Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Mei 2017

Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (2)

Ayat Perintah untuk Mentadaburi Al-Qur`an

Ayat-ayat tentang perintah untuk mentadaburi Al-Qur`an terbagi menjadi dua macam:
1) Ayat tentang perintah mentadaburi Al-Qur`an terkait dengan perkara yang khusus, seperti firman Allah Ta’ala,
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur`an? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa`: 82).
2) Ayat tentang perintah mentadaburi Al-Qur`an secara umum, seperti firman Allah Ta’ala,
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran (yang baik)” (QS. Shad: 29).

Tanda-Tanda Tadabur Al-Qur`an yang Bermanfaat bagi Pelakunya

Seorang muslim yang mentadaburi Al-Qur`an itu memilki tanda-tanda yang disebutkan dalam Al-Qur`an, Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira” (At-Taubah: 124).
قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا
Katakanlah, ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud” (QS. Al-Isra’: 107).
وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا
dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi” (QS. Al-Isra’: 108)
وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا
Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu” (QS. Al-Isra’: 109).
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا
Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (QS. Maryam: 58)
وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta” (QS. Al-Furqan: 73).
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur`an yang serupa (kesempurnaan ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun” (Az-Zumar: 23).

Di dalam ayat-ayat di atas mengandung beberapa tanda seorang muslim tadabur Al-Qur`an yang bermanfaat bagi keimanannya,:

  1. Ikutsertanya hati dan pikiran ketika membaca Al-Qur’an, yang ditandai dengan perasaan takjub dan mengagungkan ayat -ayat yang dibacanya.
  2. Menangis karena takut kepada Allah murka karena seseorang melakukan dosa.
  3. Bertambahnya kekhusyukan hati.
  4. Bertambahnya keimanan dengan banyak membaca ayat-ayat Al-Qur`an.
  5. Menjadi bahagia dengan kabar gembira yang dibacanya.
  6. Takut kepada adzab Allah Ta’ala, dan rasa harap kepada ampunan-Nya dan rahmat-Nya, sehingga seorang hamba menjadi tenanglah dirinya.
  7. Bersujud kepada Allah dengan mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla sesuai dengan yang disyari’atkan.
Tidaklah seorang hamba bisa dengan ikhlas dan semangat mentadaburi Al-Qur`an dengan sebaik-baiknya kecuali dalam hatinya terdapat kecintaan terhadap Al-Qur`an. Dan tanda-tanda hati seseorang mencintai Al-Qur`an, di antaranya:
  1. Merasa gembira dan bersyukur dengan karunia Al-Qur`an yang mengandung sebaik-baik petunjuk dan paling sempurnanya.
  2. Senang berlama-lama duduk membacanya, memahami tafsirnya, dan mentadaburinya tanpa merasa jemu.
  3. Rindu membaca Al-Qur`an setiap kali merasa berdosa, karena didalam Al-Qur`an terdapat ancaman bagi pelaku kemaksiatan, janji bagi orang yang taat kepada Allah, serta kabar tentang rahmat Allah yang luas dan ampunan-Nya.
  4. Senantiasa yakin dengan nasihat-nasihat yang ada di dalamnya dan merujuk kepadanya setiapkali menemui permasalahan.
  5. Mentaati semua perintah dan menghindari semua larangan yang ada di dalamnya.[1]
Wallahu a’lam.
[Selesai]

Link Artikel Berseri:

  1. Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (1)
  2. Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (2)
***

Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (1)

Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (1)

Sudah baca Alquran? sudah mentadaburinya? ingatlah, “Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur`an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

Apa itu Tadabur?

Huruf dasar دبر secara bahasa menunjukkan kepada makna: akhir dari sesuatu. Sedangkan tadabbur (تدبر) menunjukkan kepada makna memperhatikan kesudahan dari suatu perkara, dan memikirkan akibatnya. Dan kata tadabbur digunakan untuk setiap bentuk merenungkan sesuatu, bagian-bagiannya, perkara yang mendahuluinya, perkara yang mengikutinya, atau akibat suatu perkara. Oleh karena itu Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah mendefinisikan tadabbur sebagai berikut ini.
التأمل في الألفاظ للوصول إلى معانيها
“Merenungkan lafal-lafal untuk sampai kepada kandungan-kandungan maknanya”
Kata tadabbur berasal dari wazan At-Tafa’ul (التفعل) yang berfungsi menunjukkan kepada makna membebani perbuatan dan meraih sesuatu setelah mengerahkan usaha yang sungguh-sungguh.
Dengan demikian, orang yang bertadabur adalah orang yang  memperhatikan suatu perkara secara berulang-ulang atau dari berbagai sisi.[1]
Pada asalnya mentadaburi Al-Qur`an itu setelah paham maknanya, karena tidak mungkin seseorang dituntut untuk mentadaburi ucapan yang ia tidak pahami maknanya, dengan demikian mentadaburi Al-Qur`an itu pada asalnya setelah seseorang paham maknanya, atau dengan kata lain, ia paham tafsirnya, baru bisa merenungi berbagai pelajaran yang bisa diambil darinya.

Perintah Tadabur dalam Al-Qur`an Al-Karim

Didalam Al-Qur`an Al-Karim terdapat perintah untuk bertadabur di empat ayat yang agung.
– Dua ayat diturunkan terkait dengan kaum munafiqin, yaitu
firman Allah Ta’ala:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur`an? Kalau kiranya Al-Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa`: 82).
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur`an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).
– Dua ayat diturunkan terkait dengan kaum kafirin, yaitu:
أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ
Maka apakah mereka tidak merenungkan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?” (QS. Al-Mu`minun: 68).
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran (yang baik)” (QS. Shad: 29), kendati ayat yang terakhir ini bisa mengandung kemungkinan bahwa kaum mukminin yang diperintahkan untuk mentadaburi Al-Qur`an, yaitu ketika ayat ini dibaca dengan jenis qira`ah yang menggunakan kata ganti orang kedua.
لتدَّبَّرُوا آيَاتِهِ[2]
“supaya kalian merenungi ayat-ayatnya”
Maksud kalian di sini adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya.[3] Namun yang perlu diperhatikan bahwa turunnya ayat-ayat di atas, meskipun terkait dengan non-mukminin, bukan berarti kaum mukminin tidak tertuntut untuk mentadaburi Al-Qur`an, bahkan mereka lebih tertuntut untuk mentadaburi Al-Qur`an, karena merekalah orang-orang yang mau mengambil manfaat dari Al-Qur`an dengan mentadaburinya.
Adapun penjelasan sebelumnya di atas, sekedar menunjukkan bahwa ayat-ayat di atas diturunkan terkait dengan non mukminin, dan tidaklah menjelaskan siapa saja yang termasuk kedalam orang-orang yang diperintahkan untuk mentadaburi Al-Qur`an.
[Bersambung]
Redaksional
[1]. Diringkas dan sisimpulkan dari Mafhumut Tafsir wat Ta`wil wal Istinbath wal Mufassir, DR. Musa’id bin Sulaiman Ath-Thayyar, hal. 185 dan Ushulun fit Tafsir, Syaikh Al-Utsaimin, hal. 23.
[2]. Ini adalah qiro`ah Abu Ja’far Al-Madani, dan dinisbatkan kepada ‘Ashim [Lihat :Tafsir Ath-Thabari, dinukil dari  Mafhumut Tafsir wat Ta`wil wal Istinbath wal Mufassir, DR. Musa’id bin Sulaiman Ath-Thayyar, hal. 186].
[3]. Tafsir Ath-Thabari dinukil dari  Mafhumut Tafsir wat Ta`wil wal Istinbath wal Mufassir, DR. Musa’id bin Sulaiman Ath-Thayyar, hal. 186.

Link Artikel Berseri:

  1. Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (1)
  2. Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (2)
***


Sumber: https://muslim.or.id/29799-apakah-kita-termasuk-orang-yang-mentadaburi-al-quran-1.html

Minggu, 02 Agustus 2015

Konsisten Secara Total dengan Syariat


Oleh
Ustadz Abu Minhal Lc


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ﴿٢٠٨﴾فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allâh) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [al-Baqarah/2:208-209]. 

MUFRADAT
السِّلْمُ (as-silmu), maksudnya adalah Islam.[1] Pendapat lainnya, ketaatan (kepada Allâh).[2] 

كَافَّةً (kâffatan), maksudnya jamî’an (secara keseluruhan, totalitas).[3] 

PENAFSIRAN AYAT
Ini adalah satu khithâb (panggilan ilahi) yang tertuju kepada kaum Mukminin[4] yang harus didengar dan diperhatikan, untuk melaksanakan kandungan perintahnya dan menjauhi kandungan larangannya. 

