Selasa, 02 September 2014

Ketika Aku Berdosa..



ketika-aku-berdosaAku adalah manusia….
Seonggok tulang yang dibalut oleh daging yang berasal dari air yang hina… “Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?” (QS Al-Mursalat: 20)
Dari sperma yang memancar .. “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar. Yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati).” (QS Ath-Thaariq: 5-8)
Dan aku diciptakan dengan sifat asalku yang bodoh … “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”(QS An-Nahl: 78)
Aku dengan sifat asalku adalah tamak … Rosulullaah shallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Seandainya anak Adam memiliki emas satu lembah pasti ia ingin seandainya dia memiliki dua lembah, dan tidak akan bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah (hingga ia mati), dan Allah menerima taubat orang yg bertaubat” (HR Bukhari Muslim)
Dan aku pun kerap melakukan dosa dan kesalahan..Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam“Setiap anak Adam pasti sering melakukan dosa dan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang bertaubat”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, hasan)
Terkadang aku melakukan kesalahan, lalu aku bertaubat dan mengulangi lagi kesalahan tersebut..
Terkadang aku melakukan dosa, dan aku mampu menjauhinya ..
Tapi terkadang aku melakukan suatu dosa, kemudian aku bertaubat atasnya, dan aku kembali melakukan dosa yang lainnya..
Dosaku meliputi :
- Waktu lampau.. 
- Sedang aku lakukan..
- Mungkin esok hari atau waktu berikutnya aku lakukan.. 
Terkadang aku berdosa karena wanita, karena harta, karena jabatan dan pangkat, dan karena hawa nafsuku lebih besar berperan ketimbang keimanan dan ketaqwaanku..
Disaat imanku turun, terkadang aku meremehkan dosa yang aku lakukan, dan terkadang disaat imanku naik, aku memandang dosa tersebut sebagai suatu hal yang akan menjepitku kelak di alam kubur dan akhirat, padahal aku mendengar :  Sesungguhnya orang mukmin itu memandang dosa-dosanya seperti orang yang berdiri di bawah gunung,yang mana dia (sentiasa) rasa takut yang gunung itu nanti akan menghempapnya,dan orang yang keji pula memandang dosa-dosa mereka seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, yang berkata : dengan hanya begini sahaja (iaitu dengan hanya ditepis dengan tangan sahaja) maka dengan mudah sahaja lalat itu terbang » (hadith riwayat Imam Bukhari)
Dan Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka gemetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal” (QS al-Anfâl: 2)
Terkadang aku tertipu merasa paling beriman dan terbebas dari rasa takut kepada dosa dan azab Allah, padahal aku mendengar bahwa Allah memerintahan kepada orang beriman agar selalu memperbaharui taubat taubat mereka :  “Wahai orang-orang yang beriman,bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya,mudah-mudahan tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”….(Surah At-Tahrim : 8 )
Padahal Allah telah demikian memberikan keringanan kepada kita “…  Sesungguhnya malaikat yang disebelah kiri akan mengangkat penanya selama enam jam (tidak menulis lagi dosa tersebut) terhadap hamba muslim yang berbuat kesalahan,jika dia menyesal dan meminta ampun kepada Allah dari dosa tersebut maka akan dilemparkan sahaja dosa tersebut,jika dia tidak berbuat demikian,maka akan ditulis sebagai satu dosa » (hadith riwayat Imam At-Thobrani dari Abu Umamah di dalam Al-Kabir)
Masih bersambung Insya Allah..

Disusun oleh Muhammad Yusuf
Sumber Inspirasi dari kitab :
Syekh Shalih Al Munajjid “Ingin Aku Bertaubat, tetapi.. “
http://catatanmy.wordpress.com/2014/04/24/ketika-aku-berdosa/

Inspirasi dan Motivasi: Kelezatan Memaafkan Orang Lain - Ustadz Firanda ...

Senin, 01 September 2014

Ketika dia yang tercinta seorang Pemarah… (Menyikapi kemarahan sang suami tercinta)

Duhai wanita mana yang tidak memimpikan hadirnya seorang pendamping yang lemah lembut dan penuh kasih sayang dalam mengarungi bahtera cinta dalam rumah tangganya. Dinaungi sejuknya ‘ilmu syar’iy, manisnya iman disebabkan mencintai karena Allooh Ta’ala dan melewati hari-hari bersama suaminya dengan canda tawa dan snyum bahagia. Sungguh semua wanita di dunia, tak terkecuali wanita kafirpun akan merindukan suasana rumah tangga yang demikian.

