Iman
seseorang pastilah mengalami pasangsurut, naik dan turun sesuai dengan
kadar ketaatan. Semakin kuat dan semangat dalam ketaatan, maka hal itu
sebagai indikasi imannya sedang naik. Sebaliknya, iman akan berkurang
dengan kemaksiatan. Jiwa manusia sifatnya bagaikan anak kecil, harus
terus dilatih agar terbiasa dengan ketaatan. Nah, ketika rasa malas
menghampiri dalam jiwa, harus ada usaha menepisnya, agar tidak terus-menerus terkurung dalam rasa malas yang tiada henti.
Bagaimanakah cara jitu untuk menepis rasa malas yang menghampiri?
Macam-macam malas
Sifat malas ada dua macam:
Pertama: Malasnya akal, tidak memakainya untuk berpikir dan merenungi
ciptaan Allah atau bisa juga tidak menggunakan akal untuk sesuatu yang
memperbaiki dirinya, berupa dunia dan ke hidupannya. Tidaklah
kemunduran sebuah kaum kecuali karena sebab malasnya orangorang yang
berakal dan sedikitnya orang yang mau memanfaatkan kekuatan pikiran
pemberian Allah ini.
Kedua: Malasnya badan. Yaitu mencakup
seluruh anggota badan. Malas ini akan membawa kemunduran individu.
Berpengaruh pada keadaan suatu kaum dalam bidang pertanian, industri,
dan selain keduanya.
Sebab-sebab malas
1. Tabiat manusia itu sendiri
2. Pendidikan di rumah
3. Lingkungan dan masyarakat
4. Sedikitnya pendidik dan teladan yang baik
5. istri dan anak
6. Banyak tidur
7. Panjang angan-angan dan sering menunda-nunda
Terapi bila sifat malas menghampiri
1. Menyadari pentingnya waktu
2. Bergaul dengan teman yang baik
3. Membaca kisah-kisah semangat para salaf
4. kontinu mengerjakan amal shalih
5. isi dengan kegiatan bermanfaat
6. Do’a.
Manfaatkan masa mudamu sebelum masa tuamu. Kau Isi Apa Waktumu? Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah membuat suatu garis lalu beliau bersabda: "Ini adalah cita-citanya, dan ini adalah ajalnya, ketika seseorang seperti itu (dalam cita-citanya), maka datanglah garis yang lebih dekat (yaitu ajalnya)." [Hr.Bukhori No.5939]
Sabtu, 02 Maret 2013
SETIAP MENIT BAGIAN KEHIDUPAN KITA
Setiap kita sadar bahwasanya kehidupan ini pada hakikatnya adalah
menit-menit dan detik-detik waktu yang kita lalui. Akan tetapi kita
sering lupa dan lalai bahwasanya menyia-nyiakan menit-menit yang kita
lalui berarti menyia-nyiakan sebagian kehidupan kita
Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata :
ابنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يومٌ ذَهَب بَعْضُكَ
"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah hari-hari, jika telah pergi sehari berarti telah pergi sebagianmu" (Taarikh Al-Islaam karya Adz-Dzahabi 7/56)
Sumber: http://firanda.com/index.php/artikel/status-facebook/391-setiap-menit-bagian-kehidupan-kita?utm_
Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata :
ابنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يومٌ ذَهَب بَعْضُكَ
"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah hari-hari, jika telah pergi sehari berarti telah pergi sebagianmu" (Taarikh Al-Islaam karya Adz-Dzahabi 7/56)
Sumber: http://firanda.com/index.php/artikel/status-facebook/391-setiap-menit-bagian-kehidupan-kita?utm_
Beberapa Faedah Mengetahui ‘Asbâb an-Nuzûl
Mengetahui 'Asbâb an-Nuzûl' sangat urgen sekali sebab ia dapat
memberikan faedah yang banyak sekali, diantaranya:
1. Menjelaskan bahwa al-Qur'an turun dari Allah Ta'ala, sebab Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam biasanya ditanya tentang sesuatu, lalu terkadang beliau tidak menjawab hingga wahyu turun. Atau gambarannya, bisa jadi beliau tidak mengetahui sesuatu yang terjadi, lantas wahyu turun menjelaskan hal itu.
Contoh pertama (beliau tidak menjawab hingga wahyu turun-red), firman-Nya (artinya):
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah:'Roh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.'" (Q.,s.al-Isrâ`:85)
Di dalam kitab Shahîh al-Bukhary dari Abdullah bin Mas'ud radliyallâhu 'anhu bahwasanya seorang dari bangsa Yahudi berkata, "Wahai Abal Qasim! (kun-yah/panggilan buat Nabi Muhammad-penj.,) apa itu ruh?." Lalu beliau diam. (di dalam lafazh riwayat yang lain disebutkan), "Lalu Nabi tidak berkomentar dan tidak menjawab dengan sepatah katapun." Dari situlah aku (yakni periwayat hadits ini, Ibnu Mas'ud-red) mengetahui bahwa itu adalah wahyu yang sedang diwahyukan kepadanya. Lalu aku berdiri di tempatku, dan tatkala wahyu sudah turun, beliau membaca ayat (artinya): "Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah:"Roh itu termasuk urusan Rabb-ku…". (Q.,s.al-Isrâ`:85)
Contoh kedua (beliau tidak mengetahui sesuatu yang terjadi lantas wahyu turun menjelaskan hal itu-red) adalah firman-Nya (artinya):
"Mereka berkata:'Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.'" (Q.,s.al-Munâfiqûn:8)
Di dalam kitab Shahîh al-Bukhary disebutkan bahwasanya Zaid bin Arqam radliyallâhu 'anhu mendengar Abdullah bin Ubay, kepala kaum Munafiqun mengatakan hal itu, dia ingin menyatakan bahwa dialah yang dimaksud dengan ÇáÃÚÒ (orang yang kuat) dan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam beserta para shahabatnya sebagai ÇáÃÐá (orang-orang yang lemah). Lantas Zaid memberitahukan kepada pamannya perihal tersebut yang kemudian menginformasikan kepada Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam. Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam lantas memanggil Zaid, lalu dia menginformasikan kepada beliau perihal apa yang telah dia dengar itu. Kemudian beliau mengirim utusan kepada Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya (untuk mengkonfirmasikan hal itu-red), akan tetapi mereka malah bersumpah tidak pernah mengatakan seperti itu. Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam condong membenarkan ucapan mereka, namun Allah menurunkan ayat yang justeru membenarkan ucapan Zaid sehingga jelaslah permasalahannya bagi Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam.
