Apa semua manusia diciptakan dengan cinta?
apa semua bisa merasaka cinta?
apa semua tahu apa yang disebut cinta?
mengapa hanya diriku yang tak tahu apa arti sebuah cinta?
apa benar cinta itu indah?
cinta itu anugrah?
tapi mengapa hanya diriku yang tak mempunyai cinta
apa cinta itu benar-benar adil?
jikaku diberi kesempatan untuk menikmati apa itu cinta
betapa bahagianya hari-hariku
betapa indah nya hidupku
OH…CINTA.. kau membuatku berangan-angan
untuk memilikimu CINTA
dikutip dari ruang sebelah..
::Komentar saya : MAKANYA NIKAAAAAAAAH!!!! biar tau artinya cinta dan dicinta::
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum: 21)
Al-’Allamah Abdurrahman
As-Sa’di rahimahullah berkata: “ ‘Di antara tanda-tanda kekuasaan’ yang
menunjukkan rahmat dan perhatian-Nya kepada hamba-hamba-Nya, hikmah-Nya
yang sangat agung dan ilmu-Nya yang luas, adalah “Dia menciptakan kalian
dari jenis kalian dengan berpasang-pasangan,” yang mereka serasi dengan
kalian dan kalianpun serasi dengan mereka. Sesuai dengan bentuk kalian
dan kalian sesuai dengan bentuk tubuh mereka. “Agar kalian cenderung dan
merasa tenteram kepadanya, dan Allah jadikan di antara kalian rasa
kasih dan sayang” sebagai buah dari pernikahan tersebut. Dengan adanya
istri, seseorang dapat bersenang-senang dan merasakan kenikmatan,
mendapatkan manfaat dengan adanya anak-anak, mendidik mereka, serta
merasakan ketenangan bersamanya. Sehingga kebanyakannya, engkau tidak
mendapati sebuah kasih sayang dan rahmat yang menyerupai apa yang
dirasakan antara suami dan istri. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat
tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi kaum yang berpikir. Yang menggunakan
pikirannya dan mentadabburi ayat-ayat Allah k serta berpindah dari satu
ayat kepada yang lainnya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Oleh Kakangku Abu Iram Al-Atsary
Manfaatkan masa mudamu sebelum masa tuamu. Kau Isi Apa Waktumu? Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah membuat suatu garis lalu beliau bersabda: "Ini adalah cita-citanya, dan ini adalah ajalnya, ketika seseorang seperti itu (dalam cita-citanya), maka datanglah garis yang lebih dekat (yaitu ajalnya)." [Hr.Bukhori No.5939]
Sabtu, 02 Maret 2013
::Wahai Ibu Maafkan Anakmu::
Ibu, engkaulah penyejuk hati dan penhapus dahaga yang terbakar panas dunia,
Engkaulah satu-satunya, manusia yang telah memberiku kelembutan kasih sayang ketika ketika hidupku terkukung kerasnya dunia.
Engkaulah orang yang tidak pernah menghinakanku ketika manusia dekat dan jauh menghinakanku.
Engkaulah yang mengajarkanku melakukan yang baik, bukan untuk dirimu, tetapi untuk diriku.
Duhai Ibuku ..
Dengan kehadiranmu cinta, kasih dan sayang serta kerinduan bersemi. Dan tanpamu semua gersang.
Wahai Ibuku ..
Engkau biarkan kepedihan menyala-nyala diantara tulang-tulang rusukmu untuk menumbuhkankembangkan asa di hati anakmu.
Wahai ibuku, yang tak pernah berhenti berdo'a kebaikan dan kebahagianku.
Engkaulah harta simpananku paling berharga.
Engkaulah kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ibu ... maafkan dan ridhailah anakmu.
Semoga Allah menjagamu dan menjadikanku berbakti kepadamu. Aku senantiasa berdo'a untukmu sebagaimana engkau mendidikku ketika kecil dan membekaliku dengan do'amu.