Namun Allooh Ta’ala telah menetapkan jodoh masing-masing manusia, seorang wanita tidak bisa memilih bahwa dia akan menjadi bagian dari tulang rusuk seorang lelaki yang lembut dan penyayang, namun hendaknya wanita tadi selalu meyakini bahwa jodoh yang telah diberikan Allooh Ta’ala kepadanya adalah jodoh yang terbaik dan paling bermanfaat bagi dirinya. Maka hendaknya dengan menunggu datangnya pemilik tulang rusuk tadi untuk mengkhitbah dirimu, hendaknya seorang wanita yang masih lajang berusaha memperbanyak menuntut ‘ilmu syar’iy dan berusaha menjadi seorang wanita yang sholihah, karena kelak ia akan menjadi sebaik-baik perhiasan rumah tangga suaminya.

Dari Abdulloh bin ‘Amru rodhiyalloohu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang sholihah.” [HR. Ibnu Hibban, no. 4033]

Maka dengan berbekal kesholihah-annya seorang wanita akan mampu mengarungi rumah tangga dengan seorang suami yang memiliki temperamen apapun, baik lemah lembut atau yang pemarah, tentunya seorang suami tersebut adalah ahlus sunnah yang memiliki manhaj yang lurus yang mengikuti jejak salafush sholih dalam agamanya. Namun hendaknya seorang wanita memahami bahwa lelaki itu memiliki watak yang berbeda-beda, ada yang kasar, pemarah, mudah tersinggung dan tegas dalam rumah tangganya, dan ada pula yang lembut, perhatian dan penuh kasih sayang.

Jika mendapatkan seorang suami yang lembut dan perhatian maka biasanya tidak banyak masalah yang terjadi, namun ketika Allooh Ta’ala mentakdirkan calon suami anda adalah seorang yang terperamen emosinya mudah naik dan berkata-kata kasar, padahal sifat dasarnya adalah penyayang dan lembut, namun kadang karena sesuatu hal dia mudah marah dan emosi, maka hendaknya sang istri dengan berbekal ‘ilmu syar’iy dan kecerdasannya mampu mengatasi itu semua, dan menggunakan emosi suaminya sebagai senjata terbaik dirinya untuk mendapatkan kasih sayang lebih dari suaminya. Mampukah itu dilakukan???

Mampukah merubah kemarahan dan emosi suami menjadi senjata ampuh yang berbalik menguntungkan sang istri dan membuat suami lebih mencintai istri, sehingga suami membuat bait-bait sya’ir cinta untuk sang istri? Sepertinya memang sangat sulit dilakukan, bahkan penulis pernah mendapatkan kata-kata dari seorang ustadzah muda yang sedang ta’aruf dan mengetahui calon suaminya (yang menurut pengakuannya) adalah seorang pemarah, dia sendiri mengatakan, “Jika calon suami ana seorang pemarah, dan ana juga punya temperamen pemarah, bisa setiap hari nanti perang kalau sudah menikah!

Memang tidak mudah wahai saudariku, namun pahamilah bahwa semua itu bisa dilakukan, jika engkau benar memahami ‘ilmu syar’iy dan berniat kuat serta bersungguh-sungguh untuk menyusun sebuah rumah tangga yang sakinah. Lalu apa rahasianya ketika suami-istri menjumpai permasalahan yang demikian? Ketika sang suami suka marah dan sering marah-marah akan suatu hal yang kecil, mampukan semua sifat itu berubah dengan kecerdasan sang istri, tentunya dengan do’a yang baik kepada Allooh Ta’ala, bagi pemimpin rumah tangganya itu. Maka aku menjawabnya, “InsyaAllooh engkau mampu untuk melewati itu semua! Berbaik sangkalah kepada Allooh Ta’ala jika memang dia adalah jodohmu!”

Rahasia itu…

Ketika suami anda marah, dan dia seorang lelaki yang mudah emosi, hendaknya anda wahai para istri, mencari perlindungan dengan berdiam diri dan tetap diam di ahdapan suami anda yang sedang marah dengan penuh penghormatan dan menerima setiap kata-katanya, namun jangan sekali-kali berdiam diri dengan diiringi pandangan penghinaan, mengejek, atau pandangan marah meski hanya dengan kedipan mata. Karena suami anda adalah seorang suami yang cerdas dan sangat memahami anda. Maka hendaknya engkau tetap diam dengan ketaatan dan pancaran mata menyesal serta kasih sayang dihadapannya, terlepas engkau meyakini bahwa dirimu benar atau tidak. Hendaknya engkau tetap diam dihadapannya dan jangan membantah sedikitpun perkataannya.