2. Menjelaskan betapa 'inayah Allah terhadap Rasul-Nya di dalam membelanya.
Contohnya, firman Allah Ta'ala (artinya):
"Berkatalah orang-orang kafir:'Mengapa al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?'; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar)." (Q.,s.al-Furqân: 32)
Demikian pula dengan ayat-ayat tentang 'berita bohong' (yang menerpa isteri Rasulullah 'Aisyah radliyallâhu 'anha -red). Ayat-ayat tersebut membela pelaminan Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam dan menyucikannya dari kotoran yang dilumuri oleh para penyebar berita dusta.
3. Menjelaskan betapa 'inayah Allah terhadap para hamba-Nya di dalam melapangkan kesulitan yang mereka alami dan menghilangkan keperihan hati mereka.
Contohnya, ayat tentang 'Tayammum' sebagaimana terdapat di dalam kitab Shahîh al-Bukhâry bahwa pernah cincin 'Aisyah radliyallâhu 'anha hilang saat dirinya ikuatserta dalam sebagian perjalanan yang dilakukan Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam. Lalu karena itu, Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam memerintahkan rombongan untuk bermukim dulu guna mencari cincin tersebut dan akhirnya merekapun bermukim dalam kondisi tidak menemukan air. Mereka mengeluhkan hal itu kepada Abu Bakar. Lalu Abu Bakar menyebutkan hadits tersebut…(di dalamnya terdapat), "Maka Allah turunkan ayat Tayyammum, lalu mereka bertayammum." Usaid bin Khudlair berkata, "Ini bukanlah keberkahan yang pertama kalinya yang dilimpahkan kepada kalian, wahai Ali (keluarga besar) Abu Bakar!."
Hadits tentang hal ini secara panjang lebar terdapat di dalam Shahîh al-Bukhâry.
4. Memahami ayat secara benar.
Contohnya, firman Allah Ta'ala (artinya):
"Sesungguhnya Shafâ dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya." (Q.,s.al-Baqarah:158)
Yakni, dia melakukan sa'i diantara keduanya, sebab secara zhahir, firman Allah (ÝáÇ ÌäÇÍ Úáíå), "Maka tidak ada dosa baginya…". Mengindikasikan bahwa maksimal masalah melakukan sa'i diantara keduanya tersebut tergolong ke dalam hal yang Mubah (boleh-boleh saja).
Di dalam Shahîh al-Bukhâriy dari 'Ashim bin Sulayman, dia berkata, aku bertanya kepada Anas bin Malik radliyallâhu 'anhu tentang Shafa dan Marwah, dia berkata, "Kami dahulunya memandang bahwa kedua hal tersebut (thawaf dan sa'i) termasuk perkara Jahiliyyah sehingga tatkala Islam datang, kami tetap menahan untuk tidak melakukan keduanya, lantas turunlah firman Allah Ta'ala (artinya): "Sesungguhnya Shafâ dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah…" hingga firman-Nya (artinya): "…mengerjakan sa'i di antara keduanya."
Dengan demikian diketahui bahwa Nafyul Junâh (penafian dosa) di dalam ayat tersebut, maksudnya bukanlah untuk menjelaskan hukum tentang Sa'i, tetapi maksudnya untuk menafikan (meniadakan) rasa risih yang mereka tampakkan tersebut dengan cara menahan diri dari melakukannya karena memandang kedua hal itu (thawaf dan sa'i) merupakan bagian dari perkara Jahiliyyah. Sedangkan hukum asal dari ibadah Sa'i dapat jelas dipahami melalui firman-Nya (artinya): "…adalah sebagian dari syi'ar Allah..."
(SUMBER: Muqaddimah Fit Tafsîr, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimîn, Hal.14-15)
Allah Selalu Bersamamu
Salah
satu bekal yang penting diberikan para orang tua kepada anak-anaknya
adalah upaya menumbuhkan rasa optimis pada diri anak dalam menghadapi
kehidupan yang sarat dengan problema. Cara terbaik untuk mencapai hal
tersebut adalah dengan mengenalkan pada anak akan pertolongan Allah yang
diberikan kepada setiap hamba-Nya yang beriman. Anak perlu dipahamkan
bahwa bila Allah telah memberikan pertolongan-Nya, maka permasalahan
seberat apapun akan bisa diselesaikan.
Anak, dengan segala keunikan yang ada pada pribadinya, tidak terlepas dari permasalahan, baik berkenaan dengan dirinya, tempat belajarnya, ataupun orang-orang di sekelilingnya. Begitu pun sisi berat ringannya permasalahan yang dihadapi berbeda-beda antara satu anak dengan yang lainnya. Tak jarang dijumpai dalam keseharian anak-anak yang begitu penakut terhadap segala sesuatu yang tak pantas dikhawatirkan. Semua itu terkadang membuat orang tua berkerut dahi, dengan jalan apa kiranya mengatasi hal-hal semacam ini?
Jika demikian, tentu sang anak membutuhkan bekal untuk menghadapi setiap problema yang dihadapinya. Dia membutuhkan bimbingan agar senantiasa merasakan pengawasan Rabb-nya, meminta hanya kepada-Nya, disertai keyakinan yang kokoh terhadap ketetapan dan takdir-Nya.