Semoga Allah sangat mengasihimu sebagai hatimu telah mencurahkan kelembutan dan kasih sayang padaku.
Washalallahu wa sallama 'ala Nabiyyina Muhammad wa 'ala Alihi wa Ash-Shabihi Ajma'in, wal Hamdulillahi Rabbil 'Alamin.
Abu Zubair Hawary
Engkaulah satu-satunya, manusia yang telah memberiku kelembutan kasih sayang ketika ketika hidupku terkukung kerasnya dunia.
Engkaulah orang yang tidak pernah menghinakanku ketika manusia dekat dan jauh menghinakanku.
Engkaulah yang mengajarkanku melakukan yang baik, bukan untuk dirimu, tetapi untuk diriku.
Duhai Ibuku ..
Dengan kehadiranmu cinta, kasih dan sayang serta kerinduan bersemi. Dan tanpamu semua gersang.
Wahai Ibuku ..
Engkau biarkan kepedihan menyala-nyala diantara tulang-tulang rusukmu untuk menumbuhkankembangkan asa di hati anakmu.
Wahai ibuku, yang tak pernah berhenti berdo'a kebaikan dan kebahagianku.
Engkaulah harta simpananku paling berharga.
Engkaulah kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ibu ... maafkan dan ridhailah anakmu.
Semoga Allah menjagamu dan menjadikanku berbakti kepadamu. Aku senantiasa berdo'a untukmu sebagaimana engkau mendidikku ketika kecil dan membekaliku dengan do'amu.
Semoga Allah sangat mengasihimu sebagai hatimu telah mencurahkan kelembutan dan kasih sayang padaku.
Washalallahu wa sallama 'ala Nabiyyina Muhammad wa 'ala Alihi wa Ash-Shabihi Ajma'in, wal Hamdulillahi Rabbil 'Alamin.
Abu Zubair Hawary
Jangan Pernah Lari Dari Masalah
Jgn Pernah Lari Dari Masalah,
Meraka akan selalu mengikutimu hadapiLah..
seberat apapun masalah yang kau hadapi,selama kamu masih bernapas,
kamu masih mempunyai alasan untk tersenyum..
karena sesungguhnya...
masalah masalah itu akan membuatmu menjadi pribadi yg kuat..
maka
sabar & sholat sbg penolongmu..
Oleh Hariyati
Meraka akan selalu mengikutimu hadapiLah..
seberat apapun masalah yang kau hadapi,selama kamu masih bernapas,
kamu masih mempunyai alasan untk tersenyum..
karena sesungguhnya...
masalah masalah itu akan membuatmu menjadi pribadi yg kuat..
maka
sabar & sholat sbg penolongmu..
Oleh Hariyati
.::Rasa Syukur terlihat dari bagaimana seseorang menyikapi Kenikmatan dan Cobaan::.
“Maka pada hakekatnya berbagai kenikmatan itu adalah cobaan dan ujian dari Allah yang dengan hal itu akan tampak bukti syukur orang yang pandai berterima kasih dengan bukti kekufuran dari orang yang suka mengingkari nikmat. Sebagaimana halnya berbagai bentuk musibah juga menjadi cobaan yang ditimpakan dari-Nya Yang Maha Suci. Itu artinya Allah menguji dengan berbagai bentuk kenikmatan, sebagaimana Allah juga menguji manusia dengan berbagai musibah yang menimpanya.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya dengan memuliakan kedudukannya dan mencurahkan nikmat (dunia) kepadanya maka dia pun mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakan diriku.’ Dan apabila Rabbnya mengujinya dengan menyempitkan rezkinya ia pun berkata, ‘Rabbku telah menghinakan aku.’ Sekali-kali bukanlah demikian…” (QS. Al Fajr : 15-17).
Artinya tidaklah setiap orang yang Aku lapangkan (rezkinya) dan Aku muliakan kedudukan (dunia)-nya serta Kucurahkan nikmat (duniawi) kepadanya adalah pasti orang yang Aku muliakan di sisi-Ku. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezkinya dan Aku timpakan musibah kepadanya itu berarti Aku menghinakan dirinya.” (Al Fawa’id, hal. 149).