Janganlah engkau keluar dari tempatmu berdiam, karena suami anda akan menduga bahwa anda melarikan diri dan tidak ingin mendengarkan perkataannya, maka dia akan semakin membenci anda dan semakin besar berkobar amarahnya. Maka anda harus tetap diam, sambil menyetujui perkataannya sampai dia lelah kehabisan kata dan merasa lebih tenang. Baru kemudian anda sampaikan kepada suami anda, “Apakah saya dizinkan untuk keluar?”

Jika suami anda tidak mengizinkan anda keluar, maka tetaplah berada dalam posisi anda dan jangan membantahnya, namun jika anda diizinkan keluar, maka keluarlah anda dari posisi tadi dan biarkan suami anda beristirahat sejenak, karena suami anda lelah dan memerlukan istirahat setelah banyak berbicara dan berteriak. Hendaknya anda tetap melanjutkan pekerjaan rumah anda serta mengurus anak-anak, dan biarkan suami anda terdiam dan menerungi setiap perkataannya dalam kondisi “sudah menuntaskan peperangan yang diluncurkan kepada anda…”

Selain itu janganlah anda memboikot suami anda dengan tidak mengajaknya berbicara, jangan lakukan hal itu! Itu adalah kebiasaan buruk, juga senjata yang memiliki dua mata yang sangat tajam. Ketika anda wahai para istri memboikot suami anda selama seminggu misalnya, bisa jadi pertama kalinya suami anda akan sedikit mendapat kesulitan dan berusaha mengajak anda bicara. Tetapi dengan berjalannya hari, suami anda akan terbiasa dengan boikot anda, malah jika anda memboikotnya satu minggu, maka suami anda akan memboikot anda selama dua minggu, pada saat itu, kalian para istri yang akan menanggung akbibat buruk dari senjata kalian tadi.

Seharusnya anda para istri, mengajarkan kepada suami anda, bahwa anda adalah udara segar yang dihirupnya, air yang dimunimnya, yang suami anda selalu merasa membutuhkan anda. Jadilah seperti angin yang lembut baginya, dan janganlah menjadi angin yang bertiup dengan sangat keras.

Dua jam setelah anda sibuk dengan pekerjaan rumah dan membiarkan suami anda diam merenungi kesalahannya saat marah-marah tadi, maka buatkanlah suami anda minuman, segelas jus atau secangkir the. Katakan kepadanya dengan lembut untuk meminumnya, anda harus membuatkan minuman baginya karena memang suami anda lelah dan kering tenggorokannya karena marah-marah dan berteriak tadi. Berbicaralah kepadanya dengan sikap normal, seakan-akan tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Maka dapatilah suami anda akan memandang heran kepada anda, suami anda akan takjub dan merasa bersalah, kadang suami anda akan memulai berbicara, “Apakah engkau marah wahai istriku?” Maka jawablah, “Tidak! Aku tidak marah wahai suamiku, engkau telah mengucapkan banyak hal yang benar, mungkin aku telah khilaf berbuat kesalahan tanpa aku sadari, maka didiklah aku dengan lembut, didiklah aku dengan kasih sayangmu…”

Maka dapatilah suami anda akan meminta maaf atas ucapan-ucapan kasarnya dan mulai mengungkapkan hal-hal yang indah tentang anda, pada saat itu, peluklah dia erat dan berikanlah perlindungan akan kegalauan dan kesedihannya, dan hendaknya anda juga minta maaf kepadanya, walaupun anda meyakini bahwa anda berada di pihak yang benar.

Maka terimalah permintaan maaf suami anda itu dan janganlah menjadi wanita yang bodoh yang merasa di atas angin kemudian balas mencercanya. Hendaknya kalian wahai para istri, tidak mengambil sedikitpun dan janganlah memasukkan dalam hati celaan suami di kala marah, karena itu bukan isi hatinya yang sebenarnya. Bukankah engkau mengetahui bahwa talak dalam keadaan marah pun ditolak hukumnya? Maka janganlah menjadi istri yang buruk yang membenarkan perkataan suami di saat marah dan mendustakan kata-kata suami di saat marahnya sudah mereda.

