Salah
satu bekal yang penting diberikan para orang tua kepada anak-anaknya
adalah upaya menumbuhkan rasa optimis pada diri anak dalam menghadapi
kehidupan yang sarat dengan problema. Cara terbaik untuk mencapai hal
tersebut adalah dengan mengenalkan pada anak akan pertolongan Allah yang
diberikan kepada setiap hamba-Nya yang beriman. Anak perlu dipahamkan
bahwa bila Allah telah memberikan pertolongan-Nya, maka permasalahan
seberat apapun akan bisa diselesaikan.
Anak, dengan segala
keunikan yang ada pada pribadinya, tidak terlepas dari permasalahan,
baik berkenaan dengan dirinya, tempat belajarnya, ataupun orang-orang di
sekelilingnya. Begitu pun sisi berat ringannya permasalahan yang
dihadapi berbeda-beda antara satu anak dengan yang lainnya. Tak jarang
dijumpai dalam keseharian anak-anak yang begitu penakut terhadap segala
sesuatu yang tak pantas dikhawatirkan. Semua itu terkadang membuat orang
tua berkerut dahi, dengan jalan apa kiranya mengatasi hal-hal semacam
ini?
Jika demikian, tentu sang anak membutuhkan bekal untuk
menghadapi setiap problema yang dihadapinya. Dia membutuhkan bimbingan
agar senantiasa merasakan pengawasan Rabb-nya, meminta hanya kepada-Nya,
disertai keyakinan yang kokoh terhadap ketetapan dan takdir-Nya.
Ketika itulah selayaknya orang tua melihat kembali, bagaimana Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan optimisme dan kebesaran jiwa
pada diri anak, agar menghadapi gelombang kehidupan ini dengan
keberanian dan penuh harapan, hingga kelak mereka menjadi sesosok
pribadi yang bermanfaat bagi umat ini. Beliau pesankan kepada putra
pamannya, Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma:
يَا غُلاَمُ،
إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ. احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ
تَجِدْهُ تُجَاهَكَ. إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ
فَاسْتَعِنْ بِاللهِ. وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى
أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ
اللهُ لَكَ وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْئٍ لَمْ
يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ. رُفِعَتِ
الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ. رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَقَالَ: حَدِيْثٌ
حَسَنٌ صَحِيْحٌ.
وَفِي رِوَايَةِ غَيْرِ التِّرْمِذِي: احْفَظِ اللهَ
تَجِدْهُ أَمَامَكَ. تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي
الشِّدَّةِ. وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ
وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ. وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ
الصَّبْرِ وَأَنََّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ العُسْرِ يُسْرًا
“Wahai anak(ku), sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa
kalimat. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah,
niscaya engkau akan dapati Dia ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta,
mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah
pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini
berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat
memberikannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan
seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudharat kepadamu, mereka
tidak akan dapat menimpakannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan
menimpamu. Telah diangkat pena, dan telah kering lembaran-lembaran.”
(Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dan beliau berkata: hadits hasan
shahih).1
Dan dalam riwayat selain At-Tirmidzi: “Jagalah Allah,
niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Kenalilah Allah dalam
keadaan lapang, niscaya Dia akan mengenalimu dalam keadaan susah.
Ketahuilah, sesungguhnya apa yang ditetapkan luput darimu tidak akan
menimpamu, dan apa yang ditetapkan menimpamu tidak akan luput darimu.
Ketahuilah, pertolongan itu berrsama kesabaran, kelapangan itu bersama
kesusahan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
Inilah kalimat
yang agung dan mulia dari lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, seakan beliau mengatakan: Jagalah batasan-batasan dan syariat
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya, juga dengan mempelajari agama-Nya hingga engkau dapat
menunaikan ibadah dan muamalahmu. Jagalah semua itu, niscaya Dia akan
menjaga agama, keluarga, harta maupun dirimu, karena Allah Subhanahu wa
Ta’ala memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik atas
kebaikannya. Sementara balasan yang paling penting adalah penjagaan-Nya
terhadap agamamu serta menyelamatkan dirimu dari kesesatan.