"Time Up! GtG"
be right back after sometime..
InsyaAllah..
Status NHawadaa Chan
Hiasi Dirimu dengan Malu
Penulis: Ummu Salamah Farosyah
Semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmatimu, saudariku… Malu, demikianlah nama sebuah sifat yang sangat lekat ketika kita berbicara tentang wanita. Maka beruntunglah engkau saudariku ketika Allah menciptakanmu dengan sifat malu yang ada pada dirimu! Karena apa? Hal ini tidak lain karena malu adalah bagian dari iman.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seorang Anshar yang sedang menasehati saudaranya karena sangat pemalu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkan dia karena rasa malu adalah bagian dari Iman.” (HR. Bukhari Muslim)
Hakikat rasa malu itu adalah sebuah akhlak yang memotivasi diri untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan membentengi diri dari kecerobohan dalam memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. Seorang muslimah akan menjauhkan dirinya dari larangan Allah dan selalu menaati Allah disebabkan rasa malunya kepada Allah yang telah memberikan kebaikan padanya yang tidak terhitung.
Perintah yang Dibawa oleh Setiap Nabi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara yang didapat manusia dari kalimat kenabian terdahulu ialah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” (HR. Bukhari)
Yang dimaksud dengan “kalimat kenabian terdahulu” ialah bahwa rasa malu merupakan akhlaq yang terpuji dan dipandang baik, selalu diperintahkan oleh setiap nabi dan tidak pernah dihapuskan dari syari’at para nabi sejak dahulu.
Dalam hadits ini disebutkan, “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” Kalimat ini mengandung 3 pengertian, yaitu:
Berupa perintah: Jika perbuatan tersebut tidak mendatangkan rasa malu, maka lakukanlah. Karena perbuatan yang membuat rasa malu jika diketahui orang lain adalah perbuatan dosa.
Berupa ancaman dan peringatan keras: Silahkan kamu melakukan apa yang kamu suka, karena azab sedang menanti orang yang tidak memiliki rasa malu. Berbuat sesuka hati, tidak peduli dengan orang lain.
Berupa berita: Lakukan saja perbuatan buruk yang kamu tidak malu untuk melakukannya.
Malu? Siapa yang punya?
Sifat malu ada dua macam, yaitu:
1. Malu yang merupakan watak asli manusia
Sifat malu jenis ini telah menjadi fitrah dan watak asli dari seseorang. Allah menganugerahkan sifat malu seperti ini kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Memiliki sifat malu seperti ini adalah nikmat yang besar, karena sifat malu tidak akan memunculkan kecuali perbuatan yang baik bagi hamba-hamba-Nya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dari Imran Ibn Hushain radhiyallahu’anhu: “Rasa malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari Muslim)
2. Malu yang diupayakan (dengan mempelajari syari’at)
Al-Qurthubi berkata, “Malu yang diupayakan inilah yang oleh Allah jadikan bagian dari keimanan. Malu jenis inilah yang dituntut, bukan malu karena watak atau tabiat. Jika seorang hamba dicabut rasa malunya, baik malu karena tabiat atau yang diupayakan, maka dia sudah tidak lagi memiliki pencegah yang dapat menyelamatkannya dari perbuatan jelek dan maksiat, sehingga jadilah dia setan yang terkutuk yang berjalan di muka bumi dalam wujud manusia.”
Hati-Hati terhadap Malu yang Tercela
Saudariku, ketahuilah bahwa ada malu yang disebut malu tercela, yaitu malu yang menjadikan pelakunya mengabaikan hak-hak Allah Ta’ala sehingga akhirnya dia beribadah kepada Allah dengan kebodohan. Di antara malu yang tercela adalah malu bertanya masalah agama, tidak menunaikan hak-hak secara sempurna, tidak memenuhi hak yang menjadi tanggung jawabnya, termasuk hak kaum muslimin.
