia sudah banyak membaca kitab-kitab para ulama. Terkadang dengan bangga dan riya’ ia menyebutkan di depan teman-temannya,
“saya sudah punya kitab ini sekian jilid karangan syaikh ini” (niatnya ingin pamer)
“oh kalau kitab yang ini saya sudah punya di rumah, saya sudah punya dari dulu” (niatnya supaya temannya mengira ia sudah membacanya padahal belum)
Sebenarnya Hobi mengumpulkan kitab-kitab para ulama adalah perbuatan yang sangat baik dan menunjukkan ciri seorang penuntut ilmu. Akan tetapi hobi mengumpulkan kitab para ulama juga hendaknya –terutama sekali- dibarengi dengan semangat belajar bahasa Arab. Akan percuma dan kurang bermanfaat baginya kitab-kitab tersebut karena sekedar menjadi pajangan.
Sungguh benar perkataan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata
عن عمر رضي الله عنه أنه قال: “تعلموا العربية فإنها من دينكم وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم

Pelajarilah bahasa Arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian, pelajarilah ilmu waris karena merupakan bagian dari agama kalian.”[2]


Mengkoleksi dan meminjamkan
Kita juga bisa mengkoleksi jika mempunyai harta yang banyak dan bisa juga meminjamkannya kepada penuntut ilmu lain yang bersemangat untuk sementara jika kita tidak menggunakannya.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya,
السؤال: أنا رجل ولله الحمد لدي العديد من الكتب النافعة والمفيدة والمراجع لكنني لا أقرؤها بل أختار منها البعض. هل يلحقني إثم في جمع هذه الكتب عندي في البيت مع العلم أن بعض الناس يأخذون من عندي بعض الكتب يستفيدون منها ثم يرجعونها؟
Saya seorang laki-laki yang Alhamdulillah memiliki banyak kitab-kitab dan  rujukan-rujukan yang berguna dan bermanfaat, akan tetapi saya tidak membacanya, bahkan saya memilih sebagiannya saja. Apakah saya mendapat dosa dengan mengumpulkan kitab-kitab di rumah dan perlu diketahui sebagian orang meminjam kitab-kitab tersebut untuk menambil faidah kemudian mengembalikannya.
Beliau menjawab,
الحمد لله
“ليس على المسلم حرج في جمع الكتب المفيدة وحفظها لديه في مكتبة لمراجعتها والاستفادة منها ، ولتقديمها لمن يزوره من أهل العلم ليستفيدوا منها، ولا حرج عليه إذا لم يراجع الكثير منها، أما إعارتها إلى الثقات الذين يستفيدون منها فذلك مشروع وقربة إلى الله سبحانه ، لما فيه من الإعانة على تحصيل العلم، ولأن ذلك داخل في قوله سبحانه: (وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى) ، وفي قول النبي صلى الله عليه وسلم: (والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه)” انتهى .
“مجموع فتاوى ابن باز” (24/78)
Alhamdulillah, tidak ada dosa bagi seorang mukmin mengumpulkan kitab-kitab yang bermanfaat dan mengumpulkannya di sebuah perpustakaan sebagai referensi dan pengambilan faidah, memberikan kepada penuntut ilmu yang mengunjungi perpustakaan untuk mengambil faidah, tidak ada dosa jika ia tidak sering menggunakan perpustakaan tersebut. Adapun meminjamkannya kepada orang yang akan mengambil faidah adalah hal yang disyariatkan dan merupakan ibadah kepada Allah subhanahu. Karena hal ini merupakan tolong-menolong dalam mewujudkan ilmu dan termasuk dalam firman Allah, “saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa”. Dan termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya”. (Majmu’ fatawa Ibnu Baz 24/78)[3]

Sambil belajar bahasa arab, kumpulkan saja kitab-kitab walau belum bisa baca
Beberapa ustadz dan guru bahasa arab kami dahulunya berkata seperti ini, walaupun belum bisa baca kitab arab gundul tetapi koleksi saja kitab-kitab para ulama tersebut. Memang untuk bisa baca dan mengerti kitab Arab gundul tidak bisa secepat belajar bahasa yang lain, dan memang butuh waktu, keseriusan dan perjuangan. Ternyata hikmahnya adalah kitab-kitab tersebut bisa menjadi motvasi kita dalam belajar bahasa Arab. Kitab yang terpajang di lemari kita akan memotivasi kita untuk bisa segera membacanya. Sehingga tatkala lemah semangat atau putus asa belajar bahasa Arab, dengan melihat-lihat atau memoblak-balik kitab-kitab yang ada di lemari kita maka kita bisa bersemangat kembali, atau minimal kita akan merasa uang akan terbuang percuma jika buku ini tidak di baca.
Dan hendaknya, penuntut ilmu memilki anggaran khusus tiap bulan atau tiap periode untuk membeli buku-buku dan kitab-kitab para ulama, bahkan jika perlu anggaran kitab mengalahkan anggaran kebutuhan tersier. Yang hebatnya juga ada penuntut ilmu yang mengorbankan kebutuhan sekunder, menahan-nahan diri membeli sesuatu agar bisa membeli kitab. Demikianlah kita seharusnya bersemangat dalam hal-hal kebaikan bagi kita, kebaikan dunia dan akhirat.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجزن
 “Bersemangatlah kamu terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi kamu, dan mohonlah pertolongan pada Allah dan jangan merasa lemah.”[4]

Disempurnakan di Perpus FK UGM Jogjakarta
Penyusun: Raehanul Bahraen



[1] Kitabul ‘Ilmi libni ‘Utsaimin hal. 53, Syamilah
[2] Iqtidho’ shiratal mustaqim 527-528 jilid I, tahqiq syaikh Nashir Abdul karim Al–‘Aql, Wizarot Asy Syu-un Al Islamiyah wal Awqof
[4] HR Muslim

Sumber: https://muslimafiyah.com/hobi-koleksi-bukukitab-tetapi-tidak-dibaca.html