Anak, dengan segala keunikan yang ada pada pribadinya, tidak terlepas dari permasalahan, baik berkenaan dengan dirinya, tempat belajarnya, ataupun orang-orang di sekelilingnya. Begitu pun sisi berat ringannya permasalahan yang dihadapi berbeda-beda antara satu anak dengan yang lainnya. Tak jarang dijumpai dalam keseharian anak-anak yang begitu penakut terhadap segala sesuatu yang tak pantas dikhawatirkan. Semua itu terkadang membuat orang tua berkerut dahi, dengan jalan apa kiranya mengatasi hal-hal semacam ini?
Jika demikian, tentu sang anak membutuhkan bekal untuk menghadapi setiap problema yang dihadapinya. Dia membutuhkan bimbingan agar senantiasa merasakan pengawasan Rabb-nya, meminta hanya kepada-Nya, disertai keyakinan yang kokoh terhadap ketetapan dan takdir-Nya.
Ketika itulah selayaknya orang tua melihat kembali, bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan optimisme dan kebesaran jiwa pada diri anak, agar menghadapi gelombang kehidupan ini dengan keberanian dan penuh harapan, hingga kelak mereka menjadi sesosok pribadi yang bermanfaat bagi umat ini. Beliau pesankan kepada putra pamannya, Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma:
يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ. احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ. إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ. وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ. رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ. رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ.
وَفِي رِوَايَةِ غَيْرِ التِّرْمِذِي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ. تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ. وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ. وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنََّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ العُسْرِ يُسْرًا
“Wahai anak(ku), sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa
kalimat. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah,
niscaya engkau akan dapati Dia ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta,
mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah
pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini
berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat
memberikannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan
seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudharat kepadamu, mereka
tidak akan dapat menimpakannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan
menimpamu. Telah diangkat pena, dan telah kering lembaran-lembaran.”
(Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dan beliau berkata: hadits hasan
shahih).1
Dan dalam riwayat selain At-Tirmidzi: “Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Kenalilah Allah dalam keadaan lapang, niscaya Dia akan mengenalimu dalam keadaan susah. Ketahuilah, sesungguhnya apa yang ditetapkan luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang ditetapkan menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah, pertolongan itu berrsama kesabaran, kelapangan itu bersama kesusahan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
Inilah kalimat yang agung dan mulia dari lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seakan beliau mengatakan: Jagalah batasan-batasan dan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, juga dengan mempelajari agama-Nya hingga engkau dapat menunaikan ibadah dan muamalahmu. Jagalah semua itu, niscaya Dia akan menjaga agama, keluarga, harta maupun dirimu, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik atas kebaikannya. Sementara balasan yang paling penting adalah penjagaan-Nya terhadap agamamu serta menyelamatkan dirimu dari kesesatan.
Sebaliknya, seseorang yang menelantarkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan menelantarkan dirinya dan dia tidak berhak mendapatkan penjagaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
وَلاَ تَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah,
sehingga Allah jadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Mereka
itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)
Pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga memberikan pelajaran pada seorang anak untuk meminta ataupun memohon pertolongan hanya kepada Allah semata, tidak memintanya kepada makhluk. Karena Dialah yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Namun, tidak terlarang untuk meminta pertolongan kepada makhluk pada hal-hal yang mampu dia lakukan. Kalaupun dia harus meminta sesuatu atau mencari pertolongan kepada makhluk, maka sesungguhnya makhluk itu hanyalah sebab dan Allahlah yang menciptakan sebab, hingga kepada-Nyalah harus bersandar.
Demikian pula segala kebaikan yang diberikan dan bahaya yang ditimpakan oleh makhluk, semuanya telah ditetapkan oleh Allah. Namun, bukan berarti seseorang tidak diperkenankan untuk menolak bahaya dari dirinya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا
“Dan balasan kejelekan itu adalah kejelekan yang semisal.” (Asy-Syura: 40)
Oleh karena itu, seorang hamba harus menggantungkan harapannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak berpaling sedikit pun kepada makhluk, karena makhluk tidak memiliki kekuasaan sedikit pun untuk memberi manfaat maupun menimpakan bahaya.
Oleh karena itu, seorang hamba harus menggantungkan harapannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak berpaling sedikit pun kepada makhluk, karena makhluk tidak memiliki kekuasaan sedikit pun untuk memberi manfaat maupun menimpakan bahaya.
Begitu pun nasihat ini berisi anjuran untuk menunaikan hak Allah di saat lapang, sehat dan berkecukupan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengenalinya ketika berada dalam kesusahan, hingga Dia ringankan penderitaannya, menolong dan menghilangkan kesusahannya itu.
Ditemui pula pengajaran pada sang anak bahwa apa pun yang ditetapkan akan menimpa tak akan dapat ditolak. Dan apa pun yang tidak ditetapkan tak akan bisa diraih, karena Allah telah menetapkan semua itu.
Di dalam nasihat ini juga terdapat anjuran agar bersabar untuk memperoleh pertolongan. Kesabaran ini mencakup sabar untuk taat kepada Allah, sabar dalam menjauhi maksiat kepada Allah, dan sabar di atas ketetapan Allah yang ‘menyakitkan’ (menurut manusia, red). Inilah kabar gembira bagi orang yang bersabar, karena pertolongan akan mengiringi kesabaran. Inilah kabar gembira bahwa kelapangan itu mengiringi kesusahan. Hendaknya pula ketika ditimpa kesulitan, seorang hamba bersandar diri kepada Allah dengan menanti-nantikan kemudahan dari Allah serta membenarkan janji Allah, karena Allah telah mengatakan di dalam Kitab-Nya yang mulia:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya
bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah: 5-6)[Dirangkum dari
Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
rahimahullah2]
Di waktu yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:
المُؤْمِنُ القَوِي خَيْْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِِ الضَعِيْفِ. وَفِي كُلٍّ خَيْر.ٌ اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ. وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ. فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai
oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing dari
keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah untuk melakukan apa yang
bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan
merasa lemah. Apabila engkau ditimpa sesuatu, janganlah mengatakan
‘Seandainya aku dulu melakukan begini dan begini’, namun katakanlah ‘Ini
adalah takdir Allah, dan apa pun yang Allah kehendaki pasti Allah
lakukan’ karena ucapan ‘seandainya’ itu membuka amalan setan.” (HR.