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu, Mujahid rahimahullah, Abul ‘Aliyah rahimahullah, Qatâdah rahimahullah, Adh-Dhahhâk rahimahullah dan ulama lainnya memaknai dengan, 'kerjakanlah semua amal shalih dan seluruh jenis kebajikan'.[5] 

Sedangkan Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan, maksudnya adalah Allâh Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan membenarkan para Rasul-Nya, supaya mereka kuat berpegang dengan seluruh tali ajaran Islam dan syariat-syariatnya, mengaplikasikan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya, sesuai jangkauan kemampuan mereka.[6] 

Kaum Mukminin diperintahkan untuk mengerjakan seluruh cabang keimanan dan syariat-syariat Islam, yang banyak jumlahnya sesuai dengan kemampuan,[7] tetapi bukan dengan memilih-milih aturan syariat dan hukum-hukum. Misal, yang sesuai dengan kemaslahatan (kepentingan) dan hawa nafsunya akan diterima dan diamalkan. Sedangkan ajaran yang tidak selaras dengan kemaslahan dan hawa nafsu pribadi, ditolak atau ditinggalkan dan abaikan. Kewajiban kita ialah menerima semua aturan syariat Islam dan hukum-hukumnya secara keseluruhan.[8] 

Mengagungkan syariat dan mengamalkannya termasuk wujud pengagungan seorang hamba kepada Allâh Azza wa Jalla dan bukti keimanannya kepada Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman: 

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allâh). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allâh, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. [al-Hajj/22:32]. 

Seperti halnya para sahabat Nabi, mereka insan-insan yang sangat kuat dalam berpegang dengan ajaran Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, dan tunduk kepada al-haq. Mereka memiliki kesempurnaan iman dibandingkan generasi selanjutnya. 

Simaklah ‘Umar bin Khaththab memuji Abu Bakr ash-Shiddiq: “Dia seorang yang jujur, gemar berbuat baik, memiliki akal yang lurus dan mengikuti al-haq”. [9] 

Simak juga pujian Ibnu ‘Abbas terhadap ‘Umar bin Khaththab Rdhiyallahu anhu : “Dia seorang yang sangat memperhatikan garis-garis aturan Kitabullâh”.[10] 

HARUS MENGHINDARI TIPU-DAYA SETAN
Masuk ke dalam Islam secara total tidak mungkin dilakukan seorang hamba kecuali hanya dengan menghindari dan menjauhi jalan dan bisikan, serta tipu daya setan.[11] Karenanya, pada lanjutan ayat, Allâh Azza wa Jalla berfirman: وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ (dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan). 

Maksudnya, kata Imam Ibnu Katsir rahimahullah: “Kerjakanlah seluruh amal ketaatan dan hindarilah oleh kalian semua yang dibisikkan setan kepada kalian. Karena, “Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allâh apa yang tidak kamu ketahui" (al-Baqarah/2:169), dan “karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (Fâthir/35:6). 

Allâh Azza wa Jalla mengingatkan pada penutup ayat dengan berfirman إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu). 

Mutharrif berkata, “Makhluk Allâh yang paling ampuh tipu muslihatnya terhadap hamba Allâh adalah setan”.[12] 

TIDAK ADA ISTILAH "KULIT" UNTUK AJARAN ALLÂH DAN RASUL-NYA 
Konsistensi dengan ajaran syariat dan mentaati Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendatangkan hidayah dan menjauhkan dari kesesatan. Allâh Azza wa Jalla berfirman: 

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ۚ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Katakanlah: "Taat kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." [an-Nûr/24:54]. 

Allâh Azza wa Jalla berfirman: 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ ۖ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. [Yunus/10:9]. 

Allâh juga berfirman:

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى ۗ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَرَدًّا 

Dan Allâh akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal shalih yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu dan lebih baik kesudahannya. [Maryam/19:76]. 

Imam al-‘Izz bin ‘Abdus-Salam berkata, “Tidak boleh mengatakan bahwa syariat itu qisyrûn (kulit), padahal memuat banyak sekali manfaat dan kebaikan. Bagaimana bisa perintah untuk taat dan beriman disebut ‘kulit’?! Siapapun yang melontarkan sebutan seperti ini tiada lain ia seorang yang dungu, celaka lagi kurang beradab. Seandainya pernyataannya itu dikomentari sebagai qusyûr (tidak penting) pastilah serta-merta ia akan mengingkari orang yang menanggapinya. Bagaimana ia bisa melontarkan penyebutan ‘kulit’ (tidak penting) kepada syariat, padahal syariat itu adalah Kitabullâh dan Sunnah Rasul-Nya. Maka, orang bodoh ini pantas mendapatkan sanksi yang sesuai dengan kesalahannya ini.”[13] 

ANCAMAN BAGI SESEORANG YANG MENYIMPANG DARI JALAN ALLAH AZZA WA JALLA
Seseorang yang tidak taat kepada Allâh Azza wa Jalla , hakikatnya ia justru terjerumus ke dalam perbuatan yang buruk, yaitu mempertuhankan dan mendewakan hawa nafsunya, sehingga menyeretnya kepada kehinaan, kenistaan dan kesengsaraan hakiki. Realitas ini harus disadari oleh setiap Mukmin yang berharap keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. 

Seseorang yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla tidak sepantasnya menjadikan hawa nafsunya sebagai "tuhan" yang ditaati. Maksudnya, jika satu perintah sesuai dengan keinginannya, maka ia akan menjalankannya. Bila satu aturan tidak sejalan dengan hawa nafsunya, ia pun menolak menaatinya. Mestinya, hawa nafsunya harus tunduk patuh kepada aturan agama (Islam), dan mengerjakan amalan kebajikan yang berada dalam jangkauan kemampuannya. Adapun perintah-perintah yang belum sanggup untuk menjalankannya, maka hendaklah ia mematuhi dan menanamkan niat untuk menjalankannya, sehingga ia mendapatkan pahala dengan niatnya itu.[14]

Selanjutnya, pada ayat berikutnya Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran. 

Ayat ini memuat peringatan dan ancaman terhadap seseorang yang menyimpang dan menolak syariat Allâh Azza wa Jalla . Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Bila kalian meninggalkan kebenaran setelah hujjah-hujjah tegak dan jelas di hadapan kalian, maka ketahuilah, bahwasanya Allâh Maha Perkasa untuk membalas (sikap kalian). Tidak ada seorang(pun) yang sanggup melarikan diri dari-Nya, dan tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkan-Nya. Dia (Allâh) Maha Bijaksana dalam ketentuan hukum-hukum-Nya, pembatalan dan penetapan hukum-Nya. Oleh sebab itu para ulama mengatakan, Allâh Maha Perkasa dalam menjatuhkan siksa-Nya, Maha Bijaksana dalam ketentuan-ketentuan-Nya." 

Seorang hamba yang telah mengetahui al-haq, namun kemudian membencinya, maka orang yang seperti ini pantas mendapatkan perlakuan dari Allâh Azza wa Jalla untuk semakin dijauhkan dari kebenaran dan kemudian ditambah kesesatannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman: 

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allâh memalingkan hati mereka. [ash-Shaff/61:5].

Syaikh ‘Abdur-Rahmân as-Sa’di rahimahullah berkata, “Orang yang membenci al-haqq dan justru berjalan mengikuti hawa nafsunya, pantaslah Allâh Azza wa Jalla menambahkan kesesatan untuknya”.[15] 

Cermati pula perkataan Abu Bakr Ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu berikut ini, “Aku khawatir akan menjadi orang yang sesat (menyimpang) bila aku tinggalkan sesuatu dari petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam “. 

Syaikh Hamd bin Ibrâhîm al-‘Utsmân hafizhahullâh mengatakan, dengan demikian (melalui ayat ini), dapat diketahui kesalahan orang-orang yang berada di atas manhaj-manhaj yang tidak berdiri di atas al-haq. Mereka memperlakukan syariat sesuai dengan kehendak sendiri, menjalankan sebagian petunjuk syariat dan berpaling dari petunjuk syariat lainnya yang dianggapnya qusyûr (kulit), atau masalah cabang yang tidak ada urgensi dan kepentingannya. Demikian dalih mereka".

Dengan anggapan yang keliru tersebut, maka tidak diragukan jika mereka telah menodai hikmah Allâh Azza wa Jalla . Syariat Allâh Azza wa Jalla ini tidak diturunkan kecuali ada tujuan dan hikmahnya. Sehingga seandainya ada bagian syariat yang tidak penting, tentu Allâh Azza wa Jalla tidak menurunkan dan mensyariatkannya pada hamba-hamba-Nya, serta memerintahkan mereka untuk bertaqarrub dengan-Nya. 

Allâh Ta’ala mengingatkan: 

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ 

Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? [al-Baqarah/2:85].[16] 

PELAJARAN DARI AYAT 
1.Kewajiban menerima semua aturan syariat Allâh dan Rasul-Nya, tidak boleh memilih sesuai dengan yang disukainya saja.