Sebaliknya, seseorang yang menelantarkan agama Allah Subhanahu wa
Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan menelantarkan dirinya
dan dia tidak berhak mendapatkan penjagaan dari Allah Subhanahu wa
Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
وَلاَ تَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah,
sehingga Allah jadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Mereka
itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)
Pesan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga memberikan pelajaran pada seorang
anak untuk meminta ataupun memohon pertolongan hanya kepada Allah
semata, tidak memintanya kepada makhluk. Karena Dialah yang memiliki
kerajaan langit dan bumi. Namun, tidak terlarang untuk meminta
pertolongan kepada makhluk pada hal-hal yang mampu dia lakukan. Kalaupun
dia harus meminta sesuatu atau mencari pertolongan kepada makhluk, maka
sesungguhnya makhluk itu hanyalah sebab dan Allahlah yang menciptakan
sebab, hingga kepada-Nyalah harus bersandar.
Demikian pula segala
kebaikan yang diberikan dan bahaya yang ditimpakan oleh makhluk,
semuanya telah ditetapkan oleh Allah. Namun, bukan berarti seseorang
tidak diperkenankan untuk menolak bahaya dari dirinya, karena Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا
“Dan balasan kejelekan itu adalah kejelekan yang semisal.” (Asy-Syura: 40)
Oleh karena itu, seorang hamba harus menggantungkan harapannya kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak berpaling sedikit pun kepada
makhluk, karena makhluk tidak memiliki kekuasaan sedikit pun untuk
memberi manfaat maupun menimpakan bahaya.
Begitu pun nasihat ini
berisi anjuran untuk menunaikan hak Allah di saat lapang, sehat dan
berkecukupan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengenalinya ketika
berada dalam kesusahan, hingga Dia ringankan penderitaannya, menolong
dan menghilangkan kesusahannya itu.
Ditemui pula pengajaran pada
sang anak bahwa apa pun yang ditetapkan akan menimpa tak akan dapat
ditolak. Dan apa pun yang tidak ditetapkan tak akan bisa diraih, karena
Allah telah menetapkan semua itu.
Di dalam nasihat ini juga terdapat
anjuran agar bersabar untuk memperoleh pertolongan. Kesabaran ini
mencakup sabar untuk taat kepada Allah, sabar dalam menjauhi maksiat
kepada Allah, dan sabar di atas ketetapan Allah yang ‘menyakitkan’
(menurut manusia, red). Inilah kabar gembira bagi orang yang bersabar,
karena pertolongan akan mengiringi kesabaran. Inilah kabar gembira bahwa
kelapangan itu mengiringi kesusahan. Hendaknya pula ketika ditimpa
kesulitan, seorang hamba bersandar diri kepada Allah dengan
menanti-nantikan kemudahan dari Allah serta membenarkan janji Allah,
karena Allah telah mengatakan di dalam Kitab-Nya yang mulia:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya
bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah: 5-6)[Dirangkum dari
Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
rahimahullah2]
Di waktu yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam memberikan nasihat yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah
radhiallahu ‘anhu:
المُؤْمِنُ القَوِي خَيْْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ
مِنَ المُؤْمِنِِ الضَعِيْفِ. وَفِي كُلٍّ خَيْر.ٌ اِحْرِصْ عَلَى مَا
يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ. وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ
فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ:
قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ. فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ
الشَّيْطَانِ
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai
oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing dari
keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah untuk melakukan apa yang
bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan
merasa lemah. Apabila engkau ditimpa sesuatu, janganlah mengatakan
‘Seandainya aku dulu melakukan begini dan begini’, namun katakanlah ‘Ini
adalah takdir Allah, dan apa pun yang Allah kehendaki pasti Allah
lakukan’ karena ucapan ‘seandainya’ itu membuka amalan setan.” (HR.
Muslim no. 2664)
Yang dimaksud dengan kuat dalam ucapan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah jiwa yang kokoh dan bersemangat
terhadap perkara akhirat. Sehingga orang yang seperti ini menjadi orang
yang paling pemberani terhadap musuh, paling cepat bertolak ke medan
jihad, paling teguh dalam memerintahkan orang lain pada kebaikan dan
mencegah dari kemungkaran, dan bersabar dalam menempuh semua itu, serta
tabah dalam menempuh kesusahan karena mengharap Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Dia pun menjadi orang yang paling senang menunaikan shalat,
puasa, dzikir, maupun seluruh ibadah, bersemangat pula untuk menjalankan
dan menjaganya. Akan tetapi, baik orang yang kuat maupun orang yang
lemah memiliki kebaikan karena mereka sama-sama beriman, juga karena
ibadah yang dilakukan oleh orang yang lemah itu.