Nah, saudariku, kini engkau tahu! Meskipun malu adalah tabiat dasar seorang wanita, sifat ini tidak boleh menghalangimu untuk berbuat kebaikan. Berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan sampai engkau menjadi wanita yang paling mulia di sisi Allah! Wallahu a’lam.
Maraaji’:
Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi
Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 2 Imam Nawawi, Takhrij: Syaikh M. Nashiruddin Al-Albani.
Buletin Tuhfatun Nisa: Rufaidah.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmatimu, saudariku… Malu, demikianlah nama sebuah sifat yang sangat lekat ketika kita berbicara tentang wanita. Maka beruntunglah engkau saudariku ketika Allah menciptakanmu dengan sifat malu yang ada pada dirimu! Karena apa? Hal ini tidak lain karena malu adalah bagian dari iman.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seorang Anshar yang sedang menasehati saudaranya karena sangat pemalu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkan dia karena rasa malu adalah bagian dari Iman.” (HR. Bukhari Muslim)
Hakikat rasa malu itu adalah sebuah akhlak yang memotivasi diri untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan membentengi diri dari kecerobohan dalam memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. Seorang muslimah akan menjauhkan dirinya dari larangan Allah dan selalu menaati Allah disebabkan rasa malunya kepada Allah yang telah memberikan kebaikan padanya yang tidak terhitung.
Perintah yang Dibawa oleh Setiap Nabi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara yang didapat manusia dari kalimat kenabian terdahulu ialah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” (HR. Bukhari)
Yang dimaksud dengan “kalimat kenabian terdahulu” ialah bahwa rasa malu merupakan akhlaq yang terpuji dan dipandang baik, selalu diperintahkan oleh setiap nabi dan tidak pernah dihapuskan dari syari’at para nabi sejak dahulu.
Dalam hadits ini disebutkan, “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” Kalimat ini mengandung 3 pengertian, yaitu:
Berupa perintah: Jika perbuatan tersebut tidak mendatangkan rasa malu, maka lakukanlah. Karena perbuatan yang membuat rasa malu jika diketahui orang lain adalah perbuatan dosa.
Berupa ancaman dan peringatan keras: Silahkan kamu melakukan apa yang kamu suka, karena azab sedang menanti orang yang tidak memiliki rasa malu. Berbuat sesuka hati, tidak peduli dengan orang lain.
Berupa berita: Lakukan saja perbuatan buruk yang kamu tidak malu untuk melakukannya.
Malu? Siapa yang punya?
Sifat malu ada dua macam, yaitu:
1. Malu yang merupakan watak asli manusia
Sifat malu jenis ini telah menjadi fitrah dan watak asli dari seseorang. Allah menganugerahkan sifat malu seperti ini kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Memiliki sifat malu seperti ini adalah nikmat yang besar, karena sifat malu tidak akan memunculkan kecuali perbuatan yang baik bagi hamba-hamba-Nya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dari Imran Ibn Hushain radhiyallahu’anhu: “Rasa malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari Muslim)
2. Malu yang diupayakan (dengan mempelajari syari’at)
Al-Qurthubi berkata, “Malu yang diupayakan inilah yang oleh Allah jadikan bagian dari keimanan. Malu jenis inilah yang dituntut, bukan malu karena watak atau tabiat. Jika seorang hamba dicabut rasa malunya, baik malu karena tabiat atau yang diupayakan, maka dia sudah tidak lagi memiliki pencegah yang dapat menyelamatkannya dari perbuatan jelek dan maksiat, sehingga jadilah dia setan yang terkutuk yang berjalan di muka bumi dalam wujud manusia.”