Muslim no. 2664)
Yang dimaksud dengan kuat dalam ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah jiwa yang kokoh dan bersemangat terhadap perkara akhirat. Sehingga orang yang seperti ini menjadi orang yang paling pemberani terhadap musuh, paling cepat bertolak ke medan jihad, paling teguh dalam memerintahkan orang lain pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, dan bersabar dalam menempuh semua itu, serta tabah dalam menempuh kesusahan karena mengharap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia pun menjadi orang yang paling senang menunaikan shalat, puasa, dzikir, maupun seluruh ibadah, bersemangat pula untuk menjalankan dan menjaganya. Akan tetapi, baik orang yang kuat maupun orang yang lemah memiliki kebaikan karena mereka sama-sama beriman, juga karena ibadah yang dilakukan oleh orang yang lemah itu.
Dianjurkan pula oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menginginkan apa yang ada di sisi-Nya, serta memohon pertolongan kepada-Nya untuk mendapatkan itu semua. Hendaknya seorang hamba tidak merasa lemah dan malas untuk mencari amalan ketaatan dan memohon pertolongan dari-Nya. (Syarh Shahih Muslim)
Inilah yang semestinya tergambar dalam sosok pribadi seorang anak. Tak ada salahnya bila suatu ketika orang tua menuturkan kisah-kisah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang perjalanan hidup orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beri kemuliaan, yang sarat dengan optimisme dan keyakinan kepada Rabb-nya. Karena anak senang dengan cerita dan biasanya berbekas dalam jiwanya. Salah satunya dituturkan oleh Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu3 dari apa yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Dulu hidup seorang raja yang memiliki seorang tukang sihir. Ketika usia tukang sihir itu telah menua, ia berkata kepada sang raja, “Sesungguhnya aku ini telah tua, maka utuslah padaku seorang pemuda yang dapat kuajari sihir.” Lalu raja pun mengirim seorang pemuda untuk diajari sihir. Di tengah jalan yang biasa dilalui pemuda itu menuju tukang sihir ada seorang rahib. Pemuda itu singgah duduk dan mendengarkan ucapan sang rahib. Dia pun merasa takjub. Maka demikianlah bila dia mendatangi tukang sihir, dia melewati rahib lalu duduk di hadapannya. Bila tiba di hadapan tukang sihir, tukang sihir itu pun memukulnya. Dia adukan hal itu kepada rahib. Si rahib menjawab, “Kalau engkau khawatir terhadap tukang sihir, katakan padanya ‘Keluargaku menahanku’, dan kalau engkau khawatir terhadap keluargamu, katakan ‘Tukang sihir menahanku’.”
Demikian terus berlangsung sampai suatu saat, muncul seekor binatang besar yang menghalangi jalan manusia. Pemuda itu berkata, “Pada hari ini aku akan mengetahui, apakah tukang sihir yang lebih utama ataukah rahib.” Lalu diambilnya sebuah batu sambil berkata, “Ya Allah, bila ajaran rahib lebih Engkau cintai daripada ajaran tukang sihir, matikanlah binatang ini, hingga manusia dapat lewat kembali.” Dilemparnya binatang itu hingga akhirnya mati dan orang-orang pun dapat melewati jalan itu lagi.
Kemudian dia datang kepada rahib dan menceritakan apa yang terjadi. Mendengar itu rahib berkata, “Wahai anakku, sekarang engkau lebih utama daripadaku, engkau telah mencapai kedudukan sebagaimana yang kulihat, dan nanti engkau akan diuji. Jika engkau mendapatkan ujian, jangan sekali-kali menunjuk padaku.”
Pemuda itu pun dapat mengobati orang yang buta sejak lahir, orang yang berpenyakit sopak ataupun segala penyakit. Hal itu didengar oleh seorang pendamping raja yang buta. Dia pun mendatangi pemuda itu dengan membawa banyak hadiah, lalu berkata, “Semua yang di hadapanmu ini menjadi milikmu kalau engkau bisa menyembuhkanku.” Si pemuda menjawab, “Aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah. Kalau engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa agar Allah menyembuhkanmu.” Pendamping raja itu pun beriman dan Allah pun menyembuhkannya.
Pendamping raja itu kembali duduk di sisi raja sebagaimana biasanya. Sang raja bertanya, “Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?” “Rabbku,” jawab pendamping raja. “Apakah engkau punya rabb selain aku?” tanya raja lagi. “Rabbku dan Rabbmu adalah Allah,” jawabnya.
Sang raja pun menangkapnya dan terus-menerus menyiksanya sampai akhirnya pendamping raja itu menunjukkan si pemuda. Didatangkanlah pemuda itu dan dia mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah.” Mendengar itu, raja segera menangkapnya dan terus-menerus menyiksanya sampai pemuda itu menunjukkan si rahib. Didatangkan pula si rahib dan dikatakan padanya, “Keluar dari agamamu!” Rahib itu menolak. Raja meminta sebilah gergaji, lalu digergajilah tepat di tengah-tengah kepala rahib hingga terbelah dua badannya. Kemudian didatangkan pendamping raja dan dikatakan pula, “Keluar dari agamamu!” Akan tetapi dia menolak hingga digergaji tepat di tengah kepalanya sampai terbelah dua badannya.
Setelah itu didatangkan si pemuda dan dikatakan juga padanya, “Keluar dari agamamu!” Dia pun menolak, hingga raja menyerahkannya pada para pengawal, “Bawa dia naik ke gunung. Kalau kalian telah sampai di puncak, tawarkanlah kalau dia mau keluar dari agamanya. Kalau tidak, lemparkan dia!” Mereka membawa pemuda itu naik ke gunung. Pemuda itu berdoa, “Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.” Tiba-tiba gunung itu bergoncang dahsyat hingga para pengawal itu berjatuhan dari atas gunung. Pulanglah pemuda itu dengan berjalan kaki ke hadapan raja. Raja pun bertanya heran, “Apa yang mereka lakukan?” Jawab pemuda itu, “Allah menyelamatkanku dari mereka.”