2. Semua petunjuk syariat baik dan mendatangkan kemaslahatan.

3.Kewajiban bagi kaum Mukminin agar meningkatkan semangat belajar dan mendalami syariat Islam, agar mengetahui semua ajaran Allâh Azza wa Jalla sehingga mengenal Islam dengan lebih baik dan dapat melaksanakannya. 

4.Harus merasa takut terhadap ancaman dan makar dari Allâh Azza wa Jalla.

5. Konsisten dengan ajaran syariat akan mendatangkan hidayah demi hidayah.

6. Pelanggaran terhadap syariat dapat menjauhkan seseorang dari hidayah Allâh Azza wa Jalla . 

Wallahu a’lam. 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVI/1434H/2013M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Ikrimah, Qatadah, adh-Dhahhaak dan lainnya. Lihat Zâdul-Masîr, 1/174; Tafsir al-Qur`ânil-‘Azhim, 1/569. 
[2]. Dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Abul ‘Aliyah dan Rabi’ bin Anas. 
[3]. Zâdul-Masîr, 1/174. 
[4]. Taisiru al-Karîmi ar-Rahmân, hlm. 84. 
[5]. Tafsîru al-Qur`ânil-‘Azhîm, 1/569.
[6]. Tafsîru al-Qur`ânil-‘Azhîm, 1/569.
[7]. Tafsîru al-Qur`ânil-‘Azhîm, 1/570.
[8]. Aisaru at-Tafâsîr 1/.90.
[9]. HR al-Bukhâri no.3094.
[10]. HR al-Bukhâri kitab tafsir no.4642
[11]. Taisir al-Karîmir ar-Rahmân, hlm. 84.
[12]. Tafsîru al-Qur`ânil-‘Azhîm, 1/570.
[13]. Al-Fatawa al-Maushiliyyah, hlm.68-69. Nukilan dari ash-Shawaarifu ‘anil-Haqq, hlm.72-73.
[14]. Taisiru al-Karimi ar-Rahmân, hlm. 84 
[15]. At-Tankîl, hlm. 2/201. Nukilan dari ash-Shawârifu ‘anil Haqqi, hlm.74. 
[16]. Lihat ash-Shawârifu ‘anil-Haqq, hlm.72.
Sumber: http://almanhaj.or.id/content/4088/slash/0/konsisten-secara-total-dengan-syariat/

Kiat-Kiat Menghapal Al-Qur-an Dan As-Sunnah



Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


Seorang penuntut ilmu hendaknya mengetahui bahwa menuntut ilmu memiliki beberapa tahapan yang harus dilalui. Ia harus memulai dari yang paling penting kemudian yang penting. Ia tidak boleh tergesa-gesa, bahkan ia harus bersabar dan mengetahui kadar kemampuan dirinya.

Para ulama kita tidak pernah melewati dan menyimpang dari tahapan menuntut ilmu karena bertahap dalam menuntut ilmu adalah jalan selamat untuk memperoleh ilmu. Bertahap dalam menuntut ilmu ini berdasarkan firman Allah Tabaaraka wa Ta’aala,

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

“Dan Al-Qur-an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap.” [Al-Israa': 106]

Dan firman Allah Ta’ala,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

“Dan orang-orang kafir berkata: ‘Mengapa Al-Qur-an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?’ Demikianlah agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengan-nya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar).” [Al-Furqan: 32]

Banyak manusia yang tercegah dari tujuannya dalam menuntut ilmu karena meninggalkan ushul (landasan pokok). Yang dimaksud ushul adalah Al-Qur-an dan As-Sunnah.

Seorang penuntut ilmu hendaklah memprioritaskan dirinya untuk menghafalkan Al-Qur-an kemudian hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Demikianlah yang dinasihatkan oleh para ulama Salaf kepada orang yang hendak menimba ilmu dari mereka.

Imam Abu ‘Umar Yusuf bin ‘Abdullah bin Muhammad Ibnu ‘Abdil Barr (wafat th. 463 H) rahimahullaah mengatakan, “Menuntut ilmu memiliki tingkatan dan tahapan yang tidak boleh dilanggar. Siapa yang melanggarnya secara keseluruhan, maka ia telah melanggar jalan para ulama Salaf, siapa yang melanggar jalan mereka dengan sengaja, maka ia telah tersesat, dan siapa yang melanggarnya lantaran ijtihadnya, maka ia telah menyimpang.

Awal dari ilmu adalah menghafalkan Kitabullah dan memahaminya. Segala apa yang dapat membantu untuk memahaminya, maka wajib untuk mempelajarinya. Aku tidak mengatakan bahwa menghafal seluruh Al-Qur-an adalah fardhu, tetapi aku katakan bahwa hal itu adalah wajib (sunnah yang mendekati wajib) dan keharusan bagi siapa saja yang ingin menjadi seorang yang alim, bukan fardhu.

Al-Qur-an adalah pokok dari ilmu. Siapa yang menghafalkannya sebelum usia baligh, kemudian meluangkan waktunya untuk mempelajari apa yang dapat membantunya dalam memahaminya berupa bahasa Arab, maka hal itu adalah penolong terbesar untuk mencapai tujuan dalam memahami Al-Qur-an dan Sunnah-Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam...

Kemudian melihat kepada Sunnah-Sunnah yang masyhur, yang telah tetap dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sehingga dengannya seorang penuntut ilmu sampai kepada maksud Allah Ta’ala dalam Kitab-Nya. Dan Sunnah itu membukakan hukum-hukum Al-Qur-an baginya...

Barangsiapa mencari Sunnah-Sunnah Nabi, hendaklah ia prioritaskan pada hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para imam, yang tsiqah dan banyak hafalannya (huffazh)[1].” Maka, wahai saudaraku, engkau harus menghafal ushul dan mencari bantuan dengannya.

Imam Ibnu Jama’ah (wafat th. 733 H) rahimahullaah mengatakan, “Hendaklah (penuntut ilmu) memulai dengan Kitabullaahil ‘Aziiz, menghafalkannya dengan mutqin (betul-betul matang), bersungguh-sungguh memahami tafsirnya, dan semua ilmunya (ilmu Al-Qur-an). Karena, Al-Qur-an adalah pokok ilmu, induk-nya, dan yang paling penting.”[2]

Jadi, target utama penuntut ilmu adalah menghafal Kitabullah dan Sunnah Nabi yang shahih. Setelah itu hendaklah ia menghafalkan kitab-kitab matan, baik dalam bidang aqidah, fiqih, hadits, nahwu, maupun fara-idh. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullaah mengatakan, “Yang paling penting bagi seseorang dalam menuntut ilmu adalah mempelajari tafsir Kalamullaah karena Kalamullaah seluruhnya adalah ilmu. Allah Ta’ala berfirman,

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

“... Dan Kami turunkan Al-Kitab (Al-Qur-an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim).” [An-Nahl: 89]

Dahulu para Shahabat tidak pernah melewati sepuluh ayat sampai mereka mempelajari apa yang ada di dalamnya berupa ilmu dan amal sehingga mereka mempelajari Al-Qur-an, ilmu, dan amal sekaligus. Menurut saya inilah yang paling penting. Maka hendak-lah para remaja -terutama anak-anak- memulainya dengan menghafalkan Al-Qur-an... Bersamaan dengan itu hendaklah penuntut ilmu mencurahkan perhatiannya terhadap Sunnah karena merupakan landasan syari’at yang tidak dapat dipisahkan selamanya, Al-Qur-an dan As-Sunnah keduanya merupakan wahyu. Dan apa yang telah tetap dalam As-Sunnah sama saja dengan apa yang ditetapkan di dalam Al-Qur-an.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

“... Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (As-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar.” [An-Nisaa’: 113][3]

• Kiat-kiat Menghafal Al-Qur-an [4]
Dahulu menghafalkan Al-Qur-an dalam pandangan ulama merupakan hal pokok. Dengannya mereka memulai menuntut ilmu. Karena itulah mereka tidak pernah ragu memulai menghafal Al-Qur-an. Hafalannya menjadi ciri khas yang tampak di masyarakat ulama dan penuntut ilmu. Sebagian Salaf sangat menganggap aib karena tidak menghafal Al-Qur-an. Di antara buktinya adalah apa yang diungkapkan al-Hafizh Ibnu Hajar (wafat th. 852 H) dalam Taqriibut Tahdziib (I/664, no. 4529), tentang biografi ‘Utsman bin Muhammad bin Abi Syaibah, “Dia adalah tsiqah, seorang hafizh yang terkenal, tetapi dia memiliki auham (sejumlah kesalahan) dan dikatakan dia tidak hafal Al-Qur-an.”[5]

Sesungguhnya menghafalkan Al-Qur-an bukan merupakan kewajiban atas seorang penuntut ilmu, tetapi hafalannya adalah kunci menuju jalan hafalan dan pemahaman. Hendaklah seorang penuntut ilmu mengetahui bahwa menghafalkan Al-Qur-an dan mengamalkannya dapat menambah ketinggian derajat. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَ يَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengangkat (derajat) beberapa kaum dengan Kitab (Al-Qur-an) dan merendahkan yang lainnya dengan Al-Qur-an". [6]

Berikut beberapa hal yang dapat membantu se-orang penuntut ilmu dalam menghafal Al-Qur-an:

1. Berdo’a kepada Allah Ta’ala dengan ikhlas agar diberikan kemudahan dalam menghafalkan Al-Qur-an. Hendaklah menghafal Al-Qur-an dilakukan dengan ikhlas semata-mata mencari keridhaan Allah Ta’ala.