Dianjurkan pula
oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersemangat dalam
berbuat ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menginginkan apa
yang ada di sisi-Nya, serta memohon pertolongan kepada-Nya untuk
mendapatkan itu semua. Hendaknya seorang hamba tidak merasa lemah dan
malas untuk mencari amalan ketaatan dan memohon pertolongan dari-Nya.
(Syarh Shahih Muslim)
Inilah yang semestinya tergambar dalam sosok
pribadi seorang anak. Tak ada salahnya bila suatu ketika orang tua
menuturkan kisah-kisah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang perjalanan
hidup orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beri kemuliaan, yang
sarat dengan optimisme dan keyakinan kepada Rabb-nya. Karena anak senang
dengan cerita dan biasanya berbekas dalam jiwanya. Salah satunya
dituturkan oleh Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu3 dari apa yang
disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Dulu
hidup seorang raja yang memiliki seorang tukang sihir. Ketika usia
tukang sihir itu telah menua, ia berkata kepada sang raja, “Sesungguhnya
aku ini telah tua, maka utuslah padaku seorang pemuda yang dapat
kuajari sihir.” Lalu raja pun mengirim seorang pemuda untuk diajari
sihir. Di tengah jalan yang biasa dilalui pemuda itu menuju tukang sihir
ada seorang rahib. Pemuda itu singgah duduk dan mendengarkan ucapan
sang rahib. Dia pun merasa takjub. Maka demikianlah bila dia mendatangi
tukang sihir, dia melewati rahib lalu duduk di hadapannya. Bila tiba di
hadapan tukang sihir, tukang sihir itu pun memukulnya. Dia adukan hal
itu kepada rahib. Si rahib menjawab, “Kalau engkau khawatir terhadap
tukang sihir, katakan padanya ‘Keluargaku menahanku’, dan kalau engkau
khawatir terhadap keluargamu, katakan ‘Tukang sihir menahanku’.”
Demikian terus berlangsung sampai suatu saat, muncul seekor binatang
besar yang menghalangi jalan manusia. Pemuda itu berkata, “Pada hari ini
aku akan mengetahui, apakah tukang sihir yang lebih utama ataukah
rahib.” Lalu diambilnya sebuah batu sambil berkata, “Ya Allah, bila
ajaran rahib lebih Engkau cintai daripada ajaran tukang sihir,
matikanlah binatang ini, hingga manusia dapat lewat kembali.”
Dilemparnya binatang itu hingga akhirnya mati dan orang-orang pun dapat
melewati jalan itu lagi.
Kemudian dia datang kepada rahib dan
menceritakan apa yang terjadi. Mendengar itu rahib berkata, “Wahai
anakku, sekarang engkau lebih utama daripadaku, engkau telah mencapai
kedudukan sebagaimana yang kulihat, dan nanti engkau akan diuji. Jika
engkau mendapatkan ujian, jangan sekali-kali menunjuk padaku.”
Pemuda itu pun dapat mengobati orang yang buta sejak lahir, orang yang
berpenyakit sopak ataupun segala penyakit. Hal itu didengar oleh seorang
pendamping raja yang buta. Dia pun mendatangi pemuda itu dengan membawa
banyak hadiah, lalu berkata, “Semua yang di hadapanmu ini menjadi
milikmu kalau engkau bisa menyembuhkanku.” Si pemuda menjawab, “Aku
tidak bisa menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah.
Kalau engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa agar Allah
menyembuhkanmu.” Pendamping raja itu pun beriman dan Allah pun
menyembuhkannya.
Pendamping raja itu kembali duduk di sisi raja
sebagaimana biasanya. Sang raja bertanya, “Siapa yang menyembuhkan
penglihatanmu?” “Rabbku,” jawab pendamping raja. “Apakah engkau punya
rabb selain aku?” tanya raja lagi. “Rabbku dan Rabbmu adalah Allah,”
jawabnya.
Sang raja pun menangkapnya dan terus-menerus menyiksanya
sampai akhirnya pendamping raja itu menunjukkan si pemuda.
Didatangkanlah pemuda itu dan dia mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak
dapat menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah.”
Mendengar itu, raja segera menangkapnya dan terus-menerus menyiksanya
sampai pemuda itu menunjukkan si rahib. Didatangkan pula si rahib dan
dikatakan padanya, “Keluar dari agamamu!” Rahib itu menolak. Raja
meminta sebilah gergaji, lalu digergajilah tepat di tengah-tengah kepala
rahib hingga terbelah dua badannya. Kemudian didatangkan pendamping
raja dan dikatakan pula, “Keluar dari agamamu!” Akan tetapi dia menolak
hingga digergaji tepat di tengah kepalanya sampai terbelah dua badannya.