Kemudian raja kembali menyerahkannya pada pengawal, “Bawalah dia dengan perahu hingga ke tengah lautan, lalu tawarkan kalau dia mau keluar dari agamanya. Kalau tidak, lemparkan dia ke lautan.” Mereka pun membawanya ke tengah lautan. Pemuda itu lalu berdoa, “Ya Allah, selamatkan aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.” Tiba-tiba perahu itu terbalik hingga para pengawal raja tenggelam. Pemuda itu pulang ke hadapan raja dengan berjalan kaki. Raja bertanya lagi, “Apa yang mereka lakukan?” Pemuda itu menjawab, “Allah menyelamatkanku dari mereka.”
Pemuda itu berkata lagi, “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau laksanakan saranku.” “Apa itu?” tanya raja. “Engkau kumpulkan manusia di sebuah tanah lapang, dan engkau salib aku pada sebatang pohon. Lalu ambil sebuah anak panah dari tempat anak panahku dan letakkan di busur. Kemudian ucapkan ‘Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini’ lalu panahlah. Kalau engkau lakukan ini, engkau akan bisa membunuhku.”
Raja segera mengumpulkan manusia di suatu tanah lapang dan menyalib pemuda itu pada sebatang pohon. Lalu diambilnya anak panah dari tempatnya kemudian diletakkan di busurnya sambil berkata, “Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini.” Dilontarkannya anak panah tepat mengenai dahi pemuda itu. Pemuda itu pun meletakkan tangannya di dahinya, di tempat sasaran anak panah, lalu meninggal.
Menyaksikan hal itu, manusia pun berkata, “Kami beriman kepada Rabb pemuda itu! Kami beriman kepada Rabb pemuda itu! Kami beriman kepada Rabb pemuda itu!”
Disampaikanlah kepada raja, “Tidakkah engkau melihat apa yang engkau khawatirkan? Demi Allah, sungguh telah terjadi apa yang engkau takutkan. Manusia telah beriman.” Maka raja memerintahkan untuk dibuat parit besar di setiap pintu kota dan dinyalakan api di dalamnya. Raja berkata, “Barangsiapa yang tidak mau keluar dari agamanya, lempar dan bakar dia di dalamnya!” Perintah itu pun segera dilaksanakan.
Suatu ketika, datang seorang wanita membawa anaknya yang masih kecil. Dia merasa bimbang untuk masuk ke dalam api. Tiba-tiba berucaplah sang anak, “Bersabarlah wahai ibu, sesungguhnya engkau di atas kebenaran.”
Inilah di antara banyak kisah yang memberikan gambaran tentang keadaan seorang mukmin yang senantiasa bersandar kepada Allah untuk mendapatkan jalan keluar dari permasalahannya. Semogalah tuturan ini memberikan bekas kebaikan yang tertanam dalam jiwa anak-anak.
Wallahu a’lamu bish shawab.
1 Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/2043 dan Al-Misykat no. 5302.
2 Diambil dari http://www.binothaimeen.com/
3 Diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahihnya no. 3005
sumbernya yaitu : http://www.asysyariah.com
#Untukmu Wahai Ibuku, aku mencintaimu sepanjang hidupku#
Ibu ..kata pertama yang kuucapkan ketika mulai belajar berbicara.
Kalimat paling indah yang pernah kulang2 …
Ingin rasanya kutuangkan ungkapan terima kasih dan sebuah pengakuan kepada ibuku.
Sebuah pengakuan dan terima kasih kepada ibuku yang kuyakini telah berjasa kepadaku setelah anugerah dan rahmat Allah Ta’ala.
Apapun yang kukatakan, dan apapun yang kulakukan, takkan bisa aku membalas jasamu duhai ibuku.
aku takkan melupakan haribaanmu yang penuh kasih sayang
Takkan kulupa malam-malam yang engkau lalui tanpa memejamkan mata sepicingpun.
Dan hari-harimu yang penuh dengan keletihan.
aku tidak lupa ketika kita semua berkumpul mengelilingi hidangan makan
di atas tikar pandan, lalu engkau mendahulukan kami dari pada dirimu
dengan segala macam makanan dan minuman yang lezat dan enak..bahkan
setelah kami mulai tumbuh besar engkaupun masih rela menyuapkan makanan
ke mulut kami …
Betapa lelahnya engkau wahai ibu, ketika kami
terlambat pulang di malam hari karena bermain, seluruh penghuni rumah
telah lelap tinggallah engkau menahan kantuk menanti kepulangan kami.
Dulu, engkau takut dan khawatir ketika kami bermain ditepi sungai..aku
ingat, engkau pernah marah ketika aku bermain ditepian sungai lalu
memukulku, ketika itu aku belum mengerti kenapa engkau begitu marah.
Tatkala aku besar dan dewasa, anakmu ini mengerti. Semua itu engkau
lakukan karena engkau mengkhawatirkan keselamatan aku anakmu!!
Aku tidak akan lupa, ketika aku beranjak remaja dan pergi merantau untuk
menuntut ilmu engkau ikut bersusah payah bekerja, menumbuk tepung
membuat kue dan berjualan mengumpulkan uang dari sana dan sini untuk
membantu pendidikan kami anak-anakmu.
Ya Allah .. rahmatilah ibuku
Betapa letihnya diriku ketika pulang liburan kemudian datanglah saat
untuk kembali ketempat perantauan ..hatiku serasa terputus-putus ketika
engkau berkata kepadaku, “Mungkin ketika engkau nanti kembali lagi
engkau tidak melihatku lagi …”.