2. Memperdengarkan semampunya ayat-ayat yang telah dihafalnya kepada seorang qari’ yang baik bacaan dan hafalannya.

3. Mengulang-ngulang ayat yang telah dihafal secara terjadwal dan berusaha untuk disiplin.

4. Menggunakan satu mushaf Al-Qur-an agar dapat menguatkan hafalan.

5. Mengulang-ngulang ayat yang dihafal sepuluh kali/dua puluh kali -boleh juga lebih- dengan berdiri, duduk, dan berjalan.

6. Membaca ayat-ayat yang baru dihafalkan dalam shalat karena dapat lebih melekatkan hafalan.

7. Membaca terjemah dan tafsir ayat yang telah dihafalkan.

8. Menjauhi dosa dan maksiyat.

Imam adh-Dhahhak (wafat th. 102 H) rahimahullaah mengatakan, “Tidaklah seseorang mempelajari Al-Qur-an kemudian ia lupa, melainkan disebabkan dosa.” Beliau lalu membaca firman Allah,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” [Asy-Syuura: 30]

Kemudian beliau melanjutkan, “Musibah apakah yang lebih besar daripada melupakan al-Qur-an?” [7]

9. Menentukan jadwal yang teratur untuk menentukan batas hafalan harian (apa yang dihafal setiap hari).

Diusahakan untuk tidak menyelisihi aturan atau mengubahnya, kecuali karena ada hal-hal yang darurat untuk dilakukan.

10. Hendaknya ayat yang diahafal sedikit setiap hari agar lebih melekat

Bagi yang sudah hafal beberapa juz Al-Qur-an atau yang sudah hafal 30 juz, hendaklah ia selalu muraja'ah (mengulang-ngulang) hafalannya dan menjaganya dengan baik karena Al-Qur-an lebih cepat hilangnya daripada unta yang diikat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

تَعَاهَدُوْا هَذَا الْقُرْآنَ، فَوَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُتَا مِنَ الْإِبِلِ فِيْ عُقُلِهَا

Bacalah selalu Al-Qur'an ini. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh, Al-Qur-an itu lebih mudah lepas daripada seekor unta dalam ikatannya"[8]

• Kunci dalam Menghafal dan Mengingat
Ada beberapa hal penting yang dapat membantu penuntut ilmu dalam menghafalkan atau mengingat pelajarannya dengan gambaran yang baik, di antaranya:

1. Mengikhlaskan niat karena Allah dan mengharapkan ganjaran dari-Nya.

2. Menjauhi hal-hal yang diharamkan dan dilarang syari’at.

3. Hasil usaha yang baik, memakan makanan yang halal dan menjauhi yang haram.

4. Mengosongkan hati dari berbagai kesibukan.

5. Tidak menghafal pada saat sangat lapar, haus, capek, atau pada saat hatinya sibuk dengan urusan yang lain.

6. Berkemauan tinggi, bersungguh-sungguh, dan terus mengulangi pelajaran agar berhasil menghafal.

7. Tidak putus asa dengan jeleknya kemampuan menghafal dan terus mengulang-ngulang pelajaran.

8. Mengulangi pelajaran dengan suara yang dapat didengarnya karena mendengarkan pelajaran dapat membantunya dalam menghafal.

9. Menggunakan bantuan pena atau kertas untuk menyusun segala apa yang dapat membantunya dalam menghafal, atau mengulang-ngulang pela-jaran dengan cara ditulis.

10. Dan sebelum semua hal di atas, hendaklah selalu bertaqwa kepada Allah Ta’ala.[9]

Imam al-Bukhari rahimahullah adalah orang yang kuat hafalannya. Beliau pernah ditanya, "Apakah obat lupa itu?" Beliau menjawab, "Senantiasa melihat ke kitab" (Yaitu selalu membaca dan mengulanginya).[10]

• Waktu-waktu Terbaik untuk Menghafal
Imam Ibnu Jama’ah rahimahullaah menuturkan, “Waktu yang paling baik untuk menghafal adalah ketika sahur; untuk membahas di pagi hari; untuk menulis di siang hari; dan untuk muthala’ah dan berdiskusi (mudzakarah) di malam hari.”

Al-Khatib al-Baghdadi (wafat th. 463 H) rahimahullaah mengatakan, “Waktu yang paling baik untuk menghafal adalah di waktu sahur, kemudian pertengahan hari, dan selanjutnya di pagi hari.” Beliau menambahkan, “Menghafal di malam hari lebih mendatangkan manfaat daripada menghafal di siang hari, dan ketika lapar (yang tidak sangat) lebih bermanfaat daripada ketika kenyang.” [11]

• Tempat Terbaik untuk Menghafal
Imam Ibnu Jama’ah mengatakan -menukil dari al-Khatib, “Tempat yang paling baik untuk menghafal adalah kamar dan setiap tempat yang jauh dari hal-hal yang membuat lalai.” Beliau berkata, “Tidak baik apabila menghafal di tempat yang terdapat tumbuhan, di sekitar pohon-pohon yang menghijau, di tepi sungai, di tengah jalan, dan tempat yang bising karena hal itu (umumnya) dapat mencegah kosongnya hati (untuk menghafal).”[12]

• Penuntut Ilmu Harus Akrab dengan Al-Qur-an
‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ber-sabda kepadaku,

اِقْرَإِ الْقُرْآنَ فِيْ كُلِّ شَهْرٍ، قَالَ: قُلْتُ: إِنِـّيْ أَجِدُ قُوَّةً. قَالَ: فَاقْرَأْهُ فِيْ عِشْرِيْنَ لَيْلَةً، قَالَ: قُلْتُ: إِنِـّيْ أَجِدُ قُوَّةً، قَالَ: فَاقْرَأْهُ فِيْ سَبْعٍ وَلَا تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ.

“Bacalah Al-Qur-an (sampai khatam) setiap bulan.” ‘Abdullah berkata, aku berkata, “Sungguh, aku mampu mengerjakan lebih dari itu.” Rasulullah bersabda, “Maka bacalah (sampai khatam) selama dua puluh hari.” ‘Abdullah berkata, aku berkata, “Sungguh, aku mampu melakukan lebih dari itu.” Rasulullah bersabda, “Jika demikian, bacalah (sampai khatam) selama tujuh hari dan jangan lebih dari itu.” [13]

Jundub bin ‘Abdullah bin Sufyan al-Bajali (wafat antara th. 60-70 H) radhiyallaahu ‘anhu pernah berwasiat, “Aku berwasiat kepada kalian, hendaklah bertakwa kepada Allah. Aku juga berwasiat kepada kalian agar selalu (membaca dan menghayati) kandungan Al-Qur-an karena ia adalah cahaya di malam yang kelam dan petunjuk di siang yang terang. Ketahuilah bahwa Al-Qur-an bisa menyebabkan kamu meraih sesuatu yang nilainya sangat tinggi... .”[14]

[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]
_______
Footnote
[1]. Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (II/1129-1130).
[2]. Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim (hal. 167-168).
[3]. Kitaabul ‘Ilmi (hal. 222-223) dengan sedikit perubahan.
[4]. Dinukil dari kitab Ma’aalim fii Thariiq Thalabil ‘Ilmi (hal. 193-200) dengan diringkas.
[5]. Taqriibut Tahdziib (1/664, no. 4529)
[6]. Hadits Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 817), dari Sha-habat ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu.
[7]. Mukhtashar Qiyaamul Lail (hal. 162), dinukil dari kitab Ma’aalim fii Thariiq Thalabil ‘Ilmi (hal. 200).
[8]. Hadits shahih : Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5033) dan Muslim (no. 791 (231)) dari Shahabat Abu Musa al-Asy'ari radhiyallaahu anhu
[9]. Dinukil dari kitab ath-Thariiq ilal ‘Ilmi (hal. 59-60).
[10]. Jaami' Bayaanil 'Ilmi wa Fadhlihi (II/1277, no. 2414)
[11]. Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim fii Aadaabil ‘Aalim wal Muta’allim (hal. 118-119), karya Imam Ibnu Jama’ah rahimahullaah.
[12]. Ibid (hal. 119).
[13]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5054) dan Muslim (no. 1159 (184), lafazh ini milik Muslim.
[14]. Siyar A’laamin Nubalaa’ (III/174).