Hati-Hati terhadap Malu yang Tercela
Saudariku, ketahuilah bahwa ada malu yang disebut malu tercela, yaitu malu yang menjadikan pelakunya mengabaikan hak-hak Allah Ta’ala sehingga akhirnya dia beribadah kepada Allah dengan kebodohan. Di antara malu yang tercela adalah malu bertanya masalah agama, tidak menunaikan hak-hak secara sempurna, tidak memenuhi hak yang menjadi tanggung jawabnya, termasuk hak kaum muslimin.
Nah, saudariku, kini engkau tahu! Meskipun malu adalah tabiat dasar seorang wanita, sifat ini tidak boleh menghalangimu untuk berbuat kebaikan. Berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan sampai engkau menjadi wanita yang paling mulia di sisi Allah! Wallahu a’lam.
Maraaji’:
Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi
Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 2 Imam Nawawi, Takhrij: Syaikh M. Nashiruddin Al-Albani.
Buletin Tuhfatun Nisa: Rufaidah.
Saatnya Berbuat Jujur
Sifat jujur merupakan sifat yang sangat terpuji. Namun, sekarang
sifat ini menjadi barang langka. Manusia merasa bahwa kejujuran adalah
perkara yang tidak penting. Mereka berasumsi bahwa kebohongan adalah
suatu yang wajar bukan sebuah dosa.
Definisi Jujur
Jujur adalah lawan dari dusta.1 Al-Imam ar-Roghib al-Ashfahani rohimaullah berkata, “Jujur adalah kesesuaian ucapan dengan apa yang tersembunyi dan yang akan dikabarkan secara bersamaan. Apabila tidak terpenuhi syarat ini maka bukan sebuah kejujuran.”
Al-Imam al-Jurjani rohimahullah berkata, “Jujur adalah kesesuaian hukum terhadap kenyataan, ini adalah lawan dari berdusta.”
Mahalnya Sebuah Kejujuran
Setiap manusia pasti senang dengan kejujuran, keadilan, perbuatan baik, akhlak mulia, dan lain-lain dari perkara yang baik. Sebaliknya, semua orang juga membenci perbuatan dusta, zalim, akhlak buruk, dan sebagainya. Dua hal ini adalah fitrah yang telah Alloh tanamkan dalam diri setiap manusia, tidak bisa ditolak dan diingkari.
Di antara sifat terpuji yang banyak dilalaikan oleh mayoritas manusia adalah sifat jujur. Kejujuran pada zaman sekarang terasa begitu mahal. Orang yang hendak berbuat jujur selalu kalah, dikatakan sok suci, bahkan dikucilkan oleh teman-temannya.
Tentu ini adalah bentuk pemerosotan nilai keimanan yang sangat nyata. Tatkala zaman semakin jelek, manusia semakin jauh dari bimbingan wahyu, maka berbuat jujur adalah sebuah tantangan dan ujian bagi orang-orang beriman untuk tetap konsisten dan tegar dalam memegang panji kejujuran walaupun orang menilainya sebagai sikap yang bodoh dan ketinggalan zaman. Kita tidak perlu mempedulikan penilaian orang tersebut karena prinsip kita adalah berpegang teguh dengan apa yang dikatakan oleh Alloh dan Rosul bukan berpegang dengan apa kata kebanyakan orang!
Alloh berfirman:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّه ِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Alloh). (QS. al-An’am [6]: 116)
Dan sungguh benar sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam yang menggambarkan perihal manusia zaman sekarang yang serba terbalik dalam sabda beliau yang berbunyi:
“Akan datang pada manusia tahun-tahun yang menipu. Orang yang dusta dibenarkan, orang yang jujur didustakan. Orang yang khianat diberi amanat, orang yang amanat dianggap khianat. Dan orang-orang Ruwaibidhoh berani bicara.” Ada yang bertanya, “Siapa Ruwaibidhoh itu?” Beliau menjawab, “Dia adalah orang bodoh yang berbicara tentang urusan orang banyak.”
Pendorong Berbuat Jujur
Al-Imam al-Mawardi rohimahullah menyimpulkan bahwa perbuatan jujur dilatarbelakangi beberapa sebab, di antaranya:
Pertama: Akal. Akalnya menyadari akan jeleknya perbuatan dusta.