Maka janganlah ada istri yang sampai memiliki pikiran, bahwa kehormatannya diinjak-injak suaminya, ketahuilah! Kehormatan anda wahai para istri yang sukses, yaitu jika anda tidak membenarkan ucapakan kasar suami anda yang melukai hati anda saat suami marah. Tetapi engkau membenarkan ucapan suami anda ketika marahnya sudah mereda. Itulah kehormatan dirimu.

………………………….

Apakah engkau mampu melakukan itu semua wahai para istri, seberapa penting rumah tangga kalian bagi diri kalian? Seberapa besar rasa cinta kalian kepada suami kalian? Bukankah anak-anak juga mendapatkan hak ketenangan dalam rumahnya, bagaimana mungkin anak-anak bisa tenang jika Bapak dan Ibunya bertengkar dengan suara yang bersahutan? Apalagi sampai ada piring terbang atau kucing terbang???

InsyaAllooh engkau bisa melakukannya wahai para istri, do’aku bagi rumah tangga kalian semua wahai kaum muslimin, agar kalian dianugerahi rumah tangga yang sakinah mawaddah warrohmah. Aamiin

Oleh Andi Abu Hudzaifah Najwa.

::Aku Senang Dihujat, namun Neraka Radghatul Khabal bagi Penghujat??

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ .هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ
“Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, suka mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah.” (QS.Al-Qalam: 10-11)
Dalam Sebuah hadits panjang, Nabi shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda,
... وَمَنْ قَالَ فِيْ مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيْهِ، أَسْكَنَهُ اللهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ وَلَيْسَ بِخَارِجٍ.
“...dan barangsiapa mengatakan sesuatu yang tidak terdapat pada seorang mukmin, niscaya Allah memasukkannya ke dalam radghatul khabal hingga keluar apa yang pernah ia katakan, padahal ia takkan pernah keluar.” (HR. Abu Dawud dan Ath-Thabrani dalam kitabul Kabiir, Shahiih Al-Jami’ish Shagiir no. 6196)

Dari Ibnu ‘Umar, dia menuturkan bahwasanya Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam naik mimbar kemudian menyeru dengan suara lantang sambil bersabda,
يَا مَعْشَرَ مَنْ قَدْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَفْضِ الْإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لَا تُؤْذُوا الْمُسْلِمِيْنَ وَلَا تُعَيِّرُوْهُمْ وَلَا تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَّبَعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَّبَعَ اللهُ عَرَتَهُلايَفْضَحْهُ وَلَوْ فِيْ جَوْفِ رَحْلِهِ.
“Wahai orang yang berislam dengan lisannya, namun belum sampai iman ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, jangan kalian mencela mereka, dan jangan pula mencari-cari kelemahan mereka. Karena barangsiapa mencari-cari kelemahan saudaranya yang muslim, niscaya Allah akan mencari-cari kelemahannya. Barangsiapa yang dicari-cari kelemahannya oleh Allah, niscaya Allah akan bongkar kelemahannya, sekalipun di dalam lambung tunggangannya.” (HR. Tirmidzi no. 165)
Biyar saja orang koar-koar di sana, yang penting saya dapat pahala, namun ilmu lebih penting dari itu daripada hanya habis waktu untuk gosip, tahdzir, de el el. Sibukkan diri dengan ilmu ya sob.


Aa Khairin Nazrien Lamumba

::Jangan Ada bobo saat khutbah diantara kita::

Nabi Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda:
إِذَانَعَسَ أَحَدُكُمْ فِيْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ إِلَى غَيْرِهِ.
“Jika salah seorang dari kalian mengantuk di masjid pada saat Jum’at, hendaknya ia pindah dari tempat duduknya ke tempat lainnya.” (As-Silsilah Ash-Shahiihah: I/760)

Ini merupakan adab dari Nabi yang jarang dilakukan orang. Akibatnya, kita dapati banyak orang yang mengantuk di masjid sebelum shalat Jum’at—apalagi  yang datang awal-tidak pindah dari tempatnya.
Boleh jadi, hikmah pindah dari tempat semula adalah untuk mengaktifkan dan menyadarkan jiwa, dan hilanglah rasa kantuk.

Sumber: Sunah tapi dilupakan oleh Sulaiman Al-Khurasyi hal.11


Surat al Kahfi Malam Jumat Tidak Dituntunkan?