Sumber: http://almanhaj.or.id/content/3277/slash/0/kiat-kiat-menghapal-al-qur-an-dan-as-sunnah/

Sabtu, 02 Maret 2013

Beberapa Faedah Mengetahui ‘Asbâb an-Nuzûl

Mengetahui 'Asbâb an-Nuzûl' sangat urgen sekali sebab ia dapat memberikan faedah yang banyak sekali, diantaranya: 


1. Menjelaskan bahwa al-Qur'an turun dari Allah Ta'ala, sebab Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam biasanya ditanya tentang sesuatu, lalu terkadang beliau tidak menjawab hingga wahyu turun. Atau gambarannya, bisa jadi beliau tidak mengetahui sesuatu yang terjadi, lantas wahyu turun menjelaskan hal itu.

Contoh pertama (beliau tidak menjawab hingga wahyu turun-red), firman-Nya (artinya):
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah:'Roh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.'" (Q.,s.al-Isrâ`:85)

Di dalam kitab Shahîh al-Bukhary dari Abdullah bin Mas'ud radliyallâhu 'anhu bahwasanya seorang dari bangsa Yahudi berkata, "Wahai Abal Qasim! (kun-yah/panggilan buat Nabi Muhammad-penj.,) apa itu ruh?." Lalu beliau diam. (di dalam lafazh riwayat yang lain disebutkan), "Lalu Nabi tidak berkomentar dan tidak menjawab dengan sepatah katapun." Dari situlah aku (yakni periwayat hadits ini, Ibnu Mas'ud-red) mengetahui bahwa itu adalah wahyu yang sedang diwahyukan kepadanya. Lalu aku berdiri di tempatku, dan tatkala wahyu sudah turun, beliau membaca ayat (artinya): "Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah:"Roh itu termasuk urusan Rabb-ku…". (Q.,s.al-Isrâ`:85)

Contoh kedua (beliau tidak mengetahui sesuatu yang terjadi lantas wahyu turun menjelaskan hal itu-red) adalah firman-Nya (artinya):
"Mereka berkata:'Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.'" (Q.,s.al-Munâfiqûn:8)

Di dalam kitab Shahîh al-Bukhary disebutkan bahwasanya Zaid bin Arqam radliyallâhu 'anhu mendengar Abdullah bin Ubay, kepala kaum Munafiqun mengatakan hal itu, dia ingin menyatakan bahwa dialah yang dimaksud dengan ÇáÃÚÒ (orang yang kuat) dan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam beserta para shahabatnya sebagai ÇáÃÐá (orang-orang yang lemah). Lantas Zaid memberitahukan kepada pamannya perihal tersebut yang kemudian menginformasikan kepada Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam. Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam lantas memanggil Zaid, lalu dia menginformasikan kepada beliau perihal apa yang telah dia dengar itu. Kemudian beliau mengirim utusan kepada Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya (untuk mengkonfirmasikan hal itu-red), akan tetapi mereka malah bersumpah tidak pernah mengatakan seperti itu. Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam condong membenarkan ucapan mereka, namun Allah menurunkan ayat yang justeru membenarkan ucapan Zaid sehingga jelaslah permasalahannya bagi Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam.

2. Menjelaskan betapa 'inayah Allah terhadap Rasul-Nya di dalam membelanya.
Contohnya, firman Allah Ta'ala (artinya):
"Berkatalah orang-orang kafir:'Mengapa al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?'; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar)." (Q.,s.al-Furqân: 32)
Demikian pula dengan ayat-ayat tentang 'berita bohong' (yang menerpa isteri Rasulullah 'Aisyah radliyallâhu 'anha -red). Ayat-ayat tersebut membela pelaminan Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam dan menyucikannya dari kotoran yang dilumuri oleh para penyebar berita dusta.

3. Menjelaskan betapa 'inayah Allah terhadap para hamba-Nya di dalam melapangkan kesulitan yang mereka alami dan menghilangkan keperihan hati mereka.
Contohnya, ayat tentang 'Tayammum' sebagaimana terdapat di dalam kitab Shahîh al-Bukhâry bahwa pernah cincin 'Aisyah radliyallâhu 'anha hilang saat dirinya ikuatserta dalam sebagian perjalanan yang dilakukan Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam. Lalu karena itu, Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam memerintahkan rombongan untuk bermukim dulu guna mencari cincin tersebut dan akhirnya merekapun bermukim dalam kondisi tidak menemukan air. Mereka mengeluhkan hal itu kepada Abu Bakar. Lalu Abu Bakar menyebutkan hadits tersebut…(di dalamnya terdapat), "Maka Allah turunkan ayat Tayyammum, lalu mereka bertayammum." Usaid bin Khudlair berkata, "Ini bukanlah keberkahan yang pertama kalinya yang dilimpahkan kepada kalian, wahai Ali (keluarga besar) Abu Bakar!."
Hadits tentang hal ini secara panjang lebar terdapat di dalam Shahîh al-Bukhâry.

4. Memahami ayat secara benar.
Contohnya, firman Allah Ta'ala (artinya):
"Sesungguhnya Shafâ dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya." (Q.,s.al-Baqarah:158)

Yakni, dia melakukan sa'i diantara keduanya, sebab secara zhahir, firman Allah (ÝáÇ ÌäÇÍ Úáíå), "Maka tidak ada dosa baginya…". Mengindikasikan bahwa maksimal masalah melakukan sa'i diantara keduanya tersebut tergolong ke dalam hal yang Mubah (boleh-boleh saja).
Di dalam Shahîh al-Bukhâriy dari 'Ashim bin Sulayman, dia berkata, aku bertanya kepada Anas bin Malik radliyallâhu 'anhu tentang Shafa dan Marwah, dia berkata, "Kami dahulunya memandang bahwa kedua hal tersebut (thawaf dan sa'i) termasuk perkara Jahiliyyah sehingga tatkala Islam datang, kami tetap menahan untuk tidak melakukan keduanya, lantas turunlah firman Allah Ta'ala (artinya): "Sesungguhnya Shafâ dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah…" hingga firman-Nya (artinya): "…mengerjakan sa'i di antara keduanya."

Dengan demikian diketahui bahwa Nafyul Junâh (penafian dosa) di dalam ayat tersebut, maksudnya bukanlah untuk menjelaskan hukum tentang Sa'i, tetapi maksudnya untuk menafikan (meniadakan) rasa risih yang mereka tampakkan tersebut dengan cara menahan diri dari melakukannya karena memandang kedua hal itu (thawaf dan sa'i) merupakan bagian dari perkara Jahiliyyah. Sedangkan hukum asal dari ibadah Sa'i dapat jelas dipahami melalui firman-Nya (artinya): "…adalah sebagian dari syi'ar Allah..."

(SUMBER: Muqaddimah Fit Tafsîr, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimîn, Hal.14-15)

Senin, 24 Desember 2012

Dengan apakah engkau hendak memahami al-qur’an dan as-sunnah?


Muqaddimah
Sebagai seorang muslim kita dituntut untuk menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup. Keselamatan hidup kita, dunia dan akhirat, hanya akan diperoleh dengan cara kita tunduk dan patuh kepada keduanya.
Namun kenyataan di lapangan menunjukan bahwa kaum muslimin terpecah-belah dalam berbagai pemahaman. Semua mengklaim dirinyalah yang berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Masing-masing mengaku paling benar dan menyalahkan orang lain yang menyelisihinya.
Pertanyaan kita adalah siapakah yang paling benar dan paling tepat dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga kita tidak boleh meyelisihi mereka?
Jawabannya adalah para sahabat Nabi (Ridwanullåh ‘alaihim jamiy’an). Para sahabat (Radhiyallåhu ta’ala ‘anhum ajma’in) itulah orang-orang yang paling paham tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah karena mereka hidup di zaman turunnya kedua wahyu tersebut kepada Nabi. Maka wajib bagi kita mengikuti petunjuk dan bimbingan mereka. 1
Memahami dan Menafsirkan Nash Berdasarkan Pemahaman Para Shahabat2
Para Sahabat (Ridwanullåh ‘alaihim jamiy’an) adalah pendukung-pendukung Rasulullah (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), merekalah yang paling memahami risalahnya.
Dalam hal ini Rasulullah (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda:

مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ

Tidak ada seorang nabipun sebelumku yang diutus oleh Allah kepada satu umat, kecuali pada umatnya itu ada pendukung-pendukung dan Sahabat-Shåhabat yang mengambil sunnahnya dan mengikuti perintahnya

ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ

Kemudian datang setelah mereka orang-orang yang mengatakan apa yang mereka tidak lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.

فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

Siapa yang memerangi mereka dengan tangannya, dialah Mu’min.

وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

Siapa yang memerangi mereka dengan lidahnya, dialah Mu’min.

وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

Dan siapa yang memerangi mereka dengan hatinya, dialah Mu’min.

وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ

Tidak ada iman setelah itu walau sebesar biji sawi pun.” [HR. Muslim] 3
Para Sahabat selalu bertanya kepada Rasulullah (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) tentang segala masalah yang mereka hadapi. Seperti yang diriwayatkan dari ‘Aisyah, bahwa setiap kali mendengar sesuatu yang tidak diketahuinya, langsung bertanya kepada Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) sampai ia tahu. [HR. Bukhåriy] 4
Dengan ini bisa diketahui bahwa apa saja masalah yang terlintas dalam benak seseorang, yang belum ditanyakan oleh para Sahabat di saat mereka membutuhkannya dan sebab-sebabnya ada pada mereka, ketahuilah bahwa yang demikian itu adalah tipu daya setan.
Yang wajib bagi da’i adalah mengambil sikap sebagaimana sikap para Sahabat, dan hendaknya ia mengetahui bahwa Allåh (Subhanahu Wa Ta’ala) tidak membiarkan sesuatu yang sangat kita butuhkan karena lupa atau terlupakan.
Keutamaan Sahabat
1. Ibnu Mas’ud (Rådhiyallåhu ‘anhumaa) berkata:
“Sesungguhnya Allah melihat hati seluruh manusia, maka didapatkan bahwa hati Muhammad (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) adalah yang paling baik, maka dipilihnya dan dibebani dengan risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati seluruh manusia setelah hati Muhammad (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), maka Dia mendapatkan hati para Sahabatnya adalah hati yang terbaik, lalu mereka dijadikan pembela-pembela nabi-Nya dan berperang di atas agama-Nya.” [Atsar Shåhih, R. Ahmad]5
2. Firman Allåh (Subhanahu Wa Ta’ala):
وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. (Q.S. Saba: 6)
Qatadah berkata:
“Mereka itu adalah para Sahabat Nabi.”6
Memahami Nash sesuai Pemahaman Shåhabat (Ridwanullåh ‘alaihim jamiy’an)
Pertama, Dalil dari Al-Qur’an
Firman Allåh (Subhanahu Wa Ta’ala):
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً
“Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihanagar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (Q.S. Al-Baqarah: 143)
Kata “الوسط” berarti orang-orang yang baik nan lurus. Para Sahabat adalah umat terbaik, umat yang paling lurus dalam perkataan, perbuatan, keinginan dan niat. Dari itu mereka berhak menjadi saksi bagi para rasul atas umat mereka di hari kiamat.7
Kedua, Dalil dari As-Sunnah
Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda:

“خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ”