Kedua: Sisi agama. Artinya, dia memahami dengan baik wajibnya berbuat jujur dan ancaman bahaya perbuatan dusta. Dan Alloh tidak mensyari’atkan kecuali semua kebaikan.
Ketiga: Kehormatan diri, karena demi menjaga harga diri dan kehormatan akan mencegahnya berbuat dusta dan mendorong berbuat jujur.
Keempat: Cinta popularitas agar dikenal sebagai orang yang jujur.
Tentu sebab pertama dan yang kedualah yang dibenarkan, agar perbuatan jujur yang kita lakukan berbuah pahala di sisi Alloh.
Kakangku Abu Iram Al-Atsary
Definisi Jujur
Jujur adalah lawan dari dusta.1 Al-Imam ar-Roghib al-Ashfahani rohimaullah berkata, “Jujur adalah kesesuaian ucapan dengan apa yang tersembunyi dan yang akan dikabarkan secara bersamaan. Apabila tidak terpenuhi syarat ini maka bukan sebuah kejujuran.”
Al-Imam al-Jurjani rohimahullah berkata, “Jujur adalah kesesuaian hukum terhadap kenyataan, ini adalah lawan dari berdusta.”
Mahalnya Sebuah Kejujuran
Setiap manusia pasti senang dengan kejujuran, keadilan, perbuatan baik, akhlak mulia, dan lain-lain dari perkara yang baik. Sebaliknya, semua orang juga membenci perbuatan dusta, zalim, akhlak buruk, dan sebagainya. Dua hal ini adalah fitrah yang telah Alloh tanamkan dalam diri setiap manusia, tidak bisa ditolak dan diingkari.
Di antara sifat terpuji yang banyak dilalaikan oleh mayoritas manusia adalah sifat jujur. Kejujuran pada zaman sekarang terasa begitu mahal. Orang yang hendak berbuat jujur selalu kalah, dikatakan sok suci, bahkan dikucilkan oleh teman-temannya.
Tentu ini adalah bentuk pemerosotan nilai keimanan yang sangat nyata. Tatkala zaman semakin jelek, manusia semakin jauh dari bimbingan wahyu, maka berbuat jujur adalah sebuah tantangan dan ujian bagi orang-orang beriman untuk tetap konsisten dan tegar dalam memegang panji kejujuran walaupun orang menilainya sebagai sikap yang bodoh dan ketinggalan zaman. Kita tidak perlu mempedulikan penilaian orang tersebut karena prinsip kita adalah berpegang teguh dengan apa yang dikatakan oleh Alloh dan Rosul bukan berpegang dengan apa kata kebanyakan orang!
Alloh berfirman:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّه ِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Alloh). (QS. al-An’am [6]: 116)
Dan sungguh benar sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam yang menggambarkan perihal manusia zaman sekarang yang serba terbalik dalam sabda beliau yang berbunyi:
“Akan datang pada manusia tahun-tahun yang menipu. Orang yang dusta dibenarkan, orang yang jujur didustakan. Orang yang khianat diberi amanat, orang yang amanat dianggap khianat. Dan orang-orang Ruwaibidhoh berani bicara.” Ada yang bertanya, “Siapa Ruwaibidhoh itu?” Beliau menjawab, “Dia adalah orang bodoh yang berbicara tentang urusan orang banyak.”
Pendorong Berbuat Jujur
Al-Imam al-Mawardi rohimahullah menyimpulkan bahwa perbuatan jujur dilatarbelakangi beberapa sebab, di antaranya:
Pertama: Akal. Akalnya menyadari akan jeleknya perbuatan dusta.
Kedua: Sisi agama. Artinya, dia memahami dengan baik wajibnya berbuat jujur dan ancaman bahaya perbuatan dusta. Dan Alloh tidak mensyari’atkan kecuali semua kebaikan.