Alangkah sedih hatiku, setelah
bertahun-tahun aku tidak pulang, ketika pertama kali aku berdiri di
hadapanmu engkau katakan, “Ini bukan anakku”. Karena kondisi dan
penampilanku yang tidak seperti engkau bayangkan …
Tak kuasa
diriku menahan air mata mendengarnya, membuatku tersungkur memeluk
kakimu dan ketika tanganmu membelai kepalaku serasa tetesan-tetesan
embun memadamkan kesedihan dan mengobati kerinduan hati.
Setelah perjalanan panjang yang kulalui jauh darimu, akupun pulang
..engkau telah beranjak tua dan lemah. Sungguh engkau telah berikan
untukku dan saudara-saudaraku tahun-tahun terindah dan paling manis
dalam hidupmu.
Berapa sering engkau membela kami. Entah berapa
banyak pengorbananmu untuk kami. Engkaulah yang telah menanggung
keresahan dan kegundahan kami, engkau selalu berusaha mewujudkan
keinginan kami sekalipun kami telah besar.
Dulu dipanggil fulan
.. dan hari hari ini orang memanggilku ustadz fulan..semua itu demi
Allah tidak lain dan tidak bukan karena anugerah Allah semata kemudian
karena jasamu ibu. aku ini demi Allah tidak lain dan tidak bukan adalah
satu dari sekian banyak buah kebaikanmu ibu. Semoga Allah membalas
kebaikanmu dengan sebaik-baik pahala
Wahai pemilik senyuman yang tulus, wahai pemilik hati yang dermawan dan penuh kasih sayang
Untukmu aduhai bunga yang tak pernah layu
Untukmu wahai mata air yang bening
Untukmu yang telah mengusap air mataku
Untukmu yang telah membasuh kotoranku
Yang telah menyuapkan makan dan minum dengan tangannya kemulutku
Untukmu yang telah menjadikan haribaannya sebagai ketenangan bagiku
Matanya yang selalu mengawasiku
kuhadiahkan untai kata dan rangkai kalimat ini untukmu dan semoga
Allah membalas segala budi baikmu dengan sebaik-baik balasan.
Ya Allah jagalah ibuku dengan penjagaanMu, panjangkanlah umurnya,
perbaikilah amalannya, dan tutuplah usianya dengan amal sholeh
dijalanMu.
Ibu .. kalaulah umurmu ditanganku ingin menambahkannya sekalipun aku harus binasa karenanya.
Ibu .. kalau aku kuasa, kan kuangkat engkau setinggi-tingginya hingga ke langit.
Demi Allah tidak akan ada yang bisa memberikan hakmu dengan sempurna kecuali Allah Ta’ala.
IBU .. TAHUKAH ENGKAU SIAPA ITU IBU?
Dia adalah contoh kasih sayang yang hidup di tengah kita, tidak ada
yang memandangnya dengan penghormatan dan penghargaan melainkan
orang-orang yang dikasihi Allah. Ibu adalah laksana batu karang
kesabaran. Gambaran hidup bagi sifat pema’af dan lapang dada.
Seseorang bercerita, “Sekarang aku baru mengetahui arti ungkapan
sebagian orang ‘mendengar bukan seperti menyaksikan’. Aku banyak
mendengar ragam ungkapan tentang besarnya keutamaan seorang ibu. Sama
seperti yang lainnya, aku mendengar semua itu tapi hanya sebatas lewat
ditelinga. Terkadang ungkapan yang indah menggetarkan perasaanku.
Kadangkala aku mengangguk-angguk kagum mendengar bait-bait syair yang
indah kemudian tidak tampak wujudnya dalam kehidupan nyata.
Akan tetapi Allah mengingikan kebaikan untukku, ketika aku dapatkan
diriku mengikuti fase-fase perkembangan kehamilan istriku selangkah demi
selangkah.
Dan ketika ia memasuki bulan yang kesembilan lebih
sedikit. Aku bayangkan diriku adalah bayi meringkuk di dalam rahim itu.
Aku terus mengikuti dan mengawasi .. aku mulai merasakan sebagian
makna-makna tersebut yang sering aku dengar ..tentang keutamaan seorang
ibu.
Aku telah melihat dan melihat sesuatu hal yang luar
biasa, membuat kepala menggeleng-geleng, hati tersentuh dan mata
menangis. Sejak itu aku benar-benar yakin bahwasanya ibu wanita yang
agung ini, manusia tidak akan pernah bisa membalas jasa dan budi baiknya
sepanjang masa.
Betapapun indahnya untai kata sebuah puisi dan rangkai kalimat nan lembut sebuah sya’ir
Demi Allah tidak akan ada yang bisa membalas kebaikannya kecuali Allah
semata. Diakhir bulan yang kesembilan itu ..apa yang aku saksikan!! Aku
memohon rahmatMu ya Allah ..apakah sanggup seorang manusia menanggung
semua kepedihan dan rasa sakit itu??!! Aku melihatnya menanggung semua
itu dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Aku melihatnya dan mendengarnya
dan ia tidak sadar ketika ia mengerang kesakitan aku merasakan panasnya
pedih yang dirasanya berpindah langsung ke dalam hatiku. Aku berusaha
berjuang melawan diriku agar mataku tidak mempermalukanku. Kemudian
tidak beberapa lama, aku dikejutkan lagi oleh dirinya yang tersenyum
melupakan kepedihan dan rasa sakit itu, seraya menunjuk ke perutnya ia
berkata, “Aku sangat mencintaimu bayiku, aku rindu untuk melihatmu”.
Maha suci Allah yang melimpahkan kesabaran kepadanya untuk menanggung
kepedihan yang bersambung dengan ruhnya.
Engkau melihatnya
apabila bergerak merasa pedih, apabila duduk merintih, apabila berbaring
meringis, apabila berjalan letih, apabila berusaha tidur untuk rehat
sejenak tidak sanggup. Dia tidak bisa berbolak-balik di tempat tidurnya
seenaknya seperti sebelum ia mengandung bayi itu. Namun begitu ia masih
saja sibuk dengan mengatur, membersihkan, merapikan dan mengurus urusan
rumah. Serta mengasuh anak-anaknya yang masih kecil; memberi makan,
memandikan dan menidurkan mereka. Itu semua dilakukannya sendiri
bagaikan mengangkat sebuah gunung.