Hukum membaca surat al Kahfi pada malam Jumat
Pertanyaan, “Apa hukum membaca surat al Kahfi pada malam Jumat?”
Jawaban Ibnu Baz, “Mengenai membaca surat al Kahfi pada hari Jumat terdapat sejumlah hadits yang tidak bebas dari kelemahan. Namun sebagian ulama menilai bahwa hadits-hadits tersebut sebagiannya menguatkan sebagian yang lain sehingga bisa dijadikan sebagai dalil.
Terdapat riwayat shahih yang menunjukkan bahwa seorang shahabat Nabi, Abu Said al Khudri melakukan hal tersebut yaitu membaca surat al Kahfi pada hari Jumat.
Simpulannya, membaca surat al Kahfi pada hari Jumat adalah hal yang baik dalam rangka meneladani shahabat Abu Said al Khudri dan sejumlah hadits di atas karena hadits-hadits tersebut sebagiannya menguatkan sebagian yang lain dan didukung oleh praktek shahabat Nabi, Abu Said al Khudri.
Sedangkan membaca surat al Kahfi pada malam Jumat aku tidak mengetahui dalil yang mendukungnya. Dengan demikian jelaslah bahwa membaca surat al Kahfi pada malam Jumat adalah hal yang tidak dituntunkan” [Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawiah 25/196-197].
Kesimpulan:
Membaca surat al Kahfi pada hari Jumat dituntunkan karena dua alasan, hadits marfu’ yang statusnya hasan li ghairihi dan perbuatan Abu Said al Khudri. Yang disebut hari Jumat adalah semenjak terbit fajar hari Jumat sampai tenggelam matahari pada hari tersebut
Sedangkan membaca surat al Kahfi pada malam Jumat –menurut Ibnu Baz- tidaklah dituntunkan oleh syariat karena tidak memiliki landasan dalil yang kuat.