Ketiga: Kehormatan diri, karena demi menjaga harga diri dan kehormatan akan mencegahnya berbuat dusta dan mendorong berbuat jujur.
Keempat: Cinta popularitas agar dikenal sebagai orang yang jujur.
Tentu sebab pertama dan yang kedualah yang dibenarkan, agar perbuatan jujur yang kita lakukan berbuah pahala di sisi Alloh.
Kakangku Abu Iram Al-Atsary
Tujuan Pernikahan Dalam Islam
1. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi
Di tulisan terdahulu [bagian kedua] kami sebutkan bahwa perkawinan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang perkawinan), bukan dengan cara yang amat kotor menjijikan seperti cara-cara orang sekarang ini dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.
2. Untuk Membentengi Ahlak Yang Luhur
Sasaran utama dari disyari'atkannya perkawinan dalam Islam di antaranya ialah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat manusia yang luhur. Islam memandang perkawinan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efefktif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
a. Harus Kafa'ah
b. Shalihah
a. Kafa'ah Menurut Konsep Islam
Pengaruh materialisme telah banyak menimpa orang tua. Tidak sedikit zaman sekarang ini orang tua yang memiliki pemikiran, bahwa di dalam mencari calon jodoh putra-putrinya, selalu mempertimbangkan keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja. Sementara pertimbangan agama kurang mendapat perhatian. Masalah Kufu' (sederajat, sepadan) hanya diukur lewat materi saja.
Menurut Islam, Kafa'ah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam perkawinan, dipandang sangat penting karena dengan adanya kesamaan antara kedua suami istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami inysa Allah akan terwujud. Tetapi kafa'ah menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta ahlaq seseorang, bukan status sosial, keturunan dan lain-lainnya. Allah memandang sama derajat seseorang baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan dari keduanya melainkan derajat taqwanya (Al-Hujuraat : 13).
Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan dan amal shalih di samping ibadat dan amal-amal shalih yang lain, sampai-sampai menyetubuhi istri-pun termasuk ibadah (sedekah).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
Tentang tujuan perkawinan dalam Islam, Islam juga memandang bahwa pembentukan keluarga itu sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.
Di tulisan terdahulu [bagian kedua] kami sebutkan bahwa perkawinan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang perkawinan), bukan dengan cara yang amat kotor menjijikan seperti cara-cara orang sekarang ini dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.
2. Untuk Membentengi Ahlak Yang Luhur
Sasaran utama dari disyari'atkannya perkawinan dalam Islam di antaranya ialah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat manusia yang luhur. Islam memandang perkawinan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efefktif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya
: Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk
nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan
lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu,
maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi
dirinya". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi,
Nasa'i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).
3. Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami
Dalam
Al-Qur'an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq
(perceraian), jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan
batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah dalam ayat berikut :
"Artinya
: Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi
dengan cara ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal
bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada
mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan
hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran
yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum
Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar
hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang dhalim". (Al-Baqarah :
229).
Yakni
keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syari'at Allah. Dan
dibenarkan rujuk (kembali nikah lagi) bila keduanya sanggup menegakkan
batas-batas Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah
lanjutan ayat di atas :
"Artinya
: Kemudian jika si suami menthalaqnya (sesudah thalaq yang kedua),
maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dikawin dengan suami
yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka
tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami yang pertama dan istri) untuk
kawin kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan
hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkannya kepada kaum
yang (mau) mengetahui ". (Al-Baqarah : 230).
Jadi
tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri melaksanakan
syari'at Islam dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga
berdasarkan syari'at Islam adalah WAJIB. Oleh karena itu setiap
muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami, maka
ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan
yang ideal :
a. Harus Kafa'ah
b. Shalihah
Pengaruh materialisme telah banyak menimpa orang tua. Tidak sedikit zaman sekarang ini orang tua yang memiliki pemikiran, bahwa di dalam mencari calon jodoh putra-putrinya, selalu mempertimbangkan keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja. Sementara pertimbangan agama kurang mendapat perhatian. Masalah Kufu' (sederajat, sepadan) hanya diukur lewat materi saja.