Dan setelah itu ia masih
berujar kepada kesabaran dengan tersenyum, “hai sabar, ambillah
pelajaran dariku. Hai sabar, ambillah pelarajan dariku”.
Cobalah dirimu menjadi seorang ibu. Apakah sanggup seorang laki-laki
untuk tinggal bersama seorang bayi usia dua atau tiga tahun sepanjang
hari kalau tidak dia akan menyumpah serapah atau memaki dirinya sendiri
karena kesal atau menyesal.
Demi Allah, hanya seorang ibu saja yang sanggup menanggung itu dengan ridho, rela dan senyuman.
Alangkah indahnya pemandangan ketika seorang ibu duduk dan di
sekelilingnya duduk pula anak-anaknya yang masih kecil, tak obahnya
anak-anak burung yang membuka paruhnya supaya ibunya menyuapkan makanan …
Sang ibu membujuk ini untuk makan, bercanda dengan yang lainnya sambil
menyuapkannya, dan memberi minum anaknya yang lain setelah berulangkali
merayunya. Serta tertawa dengan yang paling kecil agar mau menyantap
makanannya.
Semua itu ia lakukan sambil duduk ditengah-tengah
mereka dengan posisi yang tidak mengenakkan, hampir-hampir saja seluruh
persendiannya menjerit, mengaduh menahan sakit. Namun begitu ia tetap
tersenyum dan memberi semangat anak-anaknya agar mau makan.
Kemudian tiba-tiba ia menjerit pelan, ia baru saja menerima tendangan
bayi di dalam perutnya maka ia segera memperbaiki posisi duduknya,
setelah itu ia kembal itersenyyum seolah-olah tidak pernah terjadi
sesuatu.
Lantas, janinnya kembali memberikan pukulan dan tendangan lagi seolah-olah ia berkata kepada ibunya, “Aku disini ibu”.
Sang ibu gembira dengan pukulan dan tendangan janinnya, sedangkan
janinnya tidak membiarkannya beristirahat barang sejenak. Apabila tidak
terasa gerakan janinnya ia takut dan cemas, apabila bergerak ia gembira
dan senang.
Subhanallah, beragam rasa sakit dan derita yang
saya kira kalau ditimpakan kepada seorang laki-laki berotot barangkali
ia akan menjerit sampai terdengar oleh tetangga-tetanggannya.
Adapun dia, tetap sabar mengharapkan ridho Allah, bahkan tersenyum dan tertawa.
Semoga rahmat Allah untuknya, ramat Allah atasnya dan rahmat Allah bersamanya.
Apakah engkau mengira sakit dan pedih itu berakhir sampai disitu saja?!
Alangkah mulianya engkau ibu …
Apabila telah lewat usia kandungan Sembilan bulan, dan telah dekat saat
keluarnya janin ke dunia, datanglah musibah itu. Si janin tidak ingin
tinggal lagi dirahim ibunya, tapi dia tidak juga keluar dengan sukarela
ke dunia fana ini. Ketika itulah rasa sakit yang tidak tertahankan,
derita yang tidak ringan. Kemudian sering pula janin tidak keluar
kecuali dengan paksaan, sehingga kadang daging harus disayat, perut
dibelah atau divakum .. kemudian rasa sakit kian bertambah ketika janin
mulai keluar ..darah berpacu dengan janin dan kematian serasa di ambang
mata, terkadang kematian yang lebih dahulu dan si ibupun mati sementara
janinnya yang hidup. Apabila sang ibu dikaruniahi usia yang panjang ia
sadar setelah menghadapi kondisi yang berat ini, lalu apabila ia melihat
bayinya terbaring disisinya, ia pun tersenyum .. hilang rasa sakit,
lupa derita yang baru saja dilaluinya.
Ya Allah yang Maha
pengasih lagi Maha penyayang, alangkah menakjubkannya kasih sayang
seorang ibu dan kerinduan kepada bayinya. Ia berjuang menghadapi rasa
sakit dan kematian kemudian ia berangan-angan rela mati untuk kehidupan
bayinya.
Ibu …
Kalaulah bintang gemintang memancarkan sinarnya menerangimu
Kalaulah semua burung-burung bernyanyi menyenandungkan namamu
Kalaulah angin lembut bertiup menaburkan butiran embun nan bening dan wangi dipangkuanmu
Semua itu tidak cukup untuk membalas jasamu ibu.
عن أنس قال : ارتقى النبي على المنبر درجة فقال آمين ..ثم ارتقى الثانية فقال آمين ..ثم ارتقى الثالثة فقال آمين ..
ثم استوى فجلس فقال أصحابه : علامَ أمنت يا رسول الله ؟!..فقال : (( أتاني
جبريل فقال : رغم أنف امرئ ذُكرت عنده فلم يصلِ عليك ، فقلت : آمين ثم قال
: ورغم أنف امرئ أدرك أبويه ولم يدخل الجنة…”
Dari Anas
rodhiyallahu ‘anhu ia menuturkan, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama
naik ke tangga pertama mimbar maka belia mengucapkan amin, kemudian naik
ke anak tangga ke dua seraya lalu mengucapkan amin, kemudian naik ke
anak tangga yang ketiga lalu mengucapkan amin. Kemudian duduk di atas
mimbar. Maka sahabat-sahabatnya berkata, “Apa yang engkau aminkan hai
Rasulullah? Beliau berkata, “Jibril mendatangiku, lalu ia berkata,
‘Celaka orang yang disebutkan namamu dihadapnnya lalu ia tidak
bersholawat atasmu, maka aku mengucapkan amin. Kemudian ia berkata,
‘Celaka orang yang mendapatkan kedua orangtuanya dan ia tidak masuk
surga …”. (Shohih dengan syawahidnya, Fadhlush Sholah ‘alan Nabi tahqiq
Syaikh Al Albany, hal; 30).