“Manusia yang paling baik adalah generasi (yang hidup bersama)ku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” [HR. Bukhariy, Muslim dan Ahmad]8
Makna umum dalam hadits ini mengandung pengertian bahwa kebaikan mereka mencakup akidah, pemahaman dan perbuatan.
Ketiga, Dalil dari Ijma’
Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa:
“Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dari semua kelompok sepakat bahwa generasi terbaik dari umat ini –dalam perbuatan, perkataan, akidah dan keutamaan lainnya- adalah generasi pertama, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.
Dan mereka lebih utama dari generasi Khalaf dalam semua keutamaan ilmu, iman, pemikiran, agama, ucapan dan ibadah. Dan mereka lebih berhak untuk menjelaskan segala permasalahan. Hal ini tidak ditolak kecuali oleh orang yang menentang sesuatu yang harus diketahui dari agama Islam, dan orang yang disesatkan oleh Allah…”9
Hudzaifah Ibnul Yaman berkata:
“Bertakwalah wahai para penghafal Al-Qur’an! Ambilah jalan orang-orang sebelum kalian. Demi Allah! Seandainya kalian konsisten di atasnya, kalian pasti mendapat prestasi yang sangat tinggi. Namun seandainya kalian berpaling ke kiri dan ke kanan, niscaya kalian tersesat sejauh-jauhnya.”10
Imam Ahmad berkata:
“Dasar-dasar Ahlus-Sunnah adalah, berpegang teguh kepada apa yang dipegang oleh Sahabat Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), meneladani mereka dan meninggalkan bid’ah…” 11
Keempat, Dalil dari Akal
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata:
“Adalah mustahil bila generasi-generasi terbaik –generasi yang hidup saat Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) diutus, generasi berikutnya dan generasi berikutnya- tidak mengetahui dan tidak berpendapat dengan benar, karena ini menunjukkan dua kemungkinan: Pertama, tidak tahu dan tidak berpendapat. Kedua. meyakini seseuatu yang tidak benar dan pendapat yang berlawanan dengan kebenaran. Kedua kemungkinan itu tidak pernah terjadi.
Adapun tidak terjadinya kemungkinan pertama (tidak tahu), karena orang yang hatinya hidup, memiliki semangat mencari ilmu atau gairah tinggi untuk ibadah, maka tujuan utama dan cita-cita tertingginya adalah mencari mencapai kebenaran… Dan jiwa-jiwa yang hidup tidak mempunyai keinginan yang lebih tinggi daripada mencapai kebenaran. Satu hal yang pasti diketahui oleh fitrah manusia. Yang demikian ini merupakan keniscayaan pada orang-orang yang hidup di tiga generasi utama.
Tidak terjadinya kemungkinan kedua (bahwa mereka meyakini atau berpendapat yang tidak benar). Hal ini tidak mungkin diyakini oleh seorang Muslim yang mengetahui keadaan mereka.”12
Para Sahabat adalah umat yang paling paham, paling bersih hatinya, paling dalam ilmunya, tidak mengada-ada, paling benar tujuannya, paling sempurna fitrah dan kemampuannya dan paling sehat akalnya. Mereka menyaksikan turunnya wahyu, mengetahui penafsirannya dan memahami semua maksud Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam). Karena orang yang mendengar, mengetahui dan melihat orang yang berbicara tidak sama dengan orang yang tidak melihat dan tidak mendengar langsung, atau mendengar melalui perantara, atau melalui banyak perantara. Maka dari itu, kembali kepada keyakinan dan ilmu para Sahabat adalah sebuah keniscayaan bagi orang yang datang setelah mereka, yang tidak memiliki keutamaan seperti mereka.
Salaf Lebih Tahu Bahasa Al-Qur’an
Al-Qur’an turun dengan bahasa Arab, sejalan dengan penggunaan bahasa yang mereka ketahui dan kebiasaan dalam berkomunikasi. Orang yang menguasai bahasa Arab dengan sangat baik, pasti lebih memahami Al-Qur’an dan menguasai bahasanya. Tidak diketahui bahwa ada orang yang lebih fasih, lantang dan benar dalam berkomunikasi dengan bahasa Arab daripada orang-orang yang hidup pada tiga generasi utama. Dan yang lebih utama dari ketiga generasi itu adalah generasi Sahabat Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam).
Di Antara Sebab Kesalahan dalam Tafsir: Ketidaktahuan terhadap Bahasa Arab dan Tersebarnya ‘Ujmah (Selain Bahasa Arab).
Inilah sebab pertama munculnya bid’ah di kalangan kaum Muslimin.
Al-Auza’i berkata:
“Yang pertama kali membicarakan masalah taqdir adalah seorang laki-laki dari Irak yang bernama Susan, dia seorang Kristen yang masuk Islam, kemudian kembali kepada Kristen. Kemudian Ma’bad al-Juhani13
Al-Hasan berkata:
“Hati-hatilah terhadap Ma’bad! Dia orang sesat dan menyesatkan. Dia dibunuh oleh ‘Abdul-Malik dan disalib di Damaskus pada tahun 80 H. Lihat Tahdziib al-Tahdziib, Ibnu Hajar: II/225.] belajar kepadanya dan Ghailan14 belajar kepada Ma’bad.
Asy-Syafi’i berkata:
“Tidaklah manusia menjadi bodoh dan banyak berselisih, kecuali karena mereka meninggalkan bahasa Arab dan lebih senang kepada bahasa Aristoteles”.15
Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Ashmu’i:
“‘Amr bin ‘Ubaid datang kepada Abu ‘Amr bin al-’Ala, berdebat dengannya tentang siksa bagi pelaku dosa besar. ‘Amr berkata: “Wahai Abu ‘Amr! Apakah Allah akan mengingkari janji-Nya?
“Allah tidak akan mengingkari janji-Nya” Jawab Abu ‘Amr.
“Tapi Allah mengatakan seperti itu” kata ‘Amr
“Di mana?”
Lalu ‘Amr membacakan ayat yang di dalamnya ada ancaman Allah.
“Abu ‘Amr berkata: “Kamu dapatkan itu dari selain bahasa Arab. Janji (الوعد)itu tidak sama dengan ancaman (الإيعاد).”
Maksudnya, bahwa الوعد adalah untuk kebaikan seperti surga (bagi orang Mu’min) ini adalah janji, dan Allåh (Subhanahu Wa Ta’ala) tidak akan mengingkarinya. Sementaraالوعيد (ancaman) adalah untuk keburukan, seperti siksa neraka. Ini tergantung kehendak Allåh (Subhanahu Wa Ta’ala), dilaksanakan atau tidaknya.
Salaf Lebih Tahu tentang Tafsir Al-Qur’an
Mengingat tingginya penguasaan para Sahabat dan Tabi’in terhadap bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur’an, maka pemahaman mereka lebih kuat dan penguasaan terhadap makna-maknanya lebih dalam dibandingkan dengan orang-orang yang datang setelah mereka.
Maka apa yang dipahami oleh Salaf dari Al-Qur’an adalah lebih tepat untuk dirujuk, daripada pemahaman orang-orang setelah mereka, karena mereka sepakat dalam mengimani Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya, mengimani hari akhir dan masalah lainnya dalam akidah serta pokok-pokok agama. Tidak diketahui adanya perbedaan pendapat di antara mereka dalam masalah ini.
Dari itu, metode penafsiran yang paling baik adalah: tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, kemudian dengan As-Sunnah, kemudian dengan perkataan Sahabat dan Tabi’in.16
Bahkan sebagian ahli hadits mensejajarkan penafsiran seorang Sahabat dengan hadits marfu’ (hadits yang sampai kepada Rasulullah).17
Al-Hakim berkata:
“Pencari ilmu agama mengetahui bahwa penafsiran Shåhabat (Ridwanullåh ‘alaihim jamiy’an) yang menyaksikan turunnya wahyu, menurut Bukhari dan Muslim termasuk hadits yang sampai kepada Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam).”18
Karena diketahui bahwa mereka sangat hati-hati dalam berbicara tentang Al-Qur’an tanpa dasar ilmu.
Imam Ahmad berkata:
“Boleh merujuk penafsiran salah seorang Sahabat bila tidak ada Sahabat lain yang menyelisihinya.”19
Anda tidak akan menemukan satu pun kitab Salaf dan ulama Ahlus-Sunnah yang mengikuti metodenya, kecuali di dalamnya dinukil perkataan Sahabat, Tabi’in dan para imam yang mendapat pentunjuk. Dengan itu mereka menafsirkan Al-Qur’an dan berhujjah untuk membantah orang-orang yang menyelisihi mereka, dan konsisten di atasnya untuk mencapai kebenaran.
Adapun bila ditemukan perbedaan pendapat di antara mereka dalam menafsirkan beberapa kata, maka sebenarnya itu hanya perbedaan variatif (saling melengkapi), bukan perbedaan kontradiktif (saling bertentangan). Kadang-kadang mereka menerangkan sesuatu dengan bermacam-macam keterangan, kadang-kadang masing-masing menyebutkan salah satu keterangan untuk kata yang ditafsirkan itu, atau menyebut satu contoh dengan tidak bermaksud membatasi, ada pula yang menerangkan sesuatu dengan sifat yang selalu meyertainya atau dengan padanannya, dan di antara mereka ada yang langsung menyebut salah satunya, sehingga orang yang tidak tahu mengira bahwa itu adalah perbedaan, lalu menukilnya menjadi beberapa pendapat, padahal maknanya satu.20
Sedangkan perbedaan kontradiktif sangat sedikit. Hal itu disebabkan ketidaktahuan sebagian mereka terhadap ilmu, karena tidak semua Sahabat menerima Al-Qur’an langsung dari Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) tanpa perantara. Sebagian dari mereka mengambil dari Sahabat lain, sebagian hadir di saat yang lain tidak hadir dan mungkin sebagian lupa apa yang dihafal oleh yang lain.21
Beberapa Contoh Tafsir Sahabat
1. Aslam bin Yazid Abu ‘Imran berkata:
“Pada saat peperangan di Konstantinopel, ada seorang laki-laki Muhajirin yang menyerang menembus barisan musuh. Pada saat itu, Abu Ayyub al-Anshari bersama kami.
Orang-orang berkata: “ألقى بيده إلى التهلكة (Dia telah mencelakakan dirinya sendiri).
Abu Ayyub berkata:
“Kami lebih tahu tentang ayat ini. Sesungguhnya ayat ini turun kepada kami yang telah menemani Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), berjuang bersamanya dalam berbagai pertempuran dan kami membelanya. Setelah Islam tersebar dan meraih kejayaan, kami dan beberapa orang Anshar berkumpul secara rahasia.
Kami katakan:
“Allah telah memuliakan kita dengan menemani Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) dan membelanya, sampai Islam tersebar dan banyak pengikutnya, dan kita lebih memperhatikan beliau daripada keluarga, harta dan anak-anak kita. Sekarang peperangan telah berakhir, maka marilah kita kembali kepada keluarga dan anak-anak kita.” Maka turunlah ayat ini. (Q.S. Al-Baqarah: 195)
Jadi, yang dimaksud dengan mencelakakan diri sendiri itu adalah tinggal bersama keluarga, mengurus harta dan meninggalkan jihad.”
[Shåhih, HR. Abu Dawud dan Tirmidziy]22
2. Suatu ketika Abu Bakr rådhiyallåhu ta’ala a’nhu berkhutbah. Setelah bertahmid ia berkata:
“Wahai manusia, sungguh kalian membaca ayat ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
(Q.S. Al-Maa-idah: 105)
Tapi kalian menempatkan bukan pada tempatnya. Karena aku mendengar Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda:
“Sesungguhnya bila manusia melihat kemunkaran dan tidak merubahnya, maka sudah dekat sekali hukuman Allah ditimpakan kepada mereka semua.”
[Atsar Shåhiih, Riwayat Ibnu Majah dan Ahmad]23
Faidah Berpegang Kepada Pemahaman Salaf
Pertama – Pemahaman Salaf mencegah perpecahan dan perselisihan
Berkata ‘Umar bin al-Khaththab Rådhiyallåhu ta’ala ‘anhu (kepada Ibnu ‘Abbas rådhiyallåhu ta’ala ‘anhumaa):
“Bagaimana umat ini bisa berselisih padahal nabi mereka adalah satu dan qiblatnya satu?”
Ibnu ‘Abbas rådhiyallåhu ta’ala ‘anhumaa menjawab:
“Wahai Amirul-Mu’minin! Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan kepada kita. Kita membacanya dan mengetahui pada siapa Al-Qur’an itu turun. Kemudian akan datang setelah kita orang-orang yang membaca Al-Qur’an tetatpi tidak tahu pada siapa ia diturunkan, lalu mereka menggunakan akal mereka, dan bila mereka menggunakan akal, pastilah terjadi perselisihan, dan bila mereka berselisih, pastilah terjadi pertikaian…”24
Kedua – Memperhatikan pengamalan dan pemahaman Salaf terhadap dalil adalah bukti kebenaran penggunaan dalil dan memastikan kebenarannya
Karena pengamalan Salaf terhadap dalil terlepas dari kemungkinan-kemungkinan yang dikira-kira, memberikan kepastian, menerangkan yang global, menghilangkan kesulitan dan menolak kesalahpahaman.25
Ketiga – Tidak membicarakan apa yang tidak dibicarakan Salaf
Karena semua yang tidak dibicarakan oleh Salaf dan dibicarakan kalangan Khalaf, yang berhubungan dengan masalah akidah dan keimanan, lebih baik dan lebih tepat untuk didiamkan. Karena kalangan Khalaf hanya mendatangkan kata-kata keliru dan palsu. 26
Keempat – Memutus sumber bid’ah dan kesesatan
Karena banyak kelompok sesat yang bergantung dengan makna yang jauh yang dimungkinkan oleh dalil, lalu mereka mengarahkannya untuk mendukung madzhab dan membela bid’ah mereka.
Padahal pemahaman Salaf terhadap dalil tersebut adalah penentu dan benar, selain pemahaman itu adalah kesesatan dan penyelewengan.
Allåh (Subhanahu Wa Ta’ala) berfirman:

فَإِنْ آمَنُواْ بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَواْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu Telah beriman kepadanya, sungguh mereka Telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, Sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”
(Q.S. Al-Baqarah: 137)
Kelima – Salaf dan Ahlus-Sunnah menggunakan kaidah ini untuk membantah para penentang
Kita sebutkan contohnya, yaitu perkataan Ibnu ‘Abbas kepada Khawarij pada saat mendebat mereka:
Ibnu ‘Abbas berkata:
“Aku datang kepada kalian dari Sahabat-sahabat Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), di mana tidak ada satu pun di antara kalian termasuk mereka, dan aku adalah sepupu Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam). Ketahulilah bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada mereka dan merekalah yang paling tahu tafsirnya” [Atsar Shahiih, Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa'i]27
Dalam perkataan Ibnu ‘Abbas yang penting ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya:
1. Penjelasan bahwa tidak ada seorang pun Sahabat Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) yang termasuk ahli bid’ah.
2. Bahwa setiap kelompok atau madzhab yang di dalamnya tidak ada Sahabat, atau madzhab Sahabat, atau cara mereka dalam beragama, berarti para pendukungnya berkumpul di atas kesesatan dan membuat pondasi bid’ah.
3. Bahwa bergabung kepada Sahabat atau madzhab mereka dan memegang teguh manhaj mereka, adalah pangkal keselamatan dan kebahagiaan hakiki.
4. Bahwa apa yang dipegang oleh Sahabat kebenaran yang harus dijadikan acuan oleh semua orang, dan tidak sebaliknya.
5. Bahwa para Sahabat adalah yang paling tahu tentang tafsir Al-Qur’an, karena mereka menyaksikan saat turunnya dan melihat peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengannya, maka pemahaman dan penguasaan mereka terhadap Al-Qur’an lebih diutamakan daripada siapa pun selain mereka.28
Khatimah
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas jelaslah bahwa mengikuti jalan hidup Rasulullah dan para sahabat adalah satu-satunya jalan keluar dan pilihan yang tepat. Lalu, siapakah di antara sekian banyak kelompok dalam Islam yang jalan hidupnya mengikuti Rasulullah shållallåhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya? Jawabannya tidak lain adalah para pengikut manhaj salaf (salafiyyun).
Jawaban tersebut disimpulkan dari dua hal berikut:
Pertama
Paham-paham sesat seperti Khawarij, Rafidhah (Syi‘ah), Murji‘ah, Jahmiyah, Qadariyah, Mu‘tazilah, dan lain-lain muncul setelah masa kenabian dan masa Khulafa’ Rasyidin. Paham-paham sesat seperti itu bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan manhaj (memahami dan mengamalkan agama) Rasulullah dan para sahabat.
Bukankah tidak mungkin kita mengatakan bahwa jalan hidup para sahabat sama dengan jalan hidup mereka? Jelas tidak mungkin. Dengan demikian jelaslah bahwa yang benar dan perlu kita ikuti jalan hidupnya bukanlah kelompok-kelompok sesat di atas. Kalau bukan mereka itu, siapa? Jelas, Salafiyyun, yaitu orang-orang yang selalu berpegang erat dengan jalan hidup Rasulullah, para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (salafush shalih).
Kedua
Tidak kita dapati kelompok-kelompok dalam Islam yang mempunyai jalan hidup seperti jalan hidup Rasulullah dan para sahabat kecuali Ahlus Sunnah. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ini tidak lain adalah Salafiyyun. Mengapa?
Perlu diketahui, sudah menjadi ciri khas kelompok-kelompok sesat bahwa mereka memiliki sifat berikut:
- Mendewakan akal/perasaan/hawa nafsu daripada harus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang shahiih;
- Meragukan keadilan para shahabat sahabat; bahkan ada yang mengkafirkan sahabat;
- Tidak mengembalikan pemahaman terhadap al-qur’an dan as-sunnah sebagaimana para shahabat (dan orang-orang mengikuti mereka dengan baik) memahami keduanya.
Lantas Bagaimana mungkin kelompok-kelompok itu mau mengikuti jalan hidup Rasulullah dan para sahabat, sementara jalan hidup mereka seperti itu?29
Hanya Allåh-lah yang memberi taufiq dan pertolongan bagi kita semua.
Semoga Allåh menetapkan kita diatas jalan yang lurus. Aamiin.
Wallahu a‘lam bish shawab.
Artikel AbuZuhriy.com
Maraji’
- Kitab al-Mukhtashar al-Hatsîts, karya Syaikh ‘Îsâ Mâlullâh Faraj, (Kuwait: Gheras, 1428 H), hal. 57-65; yang diterjemahkan secara bebas oleh: almatuq.wordpress.com
- “As-Salaf As-Shalih Rujukan Dalam Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah” Majalah Fatawa, yang dinukil dari: as-Sunnah Qatar dengan beberapa perubahan dan penambahan tanpa merubah maknanya]
Catatan Kaki
  1. Muqaddimah ini dikutip dari muqaddimah artikel: “As-Salaf As-Shalih Rujukan Dalam Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah” Majalah Fatawa, yang dinukil dari:as-Sunnah Qatar 
  2. Makalah ini merupakan terjemahan bebas (oleh almatuq.wordpress.com) dari kitab al-Mukhtashar al-Hatsîts, karya Syaikh ‘Îsâ Mâlullâh Faraj, (Kuwait: Gheras, 1428 H), hal. 57-65 
  3. HR. Muslim, no. 50 
  4. HR Bukhari, no. 103 
  5. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad, no. 3600, dan sanadnya dishahihkan oleh Ahmad Syakir. Diriwayatkan pula oleh Hakim dalam al-Mustadrak: III/78, dan at-Thabrani dalam al-Mu’jamul-Kabiir: IX/8582. Sanandnya dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Dha’iifah: II/17. Sedangkan yang dianggap marfuu’ (sampai kepada Rasulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam)) dinyatakan oleh al-Albani tidak ada sumbernya 
  6. Tafsiir al-Thabarii: XXII/ 44, lihat pula I’laamul-Muwaqqi’iin: I/14. 
  7. Lihat Tafsiir Ibn Katsiir: I/ 276. 
  8. Musnad Ahmad, no 3594, Shahiihul-Bukhaari, no. 60650 dan Shahiih Muslim, no 2533. 
  9. Majmuu’ Fataawaa: IV/157-158 
  10. Al-Bida’ wan-Nahyu ‘anhaa, Ibnul-Wadhdhah al-Andalusi, , hal. 10 dan Jaami’ Bayaanil-’Ilmi wa Fadhlih: II/119 
  11. Thabaqaatul-Hanaabilah: I/241 dan SyarhusSunnah al-Lalikai: I/156 
  12. Majmuu’ Fataawaa: V/7-8 
  13. Ma’bad al-Juhani disebut-sebut sebagai anak Abdullah bin ‘Akim, atau ‘Uwaim al-Bashri. Ibnu Sa’d menyebutnya di antara Tabi’in Bashrah. Dialah yang paling pertama berbicara tentang (tidak adanya) taqdir di Bashrah dan dia sebagai pemimpinnya. Datang ke Madinah, lalu merusak pemikiran banyak orang di sana
  14. Ghailan ad-Dimasyqi adalah seorang penulis dan ahli sastra, teman al-Harits si pembohong (nabi palsu), dan termasuk yang beriman kepadanya.
    Makhul berkata kepadanya:
    “Jangan duduk bersamaku”.
    As-Saji berkata:
    “Dia pengikut dan penyeru Qadariyyah, dilaknat oleh ‘Umar bin ‘Abdul -’Aziz. Imam Malik melarang bergaul dengannya.”
    Al-Auza’i pernah berdebat dengannya dan memfatwakan halal darahnya. Ghailan dibunuh oleh Hisyam ibn ‘Abd al-Malik. Lihat Ibnu Hajar, Lisaan al-Miizaan, juz IV, hal. 424 dan Miizaan al-I’tidaal, juz III, hal. 338 
  15. Naqdh al-Manthiq, hal. 15 
  16. Lihat Majmuu’ Fataawaa: XIII/363-370 dan Tafsiir Ibnu Katsiir: I/12-15 
  17. Lihat Ma’rifatul- ‘Uluum al-Hadiits, al-Hakim, hal. 19-21 dan al-Mustadrak: I/542 
  18. Al-Mustadrak: II/258 
  19. Lihat Mukhtasharus-Shawaa’iq: II/ 346 dan al-Madkhal ilaa Madzhab al-Imaam Ahmad, hal. 42 
  20. Lihat Majmuu’ Fataawaa: XIII/333 
  21. Lihat lebih rinci masalah ini dalam Raf’u al-Malaam ‘an Aimmat al-A’laam, Ibnu Taimiyah 
  22. HR. Abu Dawud, no. 2512, Tirmidzi, no. 2972 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahiihah, no. 13 
  23. AR. Ibnu Majah, no. 4005, Ahmad, no. 35 dan dishahihkan oleh al-Albani, Shahiihul-Jaami’, no. 3737 
  24. Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid al-Harawi, Kitaab Fadhaailil-Qur’aan wa Mu’allimuh wa Adabuh, hal. 42 
  25. Lihat al-Muwaafaqaat: III/76 
  26. Lihat I’tiqaad ahlis-Sunnah wal-Jamaa’ah, Muhammad Rasyad Khalil, hal. 238-239
  27. Diriwayatkan oleh Ahmad: I/342 dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir, Abu Dawud, no. 4037 dan an-Nasa-i: V/165 
  28. Lihat Manhajul-Istidlaal ‘alaa Masaailil-I’tiqaad ‘inda Ahlis-Sunnah wal-Jamaa’ah, Utsman Ibnu ‘Ali Hasan: II/525 
  29. Khatimah ini dikutip dari khatimah artikel: “As-Salaf As-Shalih Rujukan Dalam Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah” Majalah Fatawa, yang dinukil dari: as-Sunnah Qatar dengan beberapa perubahan dan penambahan tanpa merubah maknanya