Menurut Islam, Kafa'ah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam perkawinan, dipandang sangat penting karena dengan adanya kesamaan antara kedua suami istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami inysa Allah akan terwujud. Tetapi kafa'ah menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta ahlaq seseorang, bukan status sosial, keturunan dan lain-lainnya. Allah memandang sama derajat seseorang baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan dari keduanya melainkan derajat taqwanya (Al-Hujuraat : 13).
"Artinya
: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang
yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang
paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Mengenal". (Al-Hujuraat : 13).
Dan
mereka tetap sekufu' dan tidak ada halangan bagi mereka untuk menikah
satu sama lainnya. Wajib bagi para orang tua, pemuda dan pemudi yang
masih berfaham materialis dan mempertahankan adat istiadat wajib mereka
meninggalkannya dan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang
Shahih. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Artinya
: Wanita dikawini karena empat hal : Karena hartanya, karena
keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah
kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya), sebab kalau tidak
demikian, niscaya kamu akan celaka". (Hadits Shahi Riwayat Bukhari
6:123, Muslim 4:175).
b. Memilih Yang Shalihah
Orang yang mau nikah harus memilih wanita yang shalihah dan wanita harus memilih laki-laki yang shalih.
Menurut Al-Qur'an wanita yang shalihah ialah :
Orang yang mau nikah harus memilih wanita yang shalihah dan wanita harus memilih laki-laki yang shalih.
Menurut Al-Qur'an wanita yang shalihah ialah :
"Artinya
: Wanita yang shalihah ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara
diri bila suami tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara
(mereka)". (An-Nisaa : 34).
Menurut Al-Qur'an dan Al-Hadits yang Shahih di antara ciri-ciri wanita yang shalihah ialah :
"Ta'at
kepada Allah, Ta'at kepada Rasul, Memakai jilbab yang menutup seluruh
auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita
jahiliyah (Al-Ahzab : 32), Tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang
bukan mahram, Ta'at kepada kedua Orang Tua dalam kebaikan, Ta'at kepada
suami dan baik kepada tetangganya dan lain sebagainya".
Bila
kriteria ini dipenuhi Insya Allah rumah tangga yang Islami akan
terwujud. Sebagai tambahan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
menganjurkan untuk memilih wanita yang peranak dan penyayang agar dapat
melahirkan generasi penerus umat.
4. Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan dan amal shalih di samping ibadat dan amal-amal shalih yang lain, sampai-sampai menyetubuhi istri-pun termasuk ibadah (sedekah).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya
: Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah !.
Mendengar sabda Rasulullah para shahabat keheranan dan bertanya :
"Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya
terhadap istrinya akan mendapat pahala ?" Nabi shallallahu alaihi wa
sallam menjawab : "Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami)
bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? Jawab
para shahabat :"Ya, benar". Beliau bersabda lagi : "Begitu pula kalau
mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan
memperoleh pahala !". (Hadits Shahih Riwayat Muslim 3:82, Ahmad
5:1167-168 dan Nasa'i dengan sanad yang Shahih).
5. Untuk Mencari Keturunan Yang Shalih
Tujuan perkawinan di antaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam, Allah berfirman :
"Artinya
: Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri
dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan
cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka
beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?". (An-Nahl :
72).
Dan
yang terpenting lagi dalam perkawinan bukan hanya sekedar memperoleh
anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas,
yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah.
Tentunya
keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan
Islam yang benar. Kita sebutkan demikian karena banyak "Lembaga
Pendidikan Islam", tetapi isi dan caranya tidak Islami. Sehingga banyak
kita lihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami,
diakibatkan karena pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri
bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke
jalan yang benar. Tentang tujuan perkawinan dalam Islam, Islam juga memandang bahwa pembentukan keluarga itu sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.
Langganan:
Postingan (Atom)