Ibu …
karena kemuliaanmu kening tertunduk hina di depanmu
namamu semerbak mewangi, haribaanmu menghangati jiwaku
Allah yang Maha Tinggi lagi Mulia menjagamu.
Kepadamu ibuku, aku rindu
Ridhomu atasku bagai hembusan angin nan sejuk menghapus dukaku
Kasihmu duhai ibu, penawar luka-lukaku
Peliru lara sepanjang umurku dan tempat bernaungku
Dan setelah kepada Allah, kepadamulah aku mengadu
Kala problema merundungku
Dengan do’amu duhai ibu sirna segala kesusahanku
Do’amu laksana jalan bagi hatiku
Wahai ibuku, engkaulah yang membuat indah hidupku
Bunga-bunga nan indah mekar dan mata air yang tak pernah berhenti mengaliriku
Tak dapat kuhitung malam-malam yang kau lalui tanpa memejamkan matamu
Dan hatimu bersedih ketika aku pergi meninggalkanmu
Teruslah ibu menjadi pelita yang bagiku.
Agar aku bisa berbakti kepadamu.
Abu Zubair Hawaary
Ibu, I love you..
Untukmu Wahai Engkau Kekasihku
keteguhan dan petunjuk kepada Allooh Ta'ala, niscaya ia tidak akan mampu berdiri sendiri, menghadapi angin yang bertiup di masyarakat yang menyimpang dari syari'at agama yang tentu saja berpengaruh kepada diri wanita itu. Karena itu wanita sholihah harus memohon kepada Robb-nya agar membersihkan dirinya dan memperbaiki hatinya. Karena hati manusia itu berada di antara dua jari jemari Ar-Rohman. Dia membolak- balikkannya bagaimana saja Dia menghendaki. Jika kita tidak memohon keteguhan dari-Nya, hati tersebut akan menyimpang dan keadaan kita memburuk. Kenyataan membuktikan hal demikian, dengan banyak contoh kita bis amelihat dan sebagian lagi kita dengarkan. Ada wanita yang dulunya beriman kuat, berilmu mantap, berkepribadian tenang, namun di suatu hari keadaan berbalik menjadi sesuatu yang tidak terpuji akibatnya. Persoalan hati dan keselamatannya sangat tergantung kepada Allooh Ta'ala, Dia meneguhkan siapa saja yang Dia kehendaki, memberi petunjuk siapa saja yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki. Seluruh urusan berada di tangan-Nya saja. |
”PENTINGNYA MENJAGA WAKTU”
Saudaraku yang berbahagia diatas hidayah islam wa sunnah....
Bertaubat kepada ALLAH dan mencegah diri dari suatu perbuatan dosa
memang tidak membuat anggota badan kita menjadi lelah dan letih...
Tetapi, inti masalahnya terletak pada usia Anda saat ini!
Yaitu waktu yang terletak diantara masa lalu dan masa mendatang Anda.
Jika Anda menyia-nyiakan waktu tersebut, berarti Anda telah
menyia-nyiakan untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan yang hakiki pada
diri anda sendiri!
Sebaliknya, jika anda menjaganya dan
senantiasa memperbaiki masa-masa lalu dengan taubat serta istiqomah
diatas ketaatan kepada-Nya dan masa mendatang, niscaya Anda akan selamat
dan memperoleh ketentraman, kenikmatan, kebahagiaan dan kesenangan yang
hakiki.....
Sesungguhnya, menjaga waktu yang sekarang kita
jalani lebih sulit daripada memperbaiki waktu yang telah berlalu maupun
yang akan datang.
Disebabkan, menjaga waktu berarti mengaharuskan
diri Anda untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, lebih bermanfaat, dan
lebih banyak melaksanakan ketaatan agar memberikan kebahagaiaan dunia
dan akhirat pada diri Anda, dan yang demikian tidak mudah kita
melaksanakannya....
Akhirnya kita memohon kepada ALLAH agar
ALLAH memberikan kemudahan pada diri kita untuk mengisi waktu-waktu kita
dalam rangka ibadah kepada Allah utk meraih kebahagiaan dunia dan
akhirat kita....
Maraji:
Fawaidul fawaid
Penulis
AKHUKUM almuhib Ahmad Ferry Nasution.
"
Bertaubat kepada ALLAH dan mencegah diri dari suatu perbuatan dosa memang tidak membuat anggota badan kita menjadi lelah dan letih...
Tetapi, inti masalahnya terletak pada usia Anda saat ini!
Yaitu waktu yang terletak diantara masa lalu dan masa mendatang Anda.
Jika Anda menyia-nyiakan waktu tersebut, berarti Anda telah menyia-nyiakan untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan yang hakiki pada diri anda sendiri!
Sebaliknya, jika anda menjaganya dan senantiasa memperbaiki masa-masa lalu dengan taubat serta istiqomah diatas ketaatan kepada-Nya dan masa mendatang, niscaya Anda akan selamat dan memperoleh ketentraman, kenikmatan, kebahagiaan dan kesenangan yang hakiki.....
Sesungguhnya, menjaga waktu yang sekarang kita jalani lebih sulit daripada memperbaiki waktu yang telah berlalu maupun yang akan datang.
Disebabkan, menjaga waktu berarti mengaharuskan diri Anda untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih banyak melaksanakan ketaatan agar memberikan kebahagaiaan dunia dan akhirat pada diri Anda, dan yang demikian tidak mudah kita melaksanakannya....
Akhirnya kita memohon kepada ALLAH agar ALLAH memberikan kemudahan pada diri kita untuk mengisi waktu-waktu kita dalam rangka ibadah kepada Allah utk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat kita....
Maraji:
Fawaidul fawaid
Penulis
AKHUKUM almuhib Ahmad Ferry Nasution.
Langganan:
Postingan (Atom)