About the Author Ustadz Aris


Dan Umar Pun Menangis

Siapa yang tak mengenal Umar Ibnul Khathab -radhiallahu’anhu-. Sosok yang memiliki tubuh kekar, watak yang keras dan berdisiplin yang tinggi serta tak kenal gentar. Namun di balik sifat tegasnya tersebut beliau memiliki hati yang lembut.
Suatu hari beliau masuk menemui Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- di dalam rumahnya, sebuah ruangan yang lebih layak disebut bilik kecil disisi masjid Nabawi. Di dalam bilik sederhana itu, beliau mendapati Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- sedang tidur di atas tikar kasar hingga gurat-gurat tikar itu membekas di badan beliau.
Spontan keadaan ini membuat Umar menitikkan air mata karena merasa iba dengan kondisi Rasulullah.
Mengapa engkau menangis, ya Umar?” tanya Rasulullah.
Bagaimana saya tidak menangis, Kisra dan Kaisar duduk di atas singgasana bertatakan emas,” sementara tikar ini telah menimbulkan bekas di tubuhmu, ya Rasulullah. Padahal engkau adalah kekasih-Nya,” jawab Umar.
Rasulullah kemudian menghibur Umar, beliau bersabda: “Mereka adalah kaum yang kesenangannya telah disegerakan sekarang juga, dan tak lama lagi akan sirna, tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia sementara kita memiliki akhirat…? “.
Beliau shallallahu alaihi wasallam melanjutkan lagi, “Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang bepergian di bawah terik panas. Dia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya“.
Begitulah sahabat…
Tangisan Umar adalah tangisan yang lahir dari keimanan yang dilandasi tulusnya cinta kepada Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam-. Apa yang dilihatnya membuat sisi kemanusiaannya terhentak dan mengalirkan perasaan gundah yang manusiawi. Reaksi yang seolah memberi arti bahwa semestinya orang-orang kafir yang dengan segala daya dan upaya berusaha menghalangi kebenaran, memadamkam cahaya iman, dan menyebarkan keculasan dan keburukan, mereka itulah yang semestinya tak menikmati karunia Allah. Sebaliknya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang telah membimbing umat manusia dari kegelapan menuju cahaya Islamlah semestinya mendapat kesenangan dunia yang layak, begitu fikir Umar.
Tangisan Umar juga memberi arti lain, bahwa betapa tidak mudah bagi sisi-sisi manusiawi setiap orang bahkan bagi Umar sekalipun, untuk menerima ganjilnya “pemihakan” dunia kepada orang-orang bejat. Namun sekejap gundah dan tangisnya berubah menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman sesudahnya. Yaitu apabila kita mengukur hidup ini dengan timbangan duniawi, maka terlalu banyak kenyataan hidup yang dapat menyesakkan dada kita.
Lihatlah bagaimana orang-orang yang benar justru diinjak dan dihinakan. Sebaliknya, para penjahat dan manusia-manusia bejat dipuja dengan segala simbol penghargaan. Tak perlu heran, karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengabarkan akan masa-masa sulit itu. Masa dimana orang-orang benar didustakan dan orang-orang dusta dibenarkan.
Tangis Umar juga mengajari kita bahwa dalam menyikapi gemerlapnya dunia, kita tidak boleh hanya menggunakan sisi-sisi manusiawi semata, dibutuhkan mata hati bukan sekedar mata kepala. Dibutuhkan ketajaman iman, dan bukan semata kalkulasi duniawi.
Dan semua itu tercermin dalam jawaban Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- kepada Umar. Beliau memberi gambaran yang membuat sesuatu yang secara lahiriah aneh dan ganjil bisa jadi secara substansial benar-benar adil. Bagaimana sesuatu yang yang secara kasat mata terlihat pahit, menjadi benih-benih bagi akhir yang manis dan membahagiakan.
Jawaban Rasulullah juga memberi pesan agar orang beriman jangan sampai mudah silau dan terpukau dengan gemerlapnya dunia yang dimiliki oleh orang kafir. Karena setiap mukmin punya pengharapan lain yang jauh lebih tinggi, yaitu kebahagiaan abadi di akhirat, pada keaslian kampung halaman yang sedang dituju.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ
Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, dll, lihat Shahihul Jami’ no. 561).
Sekilas tentang biografi Umar ibnul Khottab -radhiallahu anhu- Nama beliau adalah Umar bin Khattab bin Nafiel bin Abdul Uzza atau lebih dikenal dengan Umar bin Khattab . Beliau mempunyai postur tubuh yang tegap dan kuat, wataknya keras, berani, dan berdisiplin tinggi. Dimasa remajanya, dia dikenal sebagai petarung yang tangguh dan disegani di Makkah. Tidak hanya itu, tutur bahasanya halus dan bicaranya fasih. Kelebihan-kelebihan yang dimilikinya itu mengantarkan-nya terpilih menjadi wakil kabilahnya. Beliau selalu diberi kepercayaan dalam melakukan perundingan dengan suku-suku lain di jazirah Arab. Keunggulannya berdiplomasi mem-buatnya populer di kalangan berbagai suku Arab.
Karena keunggulannya itu Nabi shallalahu alaihi wasallam pernah meminta kepada Allah, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang. Amr bin Hisyam atau Umar bin Khaththab”. Allah pun meperkenankan do’a nabi-Nya dengan masuk Islamnya Umar.
Banyak prestasi yang berhasil diraihnya selama menjabat sebagai khalifah Islam. Dimasa kekhalifaannya Mesopotamia, Mesir, Palestina, Afrika Utara dan Byzantium berhasil di ambil alih. Persia sebagai negara adidaya kedua setelah romawi pun berhasil ditaklukkan, itulah rahasia mengapa Syiah Majusi sangat membencinya.
Selama menjabat sebagai kholifah beliau membuat peraturan untuk para gubernurnya. Diantaranya adalah:
  1. Mereka tidak boleh memiliki kendaraan mewah
  2. Mereka dilarang memakai pakaian tipis halus dan mahal harganya
  3. Dilarang makan makanan yang enak-enak
  4. Tidak boleh menutup rumah bila orang memerlukannya
Beliau wafat pada tahun ke 23 H setelah ditikam oleh Abu lu’lu’ah Al Majusy alahi ma yastahik. Dan di makamkan disamping dua sahabatnya Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dan Abu Bakar As -Shiddiq -radhiallahu anhu-
Rahimakallahu ya Umar…. wa radhiallahu anka..
Demikian semoga bermanfaat.
__________________
Salemba 1 Dzulqa’dah 1435 H
Catt: Kisra adalah gelar bagi penguasa Persia. Sedangkan kaisar adalah gelar bagi raja Romawi. Saat itu keduanya merupakan pemimpin yang sangat berpengaruh di dunia.

Penulis: Ust. Aan Chandra Thalib, Lc.
Artikel Muslim.Or.Id