Setelah itu didatangkan si pemuda dan dikatakan juga padanya, “Keluar
dari agamamu!” Dia pun menolak, hingga raja menyerahkannya pada para
pengawal, “Bawa dia naik ke gunung. Kalau kalian telah sampai di puncak,
tawarkanlah kalau dia mau keluar dari agamanya. Kalau tidak, lemparkan
dia!” Mereka membawa pemuda itu naik ke gunung. Pemuda itu berdoa, “Ya
Allah, selamatkanlah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.”
Tiba-tiba gunung itu bergoncang dahsyat hingga para pengawal itu
berjatuhan dari atas gunung. Pulanglah pemuda itu dengan berjalan kaki
ke hadapan raja. Raja pun bertanya heran, “Apa yang mereka lakukan?”
Jawab pemuda itu, “Allah menyelamatkanku dari mereka.”
Kemudian raja
kembali menyerahkannya pada pengawal, “Bawalah dia dengan perahu hingga
ke tengah lautan, lalu tawarkan kalau dia mau keluar dari agamanya.
Kalau tidak, lemparkan dia ke lautan.” Mereka pun membawanya ke tengah
lautan. Pemuda itu lalu berdoa, “Ya Allah, selamatkan aku dari mereka
dengan cara yang Engkau kehendaki.” Tiba-tiba perahu itu terbalik hingga
para pengawal raja tenggelam. Pemuda itu pulang ke hadapan raja dengan
berjalan kaki. Raja bertanya lagi, “Apa yang mereka lakukan?” Pemuda itu
menjawab, “Allah menyelamatkanku dari mereka.”
Pemuda itu berkata
lagi, “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau
laksanakan saranku.” “Apa itu?” tanya raja. “Engkau kumpulkan manusia di
sebuah tanah lapang, dan engkau salib aku pada sebatang pohon. Lalu
ambil sebuah anak panah dari tempat anak panahku dan letakkan di busur.
Kemudian ucapkan ‘Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini’ lalu panahlah.
Kalau engkau lakukan ini, engkau akan bisa membunuhku.”
Raja segera
mengumpulkan manusia di suatu tanah lapang dan menyalib pemuda itu pada
sebatang pohon. Lalu diambilnya anak panah dari tempatnya kemudian
diletakkan di busurnya sambil berkata, “Dengan nama Allah, Rabb pemuda
ini.” Dilontarkannya anak panah tepat mengenai dahi pemuda itu. Pemuda
itu pun meletakkan tangannya di dahinya, di tempat sasaran anak panah,
lalu meninggal.
Menyaksikan hal itu, manusia pun berkata, “Kami
beriman kepada Rabb pemuda itu! Kami beriman kepada Rabb pemuda itu!
Kami beriman kepada Rabb pemuda itu!”
Disampaikanlah kepada raja,
“Tidakkah engkau melihat apa yang engkau khawatirkan? Demi Allah,
sungguh telah terjadi apa yang engkau takutkan. Manusia telah beriman.”
Maka raja memerintahkan untuk dibuat parit besar di setiap pintu kota
dan dinyalakan api di dalamnya. Raja berkata, “Barangsiapa yang tidak
mau keluar dari agamanya, lempar dan bakar dia di dalamnya!” Perintah
itu pun segera dilaksanakan.
Suatu ketika, datang seorang wanita
membawa anaknya yang masih kecil. Dia merasa bimbang untuk masuk ke
dalam api. Tiba-tiba berucaplah sang anak, “Bersabarlah wahai ibu,
sesungguhnya engkau di atas kebenaran.”
Inilah di antara banyak
kisah yang memberikan gambaran tentang keadaan seorang mukmin yang
senantiasa bersandar kepada Allah untuk mendapatkan jalan keluar dari
permasalahannya. Semogalah tuturan ini memberikan bekas kebaikan yang
tertanam dalam jiwa anak-anak.
Wallahu a’lamu bish shawab.
1 Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/2043 dan Al-Misykat no. 5302.
2 Diambil dari http://www.binothaimeen.com/
3 Diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahihnya no. 3005
sumbernya yaitu : http://www.asysyariah.com